
"Om serius?" Tanya Silvia menatap lekat wajah Ridwan.
"Tentu saja. Om cinta sama ibu kamu, Om harap kamu mau merestui hubungan kami berdua," jawab Ridwan penuh percaya diri meraih pergelangan tangan Dona dan menggenggam berat jemarinya.
"Hmm ... Gimana ya, Om. Sebenarnya si aku seneng banget karena Mommy akan punya seorang pendamping tapi, aku butuh bukti kalau Om emang benar-benar cinta sama Mommy," tegas Silvia penuh penekanan.
"Hahaha ... Jadi kamu masih belum percaya sama Om?"
"Ya ... anggap aja kayak gitu, lagian Om juga belum lama ketemu sama Mommy. Jadi wajar dong kalau aku belum bisa percaya sepenuhnya sama Om." Tegas Via lagi membuat Ridwan tersenyum begitupun dengan Dona yang kini terlihat sangat bahagia.
'Kamu udah benar-benar kembali, Via. Silvia yang ceria dan banyak bicara sudah benar-benar kembali. Silvia'nya Mommy,' (batin Dona)
"Hmm ... Baiklah, katakan sama Om. Apa yang harus Om lakukan agar kamu percaya kalau Om gak main-main dan serius sama Mommy kamu? Satu lagi, Om juga cinta sama Mommy kamu yang cantik ini," ucap Ridwan dengan bersungguh-sungguh.
"Oke, nanti aku pikirkan lagi apa yang harus Om lakukan. Sekarang aku lelah banget. Sayang ... Bawa aku ke lantai empat ya." Rengek Silvia dengan begitu polosnya memanggil Damien dengan panggilan sayang.
"Hmm ... Tante, boleh saya menggendong Via ke kamarnya?''
"Boleh dong. Antar'kan Via dengan selamat sampai ke lantai 4 ya." Jawab Dona tersenyum ramah.
"Makasih, Tante." Jawab Damien tanpa berfikir panjang langsung membawa tubuh Silvia ke dalam pangkuannya lalu berjalan keluar dari dalam kamar menuju lantai empat dimana kamar Sivia berada.
❤️❤️
Tut ....
Pintu lift pun terbuka, Damien dengan menggendong Silvia di dalam pangkuannya mulai keluar dari dalam lift. Silvia pun nampak tersenyum genit di dalam pangkuan kekasihnya. Matanya menatap lekat wajah Damien yang saat ini berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Jangan diliatin kayak gitu, aku tau kalau aku emang tampan," ucap Damien matanya lurus menatap ke depan.
"Emang iya. Wajah kamu tampan, songong. Gimana ceritanya kita ujug-ujug pacaran kayak gini?"
__ADS_1
"Kan kamu sendiri yang nembak aku duluan.''
"Masa sih?! Kapan? Aku lupa tuh,'' Silvia dengan wajah memerah merasa malu, karena saat dirinya hilang ingatan, apa yang dia lakukan benar-benar di luar akal sehatnya yang sesungguhnya.
"Dih, lupa apa pura-pura lupa? Ingatan kamu yang lama aja udah balik, masa ingatan kamu yang baru kemarin ini tiba-tiba aja dilupain,'' jawab Damien tersenyum gemas.
"Tapi aku beneran lupa, Damien."
"Bohong, bilang aja kalau kamu malu."
"Nggak, siapa bilang aku malu."
"O iya, kamu 'kan gak punya malu, hahaha ..."
"Dih, awas kamu ya," ketus Silvia mencubit pipi kekasihnya membuat Damien seketika meringis diiringi dengan suara tawa lepas.
"Argh ... Sakit, sayang ampun, hahaha ..." Tawa Damien tersenyum begitu bahagia.
"Songong, aku cinta sama kamu," ucap Via secara tiba-tiba.
"Iya, aku juga tau."
"Ko jawabannya gitu.''
"Terus, kamu maunya aku jawab apa?"
"Aku cinta kamu juga, gitu kek. Gak ada romantis-romantisnya amat sih jadi pacar,'' ketus Silvia mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha ... Kamu benar-benar telah kembali, Via."
"Hah?"
__ADS_1
"Iya, Sivia bawel yang ceria dan banyak omong udah balik lagi, aku seneng deh. Kamu tau, waktu kamu hilang ingatan itu, kamu tuh kalem banget. Wajah kamu datar, tiap hari ngelamun terus, gak ada ceria-cerianya sama sekali." Ujar Damien, tersenyum senang menatap wajah kekasihnya.
"O ya? Masa sih? Perasaan biasa aja deh."
"Beneran! Tapi, aku lega sekarang, ingatan kamu udah benar-benar balik semua, dan kamu juga gak ngelupain status kita yang udah pacaran."
"Tunggu, nanti kamu antar aku ke rumahnya si Aldo sialan itu ya," geram Sivia secara tiba-tiba terlihat kesal.
"Hah? Mau apa kamu kesana?"
"Mau hajar dia 'lah, apa lagi? Dia udah berani-beraninya cium-cium aku, pake dipaksa segala lagi, kurang ajar. Aku bakalan hajar dia habis-habisan, nanti kamu temenin aku ya, aku takut hilang kendali, nanti si Aldo itu langsung ke kuburan lagi, kalau aku gak ada yang nemenin," ketus Silvia, mengabaikan ekspresi wajah Damien yang saat ini terlihat kesal, terbakar api Cemburu.
"Jadi beneran dia udah ngelecehin kamu? Kurang ajar," teriak Damien dengan nada kesal.
'Aduh, sial. Kenapa aku pake keceplosan segala sih? Bisa-bisa berantem nih anak dua,' (batin Silvia)
"Eu, nggak gitu. Eh ... Maksud aku aku gak sampe di lecehin banget gitu, nggak. Dia cuma cuma berusaha buat cium aku tapi, akunya berontak, bahkan aku juga tendang tuh orang,'' jawab Silvia dengan suara polosnya.
"Udah, kamu diam aja, biar aku yang buat perhitungan sama dia nanti. Berani-beraninya si Aldo itu cium-cium pacar orang. Kurang ajar." Tegas Damien penuh penekanan.
"Tunggu ... Pacar? Damien, aku mau tanya sesuatu sama kamu?"
"Apa? Katakan aja, sayang?"
"Apa maksud kalian semua, bohongi aku dengan bilang kalau si Aldo itu pacar aku, hah?'' tanya Silvia dengan mata yang menatap tajam wajah Damien.
"Eu ... Anu, aku gak bermaksud bohongin kamu tapi--"
"Tapi apa? Kamu tau, aku bener-bener kecewa sama kamu dan juga Aldo. Kalau sama Aldo sih aku gak peduli tapi, sama kamu aku benar-benar kecewa. Tega-teganya kamu bohongin aku,'' tegas Silvia penuh rasa kecewa.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1