MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Terpukul


__ADS_3

"Apa aku anak haram?" Lirih Silvia memundurkan langkahnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Damien yang saat ini berada di samping Silvia pun seketika mencengkeram kedua bahu Via kuat tidak ingin melihat tubuh gadis yang dicintainya itu sampai roboh karena baru saja mendengar perkataan ibunya. Dia yang sudah tahu kenyataan itu dari awal nampak tidak terkejut sama sekali, berbeda dengan Via yang saat ini terlihat pucat pasi seolah begitu terpukul dengan apa yang baru didengarnya.


"Tenang, sayang." Lirih Damien mencoba menenangkan.


"Apa selama ini kamu udah tau tentang hal itu?"


Damien terdiam menundukkan kepalanya.


"Kenapa diam aja? Kamu juga tau kalau aku ini anak ha--" tanya Via tidak kuasa meneruskan ucapannya.


"Maaf, aku belum sempat menceritakan semua tentang diri kamu, Via."


"Lepaskan aku, Damien." Pinta Silvia menurunkan kedua telapak tangan Damien dari bahunya.


"Via, sayang.''


Silvia mengabaikan panggilan kekasihnya lalu berbalik dan berlari meninggalkan area pemakaman, tanpa diketahui oleh sang ibu yang juga berada di sana Silvia berlari kencang dengan perasaan hancur dan hati yang begitu terluka.


Damien pun segera menyusul kekasihnya itu dengan berlari kencang, dan karena langkah kakinya lebih lebar dari kedua kaki Sivia dia pun bisa dengan cepat berada di belakang gadis itu lalu memeluk tubuhnya dari arah belakang.


"Sabar, sayang. Aku janji akan menceritakan semua yang aku tau tentang kamu," ucap Damien lembut dan penuh kasih sayang.


"Lepaskan aku, Dam. Aku ingin sendirian sekarang.'' Via dengan sedikit terisak.

__ADS_1


"Aku akan temani kamu, sayang. Kita pergi ke tempat yang tenang dan aku akan menceritakan semua yang aku tau tentang kamu, ya ...?"


Via masih terdiam dengan isakan yang mulai terdengar. Damien memutar tubuh kekasihnya dan mengarahkan tepat berada di hadapannya, dia mengusap lembut kedua sisi pipi Silvia membersihkan buliran air mata yang saat ini membasahi wajah cantik kekasihnya tersebut.


"Dengerin aku, Via. Tatapan wajah aku sekarang juga. Aku gak peduli meskipun kamu anak haram atau anak yang dibuang sama orang tuanya sekalipun aku akan tetap mencintai kamu, sayang. Aku janji gak akan pernah meninggalkan kamu." Damien memeluk tubuh Silvia erat.


"Apa kamu gak mau memuin ibu kamu dulu?'' Tanya Damien lagi lalu mengurai pelukan.


"Nggak, aku ingin pergi dari sini. Bawa aku ke suatu tempat yang tenang."


"Baiklah, kita pergi sekarang," jawab Damien menggenggam erat jemari Silvia lalu berjalan meninggalkan area pemakaman.


♥️♥️


Silvia benar-benar hancur, hatinya begitu terpukul mendengar kenyataan bahwa dirinya adalah seorang anak haram yang itu artinya dirinya adalah anak yang lahir diluar nikah. Anak yang tidak diinginkan keberadaannya dan hal itu benar-benar membuat jiwa seorang Silvia merasa terguncang.


Damien yang saat ini sedang menyetir nampak mengulurkan satu tangannya lalu meraih jemari kekasihnya itu lalu menggenggam erat jemari-nya membuat Via seketika menoleh dan tersenyum kecil menatap wajah Damien.


"Kamu mau bawa aku ke mana?" Tanya Via dengan suara lemah.


"Entahlah, aku masih mencari tempat yang enak dan tenang buat kita bicara."


"Aku ingin ke pantai." Pinta Via datar.


"Pantai?"

__ADS_1


Silvia menganggukkan kepalanya pelan.


"Oke, kita ke pantai sekarang.''


Seketika, Damien langsung menginjak pedal gas dan mobil pun melaju kencang di jalanan.


Sesampainya di pantai.


Deburan ombak terdengar saling bersautan, birunya laut yang juga digulung ombak berwarna putih terlihat begitu indah di pandang, tidak lupa juga langit biru membentang diiringi semilir angin pantai yang membasuh wajah dan rambut Silvia yang kini terurai panjang ikut tersapu angin.


Sepasang kekasih itu kini berdiri tepat di tepi pantang, menatap ke arah laut lepas yang kini terlihat begitu sedap dipandang. Meskipun begitu, hati Silvia masih saja tetap merasakan gelisah yang teramat dalam, kegelisahan yang saat ini begitu menyiksa sehingga membuat dadanya terasa sesak kini.


"Ceritakan semuanya sama ku, Dam. Ceritakan dari A sampai Z apa yang kamu tau tenang aku." Pinta Via menatap lekat wajah kekasihnya itu.


"Sebenarnya aku ingin menceritakan semuanya, Via. Tapi aku takut."


"Takut kenapa?"


"Aku takut kalau kamu belum siap menerima kenyataan, aku takut hati kamu akan semakin terluka saat kamu tau kebenarannya.''


Silvia terdiam menundukkan kepalanya. Dia semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan kehidupannya sebelum dia hilang ingatan dan hal itu justru membuatnya semakin penasaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya.


"Siap gak siap aku harus siap, seperti apapun kenyataanya aku harus tau siapa aku yang sebenarnya. Kalau harus menunggu sampai ingatan aku kembali, aku harus menunggu terlalu lama dan aku gak mau hidup tanpa sebuah ingatan, aku benar-benar merasa bodoh hidup kayak gini hanya kamu satu-satunya harapan aku, Dam." Ucap Silvia penuh harap.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya sama kamu, Via. Aku akan menceritakan semuanya tapi, kamu harus janji satu hal sama aku. Kamu harus kuat dan tegar, semua yang terjadi di dalam hidup kamu adalah takdir yang harus kamu jalani, oke ...?''

__ADS_1


Silvia menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2