MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Sudah Sembuh?


__ADS_3

Ceklek ...


Silvia membuka pintu kamar mandi, dan dia pun mendapati Damien masih berada di depan pintu dengan setia menunggu dirinya, entah mengapa hatinya merasa sedikit berbunga-bunga kini, senyum kecil pun nampak mengembang dari kedua sisi bibir mungil Silvia.


"Udah?" Tanya Damien dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Via.


Setelah itu, Damien pun kembali meraih tubuh Via membawanya ke dalam gendongan seperti semula. Mata mereka pun saling beradu kini dalam posisi wajah yang sangat dekat membuat jantung keduanya berdetak kencang dengan hati yang berbunga-bunga.


Kemudian Damien pun mulai berjalan ke arah ranjang, masih dengan mata yang menatap wajah cantik Via yang kini pucat pasi tapi masih saja terlihat begitu mempesona di mata Damien.


"Apa yang kamu lakukan, Dam? Beraninya kamu gendong-gendong pacar aku?'' tiba-tiba terdengar suara Aldo bernada kesal yang baru saja terbangun baru tidurnya.


"Silvia habis pipis tadi?"Jawab Damien datar.


"Pipis?"


Silvia menganggukkan kepalanya, masih di dalam gendongan Damien.


Wajah Aldo seketika nampak begitu kesal, wajahnya memerah merasakan sesuatu yang panas di dalam sana, merasa cemburu.


Pelan tapi pasti, Damien pun mulai menurunkan Via di atas ranjang dengan sangat hati-hati.


"Eh, jangan pegang-pegang pacar aku ya," pinta Aldo masih dengan nada kesal.


"Pacar apaan, kamu kan cuma--" Damien tidak meneruskan ucapannya.


"Cuma apa?"


"Nggak ko, gak apa-apa, lupain aja. Kalau kamu butuh sesuatu bilang aja sama aku." Pinta Damien naik kembali ke atas ranjang miliknya.


"Eh, aku ada di sini ya, kenapa dia harus minta tolong sama kamu? Via, aku pacar kamu, kalau kamu butuh apapun, jangan sungkan minta tolong sama aku ya?" Pinta Aldo menatap Damien kesal lalu mengalihkan pandangannya ke arah Silvia mesra.


"Kamu beneran pacar aku?"


Aldo menganggukkan kepalanya.


"Aneh?"


"Apanya yang aneh?"


"Kalau emang kamu pacar aku, seharusnya aku merasakan getaran cinta, atau setidaknya ada perasaan yang tersisa meskipun aku amnesia," ucap Via polos membuat Damien terkekeh.


"Ya ... Ya ... Itu karena kamu lagi hilang ingatan, nanti kalau ingatan kamu kembali, aku yakin perasaan kamu juga bakalan balik," Aldo menjawab sedikit terbata-bata.

__ADS_1


"Kamu yakin? Ha ... Ha ... Ha ..." Damien menertawakan.


"Kamu ...? Hiiiih ... Awas aja ya kalau kamu berani pegang-pegang pacar aku lagi, sebagai pacarnya Silvia, aku mengharamkan kamu buat menyentuh dia," Aldo dengan penuh percaya diri.


"Lebay ..." Jawab Damien datar.


"Udah cukup, kalian jangan kayak gini, aku pusing liatnya."


Aldo dan Damien pun terdiam seketika.


Ceklek ....


Pintu ruangan pun di buka tanpa di ketuk, Lusiana dan Mika masuk ke dalam ruangan menatap ke arah Damien dan Aldo secara bergantian.


"Kalian masih aja berdebat ya?" Ucap Lusi berjalan mendekat ke arah putranya.


"Kalian lagi rebutin apaan si? Gak biasanya kalian kayak gini?" Tanya Mika berdiri di tengah-tengah di antara ranjang Damien dan juga Silvia.


"Aku juga gak tau, Tante. Mereka berdua tuh, ngomongnya ngaco aja, aku aja gak ngerti mereka lagi rebutin apaan." Jawab Via datar.


"Dia duluan tuh, orang dia cuma pacar boo--" Damien tidak meneruskan ucapannya.


"Udah-udah, gak usah di bahas lagi. Damien, kata Dokter kamu udah boleh pulang, keadaan kamu udah membaik."


"Bohong, Tante. Dia udah sehat ko, bawa aja dia pulang," ucap Aldo memanfaatkan situasi.


"Diam kamu," bentak Damien kesal.


"Astaga, kalian ini. Masih aja ya." Lusi mengusap wajahnya kasar.


"Silvia, gimana keadaan kamu? Udah enakkan?" Tanya Mika menatap lembut wajah Silvia.


"Badan aku masih lemas, Tante. Kepala aku juga masih agak pusing," jawab Silvia sedikit meringis.


"Tante sudah bilang sama Dokter untuk ngasih pengobatan yang terbaik buat kamu, dan Tante yakin kamu bakalan segera sembuh dan bisa pulang ke rumah kita."


Silvia menganggukkan kepalanya dengan sedikit tersenyum.


♥️♥️


Sementara itu, jauh di sana dikediaman Dona. Wanita berusia 42 tahun itu nampak masih berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


Sudah selama satu minggu ini Dona merasa badannya tidak sedang baik-baik saja, begitupun dengan hatinya yang saat ini sedang memendam kerinduan yang teramat dalam terhadap putrinya yang saat ini tinggal jauh di sana.

__ADS_1


Entah mengapa, Dona merasakan kegundahan yang sudah selama satu Minggu ini terasa menggerogoti hati dan bahkan jiwanya, membuat wanita berparas cantik itu tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan apapun, bahkan dia menolak beberapa pelanggan yang ingin menggunakan jasanya.


Apakah karena Dona begitu merindukan putranya? Atau, apakah dia merasa kesepian tinggal di rumah itu tanpa ditemani sang putri yang menolak untuk pulang dan lebih memilih tinggal di sana, di rumah mewah berlantai empat peninggalan mendiang Richard, yang merupakan ayah kandung Silvia sang putri.


Akh ....


Entahlah, Dona sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa, jauh di sana putrinya yang bernama Silvia dalam keadaan kesakitan dan bahkan Amnesia.


Tok ... Tok ... Tok ....


Lamunan Dona buyar seketika saat mendengar suara pintu rumahnya diketuk keras.


"Ya Tuhan, sudah aku bilang, aku lagi gak berselera buat melayani pelanggan, mereka masih saja datang," Gerutu Dona bangkit lalu turun dari atas ranjang.


Dia pun berjalan keluar dari dalam kamar lalu membuka pintu rumahnya.


Ceklek .... ( Suara pintu yang dibuka )


"Sudah saya bil--" Dona tidak meneruskan ucapannya, karena yang datang bukanlah laki-laki hidung belang yang biasa menggunakan jasanya, melainkan Daniel dan juga Ridwan.


"Selamat siang, Dona." Sapa Ridwan lembut dan sopan.


"Se-selamat siang, ada perlu apa kalian jauh-jauh datang kemari? Silvia mana? Apa dia pulang ke sini sama kalian?"


"Hmm ... Boleh kami masuk dulu?" Pinta Daniel yang masih berdiri di depan pintu.


"Oh iya maaf, silahkan masuk."


Daniel dan Ridwan pun masuk ke dalam rumah, menatap sekeliling rumah sederhana yang merupakan tempat tinggal Silvia sebelum gadis itu pindah ke rumah besar milik Richard.


"Silahkan duduk." Pinta Dona dengan wajah datar.


"Begini, Dona. Kami datang ke sini untuk--" Ridwan tidak meneruskan ucapannya karena Dona seketika menyela.


"Ada apa dengan putri saya? Apa dia baik-baik aja? Via gak sakit 'kan?" Tanya Dona membuat Ridwan dan juga Daniel seketika saling menatap satu sama lain.


"Hmm ... Sebenarnya, kami datang ke sini untuk menjemput kamu, Dona."


"Hah ... Menjemput? Apa terjadi sesuatu sama Silvia?" Dona dengan wajah cemasnya.


"Silvia mengalami kecelakaan, dan sekarang dia dalam keadaan hilang ingatan," jelas Daniel menatap lekat wajah Dona, membuat Dona terkejut bukan kepalang.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2