MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Pernyataan Cinta Yang Tiba-tiba


__ADS_3

Damien terdiam menatap wajah sang ibu yang saat ini sedang bercermin merapikan pakaian yang dipakainya. Wajahnya terlihat muram dan masam merasa kecewa karena akan segera pindah dari rumah itu, rumah sudah selama lebih dari 20 tahun dia tinggali, terlebih lagi sudah ada Silvia wanita yang dia cintai saat ini membuatnya semakin berat untuk meninggalkan rumah itu.


"Mom, apa boleh aku tinggal di sini? Mommy sama Papi aja yang pindah," rengek Damien seperti biasanya.


"Gak bisa, sayang. Kamu putra satu-satunya Mommy, kamu juga putra kesayangannya Mommy mana boleh tinggal terpisah." Jawab Mika memutar badan menatap wajah sang putra.


"Mom ..." Rengek'nya lagi.


"Lagian, kamu masih bisa datang ke sini kapanpun, sayang. Mommy tau kamu pasti berat meninggalkan Via 'kan?"


Damien terdiam menundukkan kepalanya.


"Sayang, rumah lama kita adalah rumah hadiah yang belikan Papi kamu dahulu. Rumah itu adalah rumah pertama yang di beli Papi'mu dan Mommy sangat senang banget waktu itu."


"Tapi, Mom."


"Gak ada tapi-tapian, pokoknya bulan depan kita pindah, oke?"


Damien terdiam mengerucutkan bibirnya.


♥️♥️


Sementara itu, Ridwan masih berada di lantai empat bersama Dona. Kedua orang itu nampak duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.


"Dona, apa benar Bos Daniel dan istrinya akan pindah dari rumah ini?" tanya Ridwan.


"Aku juga belum tau tapi, itulah yang mereka katakan sama aku waktu di rumah sakit."


"Hmm ... Apa kamu berani tinggal di rumah ini sendirian?"


"Entahlah, rasanya aku masih belum terbiasa tinggal di rumah besar empat lantai kayak gini."


"Hmm ... Kenapa kamu gak nikah aja? Kalau kamu menikah, kamu bakalan punya teman setidaknya kamu gak akan merasa kesepian lagi."


"Menikah? Mana ada pria yang mau menikahi wanita rendahan kayak aku. Aku ini cuma wanita kotor." Jawab Dona menundukkan kepalanya merasa sedih.


"Kalau ada pria yang mau sama kamu, apa kamu siap menerima dan menikah sama dia?"


"Bermimpi pun aku gak berani membayangkan hal itu, aku sadar betul siapa diri aku."


"Dona, setiap orang punya masa lalu. Setiap orang berhak punya kesempatan kedua untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang benar dan tentu saja Tuhan maha penerima Taubat setiap hambanya yang bersungguh-sungguh mau berubah menjadi lebih baik lagi," ucap Ridwan membuat Dona seketika tersentuh.


"Benarkah?"


Ridwan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Aku yakin kalau kamu sebenarnya wanita baik. Kamu terpaksa melakukan pekerjaan kotor itu karena gak ada cara lain agar kamu bisa mencari nafkah untuk menghidupi kamu dan putri kamu 'kan?"


Dona menganggukkan kepalanya menatap wajah Ridwan yang terlihat begitu berkarisma kini.

__ADS_1


"Aku juga tau kalau dulu kamu hanya melayani bos Richard seorang."


"Kamu tau?"


"Tentu saja. Mendingan ayahnya Silvia sudah menceritakan semua tentang kamu sebelum beliau wafat, dan aku juga yang cari kamu kemana-mana waktu itu."


"Maaf karena telah merepotkan kamu, Pak Ridwan."


"Nggak sama sekali, kamu adalah wanita yang diamanatkan oleh mendiang untuk dicari sampai ketemu meski membutuhkan waktu selama 20 tahun tapi, aku senang akhirnya bisa menemukan kamu dan juga putrimu, Dona."


"Terima kasih. Berkat kamu kami bisa ada di sini sekarang, berkat kamu juga Silvia bisa hidup serba berkecukupan sekarang, terutama aku gak usah bekerja kotor lagi buat memenuhi kebutuhan kami berdua. Aku benar-benar berterima kasih kepadamu, Pak Ridwan." Ucap Dona bersungguh-sungguh.


"Gak usah berterima kasih kayak gitu, aku cuma menjalankan amanat terakhir bos Richard. Eu ... Dona. Apa kamu sungguh akan berhenti jadi wanita penghibur?''


Dona menganggukkan kepalanya seraya menatap penuh keyakinan menatap wajah Ridwan.


"Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya."


"Sebenarnya aku lelah menjalani kehidupan kayak gini, aku tau kalau pekerjaan aku itu hina juga haram, aku akan meninggalkan pekerjaan aku itu dan memulai hidup baru di sini. Pak Ridwan, maukah kamu membimbingku dalam menjalani kehidupan aku yang baru?"


Ridwan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kemudian pria itu pun meraih pergelangan tangan Dona dan menggenggam erat jemari-nya.


"Dona, kalau kamu mau. Aku bersedia menikah denganmu. Aku berjanji akan menerima kamu apa adanya." Ucap Ridwan secara tiba-tiba membuat Dona seketika terkejut sekaligus tersentuh.


"Pak Ridwan?" Lirih Dona merasa tidak percaya.


"Anda tidak sedang bercanda 'kan?"


"Tentu saja, aku serius mengatakannya. Apa masih kurang meyakinkan?"


Dona terdiam dengan sedikit tersenyum.


"Baiklah, akan aku ulangi ucapan aku tadi. Dona, maukah kamu menikah denganku? Aku janji akan menerima kamu apa adanya.'' Ridwan mengulangi ucapannya penuh keyakinan.


"Aku masih ngerasa gak percaya kalau masih ada yang Sudi menikah dengan aku. Rasanya--'' Dona tidak meneruskan ucapannya bibirnya terasa kaku kini.


"Jawab dulu pertanyaan aku, Dona."


"Izinkan aku buat berfikir, Pak Ridwan. Aku juga harus minta pendapat Silvia dulu. Hidup aku hidupnya juga, keputusan Via keputusan aku juga jadi, aku harus minta pendapat dia dulu sebelum aku benar-benar bersedia menjadi istrimu," jawab Dona menatap ke arah kamar dimana Silvia tertidur sekarang.


"Baiklah, aku akan menunggu. Aku bakalan menunggu dengan sabar dan akan menerima apapun keputusan kamu, Dona." Jawab Ridwan menggenggam erat jemari Dona.


"Makasih, Pak Ridwan."


"Jangan panggil aku dengan sebutan Pak lagi dong, kedengarannya formal banget tau."


"Lalu, aku harus panggil Pak Ridwan apa?"


"Untuk saat ini, panggil aja aku dengan sebutan Ridwan, kalau kamu udah bersedia menikah dengan aku, baru kamu tambahin Mas di depannya," jawab Ridwan sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Hmm ... Baiklah, Ridwan." Dona pun tersenyum kini dengan hati yang berbunga-bunga.


♥️♥️


Keesokan harinya.


Tut ....


Pintu Lift di lantai empat terbuka. Damien dengan membawa paper bag berwarna coklat keluar dari dalam lift dan menghampiri Silvia yang saat ini sedang duduk di santai dengan menonton Televisi berukuran besar lengkap dengan camilan dan secangkir susu hangat di atas meja.


"Damien?" Sapa Via menatap ke arah Damien dengan tersenyum.


"Gimana keadaan kamu? Apa kamu sudah baik-baik aja sekarang?" Tanya Damien duduk di kursi yang sama.


"Iya, aku udah agak baikan meskipun tubuh aku masih lemes."


"Syukurlah, aku senang dengernya."


"O iya, itu apa?" Silvia menatap paper bag yang di bawa Damien.


"Ini ponsel baru buat kamu," jawab Damien membuka lalu memperlihatkan ponsel keluaran terbaru dari merek ternama.


"Wah ... Bagus banget. Ini buat aku?" Tanya Via dengan mata yang berbinar.


"Aku 'kan udah bilang kemarin, kalau aku udah beliin ponsel buat kamu, maaf baru sempet kasih ke kamu sekarang."


Damien menyerahkan ponsel tersebut dan Silvia pun menerima dengan wajah sumringah dan senyum yang mengembang lebar dari kedua sisi bibir mungilnya.


"Makasih, ya. Aku senang banget deh."


"Sama-sama. Di situ juga udah aku masukin nomor ponsel aku. Kamu tinggal tekan angka satu nanti langsung tersambung Otomasi ke ponsel aku," ucap Damien lagi memperlihatkan ponsel miliknya yang memiliki merek yang sama bahkan warna yang sama pula membuat Silvia seketika semakin merasa senang


"Ponselnya sama. Kita kembaran ya?"


Damien menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Gimana, kamu suka?"


"Suka, suka banget. Makasih, Damien.''


Seketika pandangan mata mereka pun saling beradu, keduanya saling menatap satu sama lain dan saling melemparkan senyuman, senyuman yang menyiratkan rasa cinta yang mendalam.


"Damien," lirih Via lembut dan penuh kasih sayang.


"Iya, Via."


"Aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu, Damien." Ucap Silvia secara tiba-tiba membuat Damien tersenyum senang dan tidak menyangka bahwa dia akan mendapatkan pernyataan cinta yang begitu tiba-tiba dari wanita yang dicintainya itu.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2