MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Menyalahkan


__ADS_3

"Apa? Silvia kecelakaan?" Tanya Dona merasa tidak percaya.


Daniel dan Ridwan hanya mengangguk merasa bersalah karena gagal menjaga Silvia.


"Astaga, gimana keadaan dia sekarang? Apa Via putriku baik-baik aja? Apa lukanya parah? Hiks hiks hiks ..." Tangis Dona pun seketika pecah.


"Dia sudah lebih baikan sekarang, hanya saja--"


"Hanya saja apa?"


"Dia mengalami Amnesia, akibat benturan kerasa di kepalanya Silvia harus mendapatkan tindakan operasi besar dan sekarang dia mengalami hilang ingatan, saya minta maaf karena gagal menjaga Silvia," jelas Daniel merasa bersalah.


"Amnesia? Maksudnya hilang ingatan?"


Daniel menganggukkan kepalanya.


"Berarti, dia sama sekali gak akan ingat sama aku ibunya?"


Daniel kembali menganggukkan kepalanya.


"Ya Tuhan, malang sekali nasibmu, Nak. Hiks hiks hiks ...."


"Tapi dia sempat bertanya tentang ibunya, Silvia merasa kecewa karena saat dia bangun dari koma, ibunya gak ada di sana," ucap Daniel lagi.


"Baiklah, kita ke sana sekarang juga, beri aku waktu 30 menit untuk bersiap-siap."


Daniel dan Ridwan menganggukkan kepalanya.


♥️♥️


Di Rumah Sakit.


Mika dan juga Lusiana masih berada di sana, di kamar VVIP dimana putra mereka dan Silvia di rawat. Keadaan Damien yang sudah membaik membuatnya sudah di perbolehkan untuk pulang namun, karena dia yang tidak ingin meninggalkan Aldo berdua dengan Silvia akhirnya dia menolak pulang dan lebih memilik masih berada di sana dengan berpura-pura kesakitan.


Saat ini, dia bahkan pura-pura tertidur lelap dengan wajah yang masih berpura-pura menahan rasa sakit. Sebenarnya, Mika pun tahu bahwa putranya hanya berpura-pura namun, dia tidak ingin terlalu mempermasalahkan hal itu karena tidak ingin membuat keributan.


Sementara itu, Silvia nampak tertidur pulas setelah di meminum obat begitupun dengan Aldo yang juga tertidur setelah melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Apa Dona sudah di beri tahu tentag kecelakaan putrinya?" Tanya Lusi duduk di kursi.


"Iya sudah, sekarang suamiku sedang menjemput dia," jawab Mika yang juga duduk di kursi yang sama.


"Aku gak nyangka kalau Om Richard punya putri cantik kayak Silvia, aku pikir pria tua itu gak akan pernah punya anak," ketus Lusi tersenyum menyeringai.


"Aku juga gak nyangka kalau akhirnya kami bisa menemukan Silvia, padahal kami udah mencari dia selama 20 tahun lamanya."


"Dia pasti tenang di atas sana, karena apa yang menjadi wasiat terakhirnya bisa terpenuhi sekarang, beruntung banget Dona, dia mendadak kaya raya.''


"Kamu salah, Lusi. Dona menolak buat tinggal di rumah kami, dia juga menolak mentah-mentah harta yang ditinggalkan sama ayah mertuaku.''


"Lho, kenapa?" Lusi mengerutkan keningnya.


"Entahlah, mungkin karena dia masih belum bisa memaafkan apa yang sudah mendiang lakukan padanya dahulu."


"Heuh ... Wajar si kalau Dona merasa kayak gitu, mengingat bahwa Om Richard laki-laki memang jahat," Lusi kembali mengingat masa lalu, membayangkan sosok Richard yang juga pernah melukai harga dirinya dulu.


Sementara Mika, dia hanya terdiam yang juga membayangkan sosok Richard yang dahulu pernah menjadi suaminya dan sempat menyiratkan luka kala itu.


Lama larut dalam lamunan masing-masing tiba-tiba saja pintu kamar di ketuk dan buka membuat Lusiana dan Mika menyudahi lamunan masing-masing dan menoleh ke arah pintu.


Ceklek ....


Daniel, Ridwan dan juga Dona masuk ke dalam kamar membuat Mika dan Lusi sontak berdiri menyambut kedatangan Dona.


"Silvia, putriku ..." Dona langsung berjalan cepat menuju ranjang dimana putrinya berbaring dan tertidur lelap.


"Silvia, ini Mommy, nak. Bangun Nak," lirih Dona menatap sang putri dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan iba. Air matanya pun mengalir begitu derasnya tanpa bersuara.


"Dia baru aja tidur setelah meminum obat, Dona. Jadi kamu gak usah khawatir, dia sudah agak baikan sekarang," ucap Mika berjalan dan berdiri tepat di samping Dona.


"Kenapa putriku bisa jadi kayak gini, hah? Apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Dona mengusap lembut rambut putrinya.


"Maafkan kami, ini semua karena keteledoran kami, Dona. Kami berdua lagi ada di luar kota saat mereka kecelakaan," jawab Daniel masih merasa bersalah.


"Astaga, kenapa kalian sampai teledor kayak gini? kalau sampai ingatan putriku gak kembali, gimana? Kalau selamanya dia tidak mengingat aku gimana? Pokoknya kalian harus bertanggung jawab," ketus Dona menatap satu-persatu orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Hey Dona, anak kamu bukan balita yang harus di jaga selama 24 jam ya, dia itu udah gede dan kecelakaan ini bukan salah kami, ini semua takdir, Dona. Kamu gak bisa dong nyalahin kami kayak gini," ketus Lusi tidak terima.


"Tapi tetap saja, seharusnya kalian jaga putra kalian dong, kenapa putri aku bisa kecelakaan bareng mereka berdua?" Ketus Dona lagi sedikit menaikan suaranya.


Damien yang sedari tadi hanya menyimak dan pura-pura tertidur akhirnya membuka kedua matanya dan bangkit seketika.


"Jangan salahkan mereka, Tante. Kalau ada harus disalahkan itu adalah aku, karena aku yang pergi bersama Silvia dan aku juga yang nyetir malam itu," lirih Damien tiba-tiba membuat Daniel dan Mika terkejut seketika.


"Nggak, sayang. Gak ada yang salah di sini, semua ini takdir tak ada yang bisa menyalahkan takdir dan kita juga gak bisa memutar waktu, jadi kamu harus sabar Dona," timpal Mika menatap wajah Damien lalu mengalihkan pandangannya kepada Silvia.


"Berhenti, kalian berisik banget si?" lirih Silvia lemah membuka mata seketika.


"Silvia, sayang. Kamu udah bangun? Kamu baik-baik aja 'kan, sayang?"


"Anda siapa?" Tanya Via datar menatap wajah Dona.


"Ini Mommy, sayang. Ibu kamu, maaf karena Mommy terlambat datang ke sini, seharusnya Mommy gak ninggalin kamu, sayang. Maafin Mommy, hiks hiks hiks ..." Tangis Dona seketika pecah merasa terhenyak karena sang putri sama sekali tidak mengenali dirinya.


"Mommy? Ibu aku?"


Dona menganggukkan kepala menahan rasa perih di hatinya.


Silvia menatap wajah Dona dengan seksama. Matanya nampak menyisir setiap jengkal wajah cantik wanita yang mengaku sebagai ibunya itu berharap bahwa dia akan sedikit mengingat sosok ibu yang selama ini dia rindukan kehadirannya.


Mata Silvia pun seketika mulai berkaca-kaca, otaknya memang tidak bisa mengingat apapun, tapi tidak dengan hati dan perasaannya. Entah mengapa, ada rasa sesak di dalam hatinya kini rasa yang dia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupnya sebelum dia hilang ingatan.


"Mommy ...?" Rengek Via diiringi buliran air mata.


"Iya, sayang. Ini Mommy, apa kamu bisa mengingat Mommy?"


Silvia menggelengkan kepalanya.


"Kamu beneran gak ingat Mommy sama sekali?"


Silvia kembali menggelengkan kepalanya lemah.


"Lalu kenapa kamu menangis, sayang.''

__ADS_1


"Sebenarnya, anda ibu seperti apa? Kenapa hati saya terasa sakit sakit saat menatap wajah anda," lirih Silvia lemah dengan mata yang menatap lekat wajah ibunya membuat Dona terhenyak seketika mendengar ucapan putrinya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2