
Aldo yang kecewa karena ucapan yang baru saja keluar dari bibir merah Silvia merasa gelap mata, dia merasa tidak terima gadis yang dicintainya itu dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia lebih mencintai Damien daripada dirinya. Aldo mencoba memeluk tubuh Silvia bahkan mencium bibirnya secara paksa membaut Silvia berteriak histeris tidak terima.
"Apa-apaan kamu, Aldo?'' tanya Via membulatkan bola matanya dengan tubuh yang digerakan sedemikian rupa mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan Aldo yang saat ini memeluk tubuhnya erat dengan bibir yang mencoba menciumi dirinya secara membabi buta.
"Aku gak akan melepaskan kamu, Via. Kamu itu milikku dan sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku," tegas Aldo dengan napas yang terdengar memburu menyapu permukaan wajah Silvia membuatnya merasa risih.
"Aku udah bilang, aku gak cinta sama kamu, Aldo. Kita putus seka--" Silvia tidak meneruskan ucapannya karena bibirnya tiba-tiba saja disumpal oleh bibir Aldo membuatnya terasa sesak dan sulit untuk bernapas.
Merasa murka, akhirnya Silvia yang saat ini berada di dalam kungkungan raga kekar Aldo, menendang kuat perut pemuda itu menggunakan lututnya membuat Aldo seketika sedikit terbanting ke belakang.
Silvia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung berdiri dan hendak berlari keluar dari dalam rumah itu namun, Aldo yang benar-benar gelap mata segera menarik pergelangan tangan Silvia namun, gadis itu pun dengan cepat mengangkat satu kakinya dan kembali menendang perut Aldo hingga tangannya pun berhasil terlepas kini.
"Brengsek kamu, Aldo. Aku semakin yakin bahwa, kamu bukanlah kekasih aku. Jika kamu beneran pacar aku, mana mungkin kamu melakukan hal kayak gini. Aku benci sama kamu, kita putus sekarang juga," teriak Silvia berurai air mata.
"Aku minta maaf, Via. Aku khilaf tadi," jawab Aldo berdiri dan hendak menghampiri Silvia.
"Jangan deket-deket, aku jijik di deketin sama kamu. Kamu laki-laki brengsek, hiks hiks hiks ..." Teriaknya lagi lalu berbalik dan meninggalkan Aldo di dalam sana dengan perasaan sesal yang saat ini memenuhi hatinya.
Silvia dengan hati yang hancur karena telah dilecehkan oleh Aldo pun berlari dengan segenap kekuatan yang dia miliki, dia tidak ingin jika laki-laki itu kembali meraih tubuhnya dan memaksanya lagi untuk menerima ci*man brutal yang dilayangkan dengan paksaan.
Tangisnya pun pecah mengiringi langkah kakinya yang saat ini terasa berat untuk digerakkan sebenarnya. Silvia pun akhirnya sampai di depan pintu pagar, matanya nampak menatap jalanan yang membentang panjang tanpa pengendara satupun dan dia sama sekali tidak tau harus pergi ke arah mana saat ini.
__ADS_1
'Damien, aku harus segera menghubungi dia,' (batin Silvia)
Dia pun meraih ponsel dari dalam tas kecil yang saat ini melingkar di bahu sebelah kirinya. Baru saja Silvia hendak menghubungi Damien, tiba-tiba saja sebuah mobil mendekat ke arahnya dan membunyikan klakson membuat gadis itu menoleh ke arah mobil tersebut.
"Damien?" Gumam Silvia merasa senang karena orang yang dia harapkan tiba-tiba datang.
Tangisnya pun semakin pecah seketika saat mobil kekasihnya berhenti tepat di depannya kini. Setalah itu Damien segera keluar dari dalam mobil dengan setengah berlari menghampiri Silvia dengan perasaan khawatir dan merasa heran dengan apa yang telah dilakukan oleh Aldo sehingga membuat kekasihnya menangis seperti ini.
"Via, sayang. Kamu kenapa? Kamu diapain sama si Aldo itu sampai kamu menangis sendirian kayak gini?" Tanya Damien mendekap erat tubuh sang kekasih.
"Bawa aku pergi dari sini, Dam." Jawab Via dengan isakan yang terdengar lirih di telinga.
"Iya, sayang. Kita pergi dari sini, ya." Damien pun mengurai pelukan lalu memapah tubuh Silvia untuk masuk ke dalam mobil.
Pintu mobil pun di buka dan Silvia segera masuk ke dalamnya, wajahnya terlihat pucat pasi dengan pelupuk mata penuh dengan air mata yang sedari terus saja berjatuhan membasahi pipinya. Setelah itu, Damien pun segera berlari ke arah samping lalu masuk ke dalam mobil. Tidak menunggu waktu lama, Damien segera menyalakan mesin dan mobil pun melesat di jalanan meninggalkan kediaman Aldo.
Sebenarnya, ada rasa geram yang kini memenuhi hati seorang Damien dengan beribu tanda tanya yang kini memenuhi otaknya. Apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh Aldo sehingga Silvia menangis seperti ini? Dia yakin bahwa, Aldo telah melakukan hal buruk yang sangat melukai hati Silvia. Atau mungkin ...? Damien mengusap wajahnya kasar berharap bahwa, pikiran kotornya itu hanya sebuah prasangka buruknya saja.
Tidak mungkin Aldo sahabatnya melakukan hal tercela seperti itu. Mana mungkin Aldo yang selalu sesumbar bahwa dia mencintai Silvia dengan sepenuh hati, tega melakukan hal bejat kepada gadisnya itu? Tapi yang pasti, dia akan kembali ke sana, ke rumah sahabatnya itu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Di perjalanan, Silvia nampak diam seribu bahasa. Suara tangisnya memang sudah tidak terdengar lagi namun, buliran air mata itu masih saja berjatuhan dengan begitu deras membuat Damien akhirnya melipir dan menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
"Apa yang udah dilakukan Aldo sama kamu, sampai kamu kayak gini, Via?'' Tanya Damien penuh penekanan.
Silvia hanya terdiam menunduk tidak kuasa mengatakan hal yang sebenarnya.
"Katakan, Via. Kenapa kamu diam saja?"
Silvia masih diam membisu dengan isakan yang mulai terdengar pilu menahan rasa sesak di dadanya.
"Jawab, Via?" Damien menaikan suaranya.
Silvia makin terisak membuat Damien semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk memang tengah dilakukan oleh Aldo.
"Dia gak ngelecehin kamu 'kan?" Tanyanya lagi dengan suara ragu-ragu.
Silvia menangis sejadi-jadinya, dan Damien pun menganggap bahwa itu adalah jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan.
"Brengsek si Aldo, aku akan memberi dia pelajaran," teriak Damien geram lalu mulai menyalakan mobil dan memutar arah.
"Kita mau kemana, Dam?" Tanya Via akhirnya mengeluarkan suara beratnya.
"Aku akan kembali ke sana dan memberikan pelajaran kepada si brengsek itu." Jawab Damien penuh penekanan dan rahang yang dikeraskan menahan rasa geram.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️