
Dengan tergesa-gesa, Daniel dan Mika masuk ke dalam Rumah Sakit tempat dimana putranya berada, mereka berdua segera datang ke sana setelah mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang menimpa putra kesayangannya itu.
Mika, dengan air mata yang terus saja bergulir mengiringi langka kaki yang sebenarnya terasa lemas nampak menggenggam erat jemari suaminya, dengan tangan yang gemetar.
''Suster, saya mencari pasien bernama Damien yang semalam kecelakaan,'' tanya Daniel sesaat setelah sampai di bagian Informasi Rumah Sakit.
''Iya, sebentar Tuan, saya lihat dulu ya,'' jawab Perawat yang berjaga di sana.
''Sayang, putra kita baik-baik aja 'kan? dia gak apa-apa 'kan?'' tanya Mika dengan deraian air mata yang masih saja membasahi wajahnya.
''Kamu tenang dulu ya, sayang. Aku yakin dia akan baik-baik aja.''
''Ya Tuhan, lindungilah putraku hamba,'' lirih Mika mengusap wajahnya kasar.
''Maaf, Tuan. Putra Tuan yang bernama Damien, masih di rawat di ruangan ICU bersama temannya yang bernama Aldo, sementara satu orang lagi yang bernama Sivia, saat ini sedang menjalani operasi,'' ujar sang Perawat membuat Daniel dan Mika terkejut seketika.
''Aldo? Silvia? mereka berdua ada di sini juga?''
''Betul, Tuan. Menurut data di sini, putra Tuan kecelakaan bersama dua teman lainnya, Aldo dan juga Silvia.''
''Astaga, habis dari mana mereka bertiga sampai kecelakaan kayak gini? Ya Tuhan.''
''Silahkan anda jalan lurus ke arah sana, di ujung lorong ada ruangan ICU, putra Tuan ada di sana sekarang,'' ucap Perawat tersebut lagi.
''Baik, suster. Terima Kasih.''
''Sama-sama, Tuan.''
Daniel dan Mika pun segera berjalan menuju ruangan ICU sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh perawat tersebut.
Di Ruangan ICU.
Ceklek ....
Daniel membuka pintu ruangan lalu menatap sekeliling mencari sosok sang putra, begitupun dengan Mika yang masih saja sedikit terisak dengan tangan yang terus saja menggenggam erat jemari Daniel suaminya.
''Papiiiiii ... Mommy ...'' terdengar suara teriakan manja dari arah kiri ruangan, Damien yang saat ini sedang berbaring dengan bagian wajah di tutup perban seketika menangis layaknya anak kecil yang baru saja terjatuh dan merajuk kesakitan.
''Damien putraku sayang,'' jawab Mika segera berlari menghampiri sang putra.
__ADS_1
Tangis Mika pun seketika pecah langsung memeluk sang putra yang saat ini terlihat begitu mengenaskan.
''Mom ... Hiks hiks hiks ...'' rengek Damien menangis di dalam pelukan sang ibu.
''Kenapa wajah kamu jadi kayak gini? pasti sakit banget,'' Mika mengurai pelukan dan menatap wajah Damien dengan tatapan sendu dan mata sayu'nya.
''Mom, Pap. Via mana? apa dia baik-baik aja? aku lihat muka dia penuh dengan darah, dia gak mati 'kan, Mom? dia selamat 'kan, Mom? ini semua gara-gara aku, aku yang salah. Hiks hiks hiks ....''
''Papi belum ketemu sama dia, tapi kata perawat, Silvia lagi di operasi sekarang, itu tandanya dia selamat, kamu gak usah nyalahin diri sendiri kayak gini, sayang. Ini musibah yang gak terduga,'' ucap Daniel mencoba menenangkan sang putra.
''Mudah-mudahan dia bisa selamat, semuanya emang salah aku, hiks hiks hiks ...''
''Daniel, Mika ...? kalian baru datang?'' tiba-tiba terdengar suara Lusiana yang baru saja memasuki ruangan ICU karena Aldo putranya juga berada di sana.
''Lusi? kamu di sini juga?''
''Iya, tuh putra aku kecelakaan bareng putra kamu yang manja ini.'' Ketus Lusi tersenyum sinis.
''Iya, aku minta maaf Lusi, ini semua musibah yang gak terduga. Kamu tau sendiri aku lagi di luar kota buat selesaikan proyek kita di sana,'' jawab Daniel merasa bersalah menatap wajah Lusi.
''Iya aku juga tau. O iya, gadis yang saat ini di lagi di operasi itu siapa? Arman lagi nungguin di depan ruangan operasi, karena gak ada wali, terpaksa kami mengaku sebagai wali gadis itu,'' tanya Lusi mengerutkan keningnya.
''Oh dia? eu ... Dia adik aku.''
''Beneran, dia putrinya Dona, wanita yang dahulu di cari sama aku dan Om Ridwan.''
Lusi tercengang.
''Maksud kamu, dia itu anak dari mendiang Om Richard, begitu?''
Daniel menganggukkan kepalanya.
''Ha ... ha ... ha ... Akhirnya anak itu ketemu juga, ayahmu bisa tenang sekarang,'' tawa Lusi, entah tertawa senang atau tertawa mengejek, hanya dia yang tahu.
''Hmm ... Lusi, gimana keadaan Silvia? apa kata Dokter?'' tanya Mika yang sedari tadi hanya diam saja.
''Kata Dokter, dia mengalami pendarahan di otak dan harus segera dilakukan tindakan operasi, sudah satu jam operasi itu berlangsung,'' jawab Lusi menghampiri Aldo sang putra yang juga ada di ruangan tersebut.
''Lalu putramu, apa dia baik-baik aja?''
__ADS_1
''Dia gak baik-baik aja, Mika. Lihat, wajah tampan putra aku jadi berantakan kayak gini, lagian kalian habis dari mana sih malam-malam gini, hah?'' tanya Lusi sedikit emosi, menatap wajah Damien dan Aldo secara bergantian.
''Eu, anu, Mom ... Semalam kami--'' Aldo tidak meneruskan ucapannya karena Arman sang ayah masuk ke dalam ruangan.
Ceklek ....
''Daniel, Mika, sejak kapan kalian datang?'' tanya Arman berjalan masuk ke dalam ruangan.
''Kami baru aja sampai. O iya, Arman. Gimana, apa operasinya udah selesai?'' tanya Daniel.
''Sudah, baru aja selesai. Dokter ingin bicara sama wali dari gadis itu, apa kamu walinya?''
''O ya? baiklah, aku akan menemui Dokter sekarang,'' jawab Daniel berjalan ke arah luar diikuti oleh Arman kemudian.
''Sayang, aku ikut ya. Aku juga ingin tau keadaan Silvia,'' pinta Mika yang langsung mendapatkan rengekan dari Damien.
''Mom ... Mommy di sini aja, aku jangan di tinggal,'' rengek Damien layaknya anak kecil yang tidak ingin ditinggalkan.
''Kamu di sini aja, temani putra kita,'' jawab Daniel menghentikan langkahnya.
''Baiklah kalau gitu.''
❤️❤️
Di Ruangan Dokter.
Tok ... Tok ...Tok ....
Ceklek ....
Daniel mengetuk dan membuka pintu ruangan dimana Dokter yang menangani Silvia berada, begitupun dengan Arman yang juga mengikuti Daniel ke sana.
''Dokter, saya wali dari pasien yang bernama Silvia.''
''Oh, baik. Silahkan duduk,'' jawab Dokter tersebut ramah dan masih mengenakan seragam berwarna hijau muda yang biasa digunakan untuk operasi.
''Gimana keadaan adik saya, Dokter?''
''Hmm ... Begini, Tuan. Sepertinya, pasien mengalami benturan keras di kepala sehingga mengalami pendarahan, untungnya, pendarahan bisa dihentikan, akan tetapi, keadaan pasien masih mengkhawatirkan, dia masih koma, meskipun operasi yang kami lakukan berhasil.''
__ADS_1
Jawab sang Dokter membuat Daniel dan Arman seketika tercengang. Koma? itu berarti keadaan Silvia benar-benar parah, apa yang harus dia katakan kepada Dona, jika Dona sampai tahu bahwa dirinya gagal menjaga putri kesayangannya itu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️