
Damien akhirnya menceritakan semua yang dia tahu tentang kekasihnya. Dari A sampai Z mengenai kehidupan gadis itu sebelum dia hilang ingatan. Dia terpaksa melakukan hal itu karena tidak ingin melihat Via gadis gang begitu dia cintai saat ini merasa sedih berkepanjangan yang akan membuat kesehatannya kembali menurun nantinya.
Sementara itu, buliran air mata nampak mengalir begitu derasnya kini. Betapa hati setia Silvia merasa begitu terpukul mendengar semua yang diceritakan olah Damien. Jadi, seperti itu kehidupan yang dia jalani. Lahir dari seorang ibu yang merupakan seorang penghibur.
Lahir di luar nikah dan ditinggalkan oleh ayah kandungnya dari semenjak dirinya masih berada di dalam kandungan. Satu lagi, rumah besar dan harta yang saat ini dia nikmati adalah peninggalan mendiang ayah kandung yang saat ini telah tiada.
Betapa hati seorang Silvia benar-benar syok dan masih belum bisa mencerna semua yang diceritakan oleh Damien. Dia sendiri tidak tau apakah dia bisa tegar setelah mendengar semua itu. Silvia juga tidak tau apakah dirinya masih akan tetap percaya diri berada di sisi pemuda yang saat ini menggenggam jemari tangannya erat memberinya kekuatan.
"Sayang? Kamu baik-baik aja?" Tanya Damien menatap lekat wajah Silvia yang kini terlihat begitu murung.
"Nggak, aku gak baik-baik aja," jawabnya dengan suara lemah.
Damien pun memeluk tubuh Silvia. Membawanya ke dalam dekapan hangat dada bidangnya dan mendekap erat tubuh gadis yang sangat dicintainya itu.
"Aku gak nyangka kalau ternyata kehidupan aku sangat mengenaskan, Dam." Lirih Via dengan buliran air mata yang membasahi pipinya kini.
"Kata siapa hidup kamu mengenaskan?"
"Bukankah kenyataannya emang kayak gitu?"
"Nggak sayang. Kamu itu Miss Billionaire, dan kamu selalu membanggakan hal itu sama aku. Kamu itu gadis kaya raya yang ceria, biarkan semua yang terjadi di masa lalu menjadi kenangan pahit yang udah kamu lupakan. Kamu cukup tau ceritanya aja tapi, kamu gak boleh larut dalam kesedihan kayak gini. Ada aku yang akan selalu menemani kamu, sayang.'' Lirih Damien lembut dan penuh kasih sayang.
"Tapi, Dam. Apa kamu gak malu pacaran sama aku? Aku ini cuma--" Via tidak meneruskan ucapannya mengurai pelukan lalu menatap wajah pemuda yang dicintainya itu.
"Malu? Kenapa aku harus malu? Aku cinta sama kamu Via, aku sayang sama kmu. Aku gak peduli kamu lahir dari rahim siapapun, meskipun begitu dia tetap ibumu dan setiap anak gak bisa memilih dari rahim siapa dia ingin dilahirkan. Jadi, kamu jangan pernah merasa kecil hati, kamu itu gadis kuat.''
"Makasih, sayang. Aku benar-benar berterima kasih karena kamu udah mengatakan hal itu. Aku juga cinta sama kamu, aku sayang sama kamu." Jawab Silvia mengusap lembut kedua pipi Damien seraya menatap bola mata pemuda itu.
__ADS_1
Keduanya pun kembali saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain. Silvia nampak melingkarkan kedua tangannya di punggung Damien, sementara itu, Damien pun memeluk erat tubuh Silvia lalu mengecup pucuk kepalanya lembut.
Ada dua hal yang Damien lupakan. Dia sama sekali tidak menceritakan prihal hubungan Silvia dengan Aldo yang hanya sebuah kebohongan. Satu lagi, Damien belum sempat menceritakan bahwa dirinya akan segara pindah dari rumah besar yang saat ini mereka tinggali bersama. Dia merasa, kedua hal itu belum tepat dia ceritakan sekarang tapi, Damien berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan segera menceritakan kedua hal itu nanti juka waktunya sudah tepat.
"Kita makan dulu yu, kamu pasti lapar?" Tanya Damien mengurai pelukan.
"Aku gak lapar sama sekali."
"Kenapa? Kamu harus tetep makan meskipun kamu gak lapar lho. Aku gak mau kalau kamu sampai sakit lagi."
"Hmm ... Baiklah aku akan makan."
"Oke, aku akan membawa kamu ke Restoran mahal dan enak yang biasa aku kunjungi, gimana?"
Silvia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
♥️♥️
"Kamu mau makan apa, sayang?" Tanya Damien membuka setiap lembar buku menu tersebut.
"Hmm ... Entahlah, nama menu makanan di buku ini semuanya terlihat asing." Jawab Via matanya masih membaca setiap tulisan di setiap lembar.
"Mau aku yang pilihkan?"
Silvia menganggukkan kepalanya lalu menutup buku menu makanan tersebut.
"Oke, aku pilihkan kamu makanan paling enak dan paling mahal yang ada di Restoran ini."
__ADS_1
Silvia kembali menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menatap wajah tampan kekasihnya itu.
"Mbak ..." Damien mengangkat tangannya ke udara memanggil pelayan Restoran.
Pelayan tersebut pun segera menghampiri dengan membawa catatan kecil yang akan mencatat makanan yang akan dipesan oleh Damien.
"Selamat siang, Tuan. Mau pesan makanan apa?" Tanya pelayanan tersebut ramah.
"Saya pesan dua porsi Foie gras, minumannya es jeruk sama teh hangat ya, Mbak." Jawab Damien menutup buku menu makanan.
"Baik, Tuan. Tunggu sebentar ya, pesanan anda akan segera kami siapkan," jawab pelayan itu mencatat pesanan Damien dan tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan meja dimana Damien berada.
"Nama makanannya aneh,'' gumam Via dengan polosnya.
"Apa kamu baru denger nama makanan itu?"
Silvia menganggukkan kepalanya.
"Itu makanan paling enak di sini, itu juga makanan yang lagi viral di media sosial. Cobain deh, kamu pasti suka."
"O ya? Aku sama sekali gak punya sosial media."
"Kalau kamu mau, nanti aku buatkan deh."
Silvia tersenyum senang seraya menganggukkan kepalanya.
"Hey, lagi apa kalian berduaan di sini?" Tiba-tiba terdengar suara yang sangat mereka kenal, suara itu menggema di seisi ruangan membuat semua pengunjung yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara begitupun dengan Damien dan juga Silvia.
__ADS_1
"Aldo?" Gumam Via dan juga Damien secara bersamaan merasa terkejut.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️