MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Babak Belur


__ADS_3

Buk ....


Plak ....


Bruk ....


Damien memukuli Aldo secara membabi buta. Gerakannya yang secara bertubi-tubi dan juga begitu cepat membuat Aldo tidak sempat menghindar apalagi menepis setiap serangan yang dilayangkan oleh Damien sahabatnya sendiri.


"Kurang ajar kamu, brengsek. Berani-beraninya kamu menyentuh Silvia, haaaah ..." Teriak Damien murka melemparkan tubuh Aldo yang sudah bersimbah darah.


"Hahaha ... Dia memang pacar kamu tapi, dia belum menjadi istri kamu, Damien. Jadi, dia masih bisa menjadi milik siapapun sebelum janur kuning melengkung," jawab Aldo mencoba untuk berdiri meskipun tubuhnya terasa remuk.


"Dasar sialan, masih kurang cukup pelajaran yang aku kasih ternyata. Sini kamu brengsek ..."


"Cukup, Damien. Cukup, sayang." Teriak Silvia memeluk kekasihnya dari arah belakang.


"Lepasin aku, Via. Aku gak tau kalau ternyata selama ini aku punya sahabat bajingan kayak dia," Damien melepaskan lingkaran tangan kekasihnya lalu kembali menerkam Aldo yang semula telah berdiri tegak kini seketika kembali tersungkur.


"Argh ... A-awas kamu, Dam-ien. Aku bakalan laporin kamu ke kantor polisi atas tindakan penganiayaan," teriak Aldo tubuhnya benar-benar tidak berdaya.


"Silahkan, aku sama sekali gak takut dengan ancaman kamu. Aku juga bisa laporin kamu atas tuduhan pelecahan s*ksual,'' jawab Damien tidak mau kalah.


Andai saja Silvia tidak mencegah dan kembali memeluk kekasihnya itu, mungkin Aldo akan benar-benar tewas di tangan Damien, dan Silvia tahu betul akan hal itu. Jika seseorang telah gelap mata dan di bakar api cemburu maka apapun akan dilakukan oleh orang tersebut.


Silvia tidak ingin kekasihnya berakhir di balik jeruji besi karena amarahnya yang tidak terbendung. Silvia pun menangis seraya melingkarkan kuat kedua tangannya di perut kekasihnya itu.


"Aku mohon cukup, sayang. Aku gak mau kamu dipenjara, gimana nasib aku kalau kamu masuk penjara, hiks hiks hiks ...'' lirih Silvia mencoba menenangkan Damien.

__ADS_1


Damien yang memang tidak bisa melihat ataupun mendengar suara tangisan wanita yang dicintainya itu pun seketika memejamkan mata seraya mendongakkan kepalanya, menekan emosi yang sebenarnya belum semuanya terlampiaskan.


Pemuda itupun mengusap lembut punggung tangan Silvia, setelah itu dia memutar tubuhnya lalu balas memeluk Silvia erat dan penuh penyesalan.


"Maafkan aku, Via. Maaf karena aku pergi tanpa pamit, maaf juga karena seharusnya aku gak pernah ninggalin kamu sendirian di sini." Lirih Damien mendekap erat tubuh kekasihnya.


"Kamu jahat, Dam. Padahal semalam kita masih ketemu, tapi kenapa kamu gak bilang apapun, apa kamu tau betapa aku sangat terkejut saat tau bahwa kamu udah pindah, hah?" Jawab Silvia memukul pelan punggung kekasihnya.


"Iya, sayang. Aku benar-benar minta maaf."


Aldo yang menyaksikan pemandangan yang begitu memuakkan di matanya itu pun hanya bisa tersenyum menyeringai. Dia berdiri lalu menatap keduanya dengan tatapan penuh dengan rasa dendam.


Wajah Aldo terlihat penuh dengan luka lebam. Dengan darah segar yang menetes dari hidung dan juga bagian wajah lainnya. Rasa perih dia rasakan di seluruh seluruh bagian wajahnya. Tidak hanya itu saja, bagian tubuh lainnya pun terasa sakit karena bukan hanya wajah saja yang menjadi sasaran empuk Damien tapi bagian tubuh lainnya juga.


"Hahaha ... Silahkan peluk-pelukan sepuas kalian sebelum kamu masuk penjara Damien, karena aku serius bakalan laporin kamu ke kantor polisi sekarang juga," teriak Aldo tersenyum menyeringai.


Aldo pun seketika segera berlari keluar dari dalam rumah tersebut, matanya tetap saja menatap dengan penuh rasa dendam dan juga kebencian ke arah Silvia dan juga Damien.


"Tunggu pembalasan aku, kalian berdua." Teriak Aldo seraya berlari keluar dari dalam rumah.


"Heuh, dasar tidak tau diri." Gumam Silvia menatap tubuh Aldo yang kian menjauh sampai benar-benar tidak terlihat lagi.


"Sayang, kamu baik-baik aja 'kan? Si brengsek itu gak sempat ngapa-ngapain kamu 'kan? Dia gak sempat anu-anu kamu 'kan?" Tanya Damien memutar dan memeriksa tubuh Silvia.


"Hahaha ... Tenang aja, sayang. Dia gak sempat anu-anu aku ko. Malahan tadi anunya dia yang aku tendang."


"Hah? Serius ...?"

__ADS_1


"Iya, si Aldo sialan itu sampai meringis kesakitan. Hahaha ..."


"Astaga, kamu itu memang benar-benar hebat, sayang. Bagus ... Memang kalau ada laki-laki yang mau berbuat macam-macam sama kamu, jurus paling ampuh ya itu, tendang kuat bagian anunya, di jamin laki-laki itu gak bakalan berani macam-macam lagi.''


"Iya dong. Dia pikir aku ini siapa? Udah ngaku-ngaku jadi pacar aku, berani macam-macam lagi. Kurang ajar," jawab Silvia dengan suara lantang dan penuh percaya diri.


"Hmm ... I love you Miss Billionaire ku."


"I love you too pangeran berkuda ku."


Keduanya pun saling menatap satu sama lain, saling melemparkan senyuman lalu keduanya pun saling mendekatkan wajah masing pelan tapi pasti sampai bibir mereka akhirnya saling bersentuhan.


Ciu*an panas pun seketika tercipta. Damien meletakan tangannya di pinggang ramping kekasihnya, sementara Silvia melingkarkan kedua tangannya di leher Damien seraya meni*mati setiap sent*han hangat bibir kekasihnya.


Silvia bahkan membalas setiap lu*atan ber*airah yang dilayangkan oleh Damien sang kekasih. Damien pun berjalan maju membuat Via sontak berjalan mundur seiringan dengan langkah kaki Damien sehingga dia pun bersandar tembok kini.


Ciu*an berlangsung semakin panas. Kerinduan, rasa kecewa dan juga perasaan cinta seolah melebur menjadi satu. Mereka pun saling memutar kepala seraya menyisir bibir masing-masing.


Saat gair*h mereka benar-benar sedang naik-naiknya, saat ci*man yang mereka lakukan semakin panas dengan tangan Damien yang mulai menyisir setiap jengkal raga Silvia, tiba-tiba saja keduanya dikejutkan dengan suara bel di pintu yang berbunyi begitu nyaring membuat mereka seketika melepaskan tautan bibir masing-masing dengan perasaan kesal.


"Siapa sih, ganggu aja?" Gumam Silvia kesal dan mengurai jarak.


"Tunggu sebentar, aku lihat dulu siapa yang datang." Ucap Damien berjalan ke arah pintu dan diikuti oleh Silvia dibelakang.


Cekrek ....


Pintu rumah pun di buka, baik Silvia maupun Damien merasa terkejut seketika, karena tiga orang polisi berdiri di depan pintu bersama Aldo dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2