MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Pelan-pelan


__ADS_3

Silvia menatap wajah Daniel, Mika dan juga Damien secara bergantian dengan wajah datar dan tatapan mata kosong, raut wajah Silvia pun terlihat heran seolah sedang berfikir keras.


Dia sama sekali tidak dapat mengenali wajah ketiga orang yang saat ini berada di hadapannya membuat Via yang saat ini masih dalam keadaan lemah merasa heran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya sendiri, ada satu lagi yang membuat dirinya bingung, dia bahkan tidak mengingat dirinya sendiri, bahkan Via tidak ingat siapa namanya.


Damien yang saat ini masih merasa syok dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Via pun nampak mencoba berfikir keras. Apa mungkin Silvia hilang ingatan? Kalau memang benar, dirinya akan semakin merasa bersalah karena gara-gara dirinya Silvia jadi seperti ini.


"Silvia, ini aku Damien, si songong. Apa kamu gak ingat sama aku?" Tanya Damien menatap lekat wajah Via dengan tatapan heran.


"Damien? Si songong?" Jawab Via mengerutkan kening.


"Iya, masa kamu lupa sama aku?"


"Maaf, tapi aku gak ingat sama sekali." Jawab Via polos.


"Sayang, coba panggilkan Dokter ke sini," pinta Mika kepada Daniel suaminya.


Daniel pun menganggukkan kepala lalu segera keluar dari dalam ruangan.


"Mom, apa yang terjadi dengan Silvia? Apa mungkin dia hilang ingatan?''


'Silvia? Apa itu namaku,' ( batin Silvia )


"Kamu tenang ya, sayang. Via biar nanti diperiksa lagi sama Dokter," jawab Mika mencoba menenangkan putranya.


"Silvia? Apa itu nama aku, Tante?"


"Kamu gak ingat nama kamu sendiri?"


Silvia menganggukkan kepalanya.


"Ya Tuhan," gumam Mika mengusap wajahnya kasar.


Tidak lama kemudian, Daniel pun kembali ke dalam ruangan bersama Dokter yang memang sejak awal menangani kondisi Silvia. Mika dan sang putra pun memundurkan langkahnya memberi ruang kepada sang Dokter agar bisa memeriksa keadaan Silvia.

__ADS_1


Dengan perasaan cemas, Damien menatap wajah Via yang saat ini sedang diperiksa, dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu tidak mengenali dirinya.


Hatinya benar-benar diliputi rasa bersalah yang semakin mendalam, dia bahkan sedikit berkaca-kaca merasakan sesak di dalam dadanya karena melihat keadaan gadis yang dicintainya itu terlihat begitu mengenaskan.


Akhirnya, Dokter pun selesai memeriksa dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Silvia, dan sepertinya memanglah benar, karena benturan keras di kepala otak Silvia kini mengalami Amnesia.


"Gimana keadaan Silvia, Dokter?" Tangan Daniel dengan perasaan cemas.


"Kondisi otaknya pasca operasi sudah mulai membaik, bahkan organ inti di dalam tubuh Silvia juga sudah berangsur normal, akan tetapi sepertinya dia mengalami Amnesia." Jawab Dokter tersebut.


"Astaga, apa yang harus kami lakukan Dokter?"


"Hmm ... Kalian tidak usah terlalu khawatir, ini hanya Amnesia biasa, seiringan dengan waktu, ingatan Nona Silvia akan kembali pulih, hanya saja, kita tidak tau kapan ingatan itu akan akan benar-benar kembali, dan saya harap kalian bisa sabar dan jangan terlalu memaksakan Nona Silvia untuk mengingat sesuatu yang saat ini menghilang dari otaknya. "


"Ba-baik, Dokter," jawab Daniel masih merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Karena kondisi pasien sudah membaik, dia akan segera dipindahkan ke ruangan rawat inap," ucap Dokter lagi dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Daniel.


♥️♥️


Mika, Daniel, Damien, Aldo dan kedua orang tuanya nampak berada di sana berdiri mengelilingi ranjang membuat Via semakin dibuat bingung.


"Om, Tante. Bisa ceritakan kalian ini sebenarnya siapa? Dan apakah benar nama aku Silvia?" Tanya Via dengan suara lemah.


"Silvia, sayang. Pelan-pelan aja ya, jangan terlalu memaksakan jika kamu memang gak mengingat apapun, Tante yakin, lambat laun kamu juga akan ingat semuanya," lirih Mika mengusap rambut Via lembut dan penuh kasih sayang.


"Ini aku Damien, Via. Apa kamu masih gak ingat aku?"


Silvia menggelengkan kepalanya menatap datar wajah Damien.


"Aku Aldo, Via. Kamu pasti ingat 'kan sama aku?"


Silvia kembali menggelengkan kepalanya datar.

__ADS_1


"Damien, Aldo. Pelan-pelan dong, kalian ini gimana si, jelas-jelas Via lagi Amnesia," ujar Lusi kesal.


"Tapi, Mom. Masa dia lupa sama ku juga?"


"Ya namanya juga Amnesia, gimana si?" Celetuk Damien tersenyum menyeringai.


"Ibuku yang mana?" Tanya Via polos membuat semua yang ada di sana terdiam.


"Ayahku yang mana? Kenapa kalian malah diam aja?" Tanyanya lagi merasa heran.


"Hmm ... Ibumu gak ada di sini, Via."


"Lalu dimana beliau? Apa aku gak punya ibu? Atau ibuku udah meninggal? Daddy juga, apa aku gak punya ayah juga? Kenapa kedua orang tua aku gak ada di sini, dan malah kalian yang ada di sini? Sebenarnya aku ini siapa?" Tanya Via dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, menyebut kata ibu entah mengapa membuat dadanya terasa sesak.


"Nggak, sayang. Kamu masih punya ibu ko, hanya saja--" Terbata-bata Daniel tidak meneruskan ucapannya.


"Hanya aja apa, Om?"


"Beliau belum tau keadaan kamu kayak gini, tapi Om janji akan segera memberitahu dia dan menjemput dia ke sini, jadi, kamu kamu gak usah khawatir ya."


Silvia hanya terdiam, buliran air mata tiba-tiba saja turun dari ujung kelopak matanya, merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan di dalam sana, di dalam lubuh hatinya yang paling dalam.


''Kami janji akan segera menjemput ibumu ke sini, Via. Kamu gak usah memaksakan diri, kata Dokter, Amnesia kamu cuma sementara ko,'' lirih Mika mengusap buliran air mata yang membasahi wajah Via.


Silvia masih terdiam, tubuhnya masih terasa lemas untuk digerakan, bibirnya pun terasa sedikit kaku untuk berbicara sebenarnya, matanya masih menatap satu-persatu orang yang saat ini berada di sana, berharap jika dengan melakukan hal itu dia akan sedikit mengingat setidaknya salah satu dari mereka.


Akan tetapi, usahanya masih saja sia-sia, sekeras apapun dia mencoba, Silvia tetap tidak dapat mengingat sedikitpun semua orang yang ada di sana. Memori di otaknya seakan telah terhapus, tanpa jejak sedikitpun.


''Silvia, kamu gak mungkin melupakan aku, aku Aldo kekasih kamu, masa kamu lupa?'' Tanya Aldo secara tiba-tiba membuat semua yang ada di sana terkejut.


Terutama Damien, dia membulatkan bola mata bundarnya, menoleh menatap wajah Aldo dengan tatapan tidak percaya, karena dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu akan mengatakan hal tersebut.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2