
"Maafkan aku, Via. Aku terpaksa bohongin kamu karena--" Damien tidak meneruskan ucapannya, dia sendiri tidak tau kenapa dia bisa membohongi Silvia.
"Karena apa, Dam?"
"Maaf ..." Jawab Damien menunduk lesu di hadapan kekasihnya.
"Kamu boleh keluar sekarang, aku lelah ingin istirahat."
"Ya udah. Kamu istirahat aja ya. Kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan kasih tau aku. Kamu telpon aku, kapan pun jam berapapun pasti aku angkat, oke?"
Silvia hanya mengangguk datar.
"Eu ... Aku keluar dulu," ucap Damien, perlahan dia pun mengecup kening Silvia lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku cinta sama kamu, Via. Aku akan segera meminta Mommy dan Daddy untuk segera melamar kamu, biar si Aldo gak berani gangguin kamu lagi."
"Hah? Kamu serius?"
"Tentu saja."
"Tapi--''
"Hus, jangan ada tapi-tapian segala. Sekarang kamu istirahat aja, kita terusin obrolan kita nanti. I Love You ..."
"I Love You too ..."
Damien pun bangkit lalu berjalan keluar dari dalam kamar, dia pun berjalan mundur seraya menatap lembut wajah cantik Silvia seolah tidak ingin berpisah.
"Udah sana. Jangan mundur gitu jalannya, nanti nabrak lho," ucap Silvia tersenyum kecil menatap tingkah laku kekasihnya.
Buk ....
Tubuh Damien pun menabrak tembok kamar dan seketika dia pun meringis kesakitan.
"Argh ..." Damien meringis seraya memegangi kepalanya yang juga ikut kejedot tembok.
"Nah 'kan, aku kata juga apa? Kamu sih, sakit 'kan? Hahaha ..."
"Nggak, gak sakit sama sekali. Ya udah, aku turun ya."
__ADS_1
Silvia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"I LOVE YOU, SILVIAAAAAA ...."
Silvia hanya tersenyum senang lalu melambaikan tangannya saat tubuh Damien mulai masuk ke dalam lift.
❤️❤️
Tut ....
Pintu lift pun terbuka, Damien dengan wajah yang ceria dan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibirnya terlihat begitu bahagia mulai masuk ke dalam kamarnya namun, tiba-tiba saja senyuman itu pun seketika lenyap dan digantikan dengan ekspresi wajah masam lengkap dengan alis yang dinaikan sebelah saat melihat beberapa orang sedang membenahi kamarnya.
Kardus-kardus berukuran besar berada di setiap sudut bahkan, meja belajarnya yang semula dipenuhi buku-buku koleksinya sekaligus perlengkapan kuliahnya terlihat kosong.
"LAGI NGAPAIN KALIAN SEMUA DI KAMAR AKU? HAAAAAH ...?" Teriaknya merasa geram menghampiri salah satu pelayan yang sedang membereskan pakaian miliknya ke dalam koper besar.
"Ma-maaf, den. Nyonya menugaskan kami untuk mengosongkan kamar aden. Katanya besok Aden akan pindah ke rumah lama," jawab salah satu pelayan terbata-bata menghentikan gerakan tangannya.
"APAAAAAA ...?" Damien semakin berteriak kesal.
"Iya, Den."
"Ada di kamarnya, Den.'' Jawab perlayan itu lagi.
Damien pun kembali berjalan lalu masuk ke dalam lift dan seketika pintu lift pun kembali tertutup rapat.
Tidak membutuhkan waktu lama, lift pun naik ke lantai tiga dimana kamar ibunya berada. Dengan tergesa-gesa Damien keluar dari dalam lift dan mencari sosok Mika sang ibu.
"Moooooom ...!" Teriak Damien memekikkan telinga.
"Apaan si teriak-teriak gitu?" Jawab sang ibu keluar dari dalam kamar mandi menghampiri putranya.
Kamar ibunya pun terlihat sudah kosong kini, koper-koper berukuran besar nampak sudah berjejer rapi lengkap dengan kardus berukuran besar yang sudah terisi penuh dengan barang-barang yang semula berada di dalam kamar.
"Apa-apaan ini, Mom? Kenapa Mommy gak bilang sama aku kalau kita akan pindah besok? Bukannya kata Mommy rumah lama kita masih di renovasi?" Tanya Damien dengan wajah masam.
"Prediksi awal si begitu tapi, rumah kita udah selesai di renovasi dan besok kita akan segera pindah ke sana."
"Nggak, aku gak mau. Aku maunya di sini."
__ADS_1
"Nggak bisa, sayang. Kamu harus ikut Mommy. Mana boleh kamu tinggal terpisah sama kami, kamu itu putra semata wayangnya Mommy, anak kesayangan Mommy, mana boleh kamu tinggal di sini sementara Mommy sama Daddy tinggal di sana." Jawab Mika lembut dan penuh perasaan.
"Tapi, Mom--"
"Tapi apa? Apa karena Silvia? Emangnya kalian pacaran?"
Damien terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan ibunya karena tahu bahwa, ibunya itu tidak akan pernah suka apabila dirinya menjalin hubungan dengan kekasihnya itu.
"Damien? Kenapa diam? Mommy tanya sama kamu, apa kalian pacaran?" Mika mengulangi pertanyaannya.
Damien masih diam seribu bahasa, dia nampak menundukkan kepalanya dengan memainkan ujung kuku jari jempolnya.
"Kenapa? Apa kamu takut kalau Mommy bakalan menentang hubungan kalian berdua?"
Damien akhirnya mengangkat kepalanya lalu menatap wajah sang ibu.
"Mom?" Rengek'nya dengan tatapan sayu layaknya seorang anak kecil yang minta dibelikan sesuatu.
"Jadi benar kalian udah pacaran?"
Damien menganggukkan kepalanya dengan raut wajah memelas dan tatapan sayu menatap dengan tatapan penuh rasa harap. Berharap bahwa, ibunya akan memberi restu akan hubungan dirinya dengan Silvia.
"Damien?"
"Moom ...!''
"Sayang, kamu bebas pacaran sama siapapun. Tapi, tidak dengan Silvia. Dia itu Tante kamu, apa kamu lupa?"
"Tapi, Mom. Aku cinta sama dia, aku sayang sama Via. Aku gak peduli meskipun dia Tante, kakak, atau apalah itu namanya. Sekali cinta tetap cinta, titik ..." Tegas Damien penuh penekanan berbalik dan berjalan ke arah lift dengan tergesa-gesa dan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.
"Damien ...!"
Mika menaikan suara memanggil nama putranya namun, putranya itu mengabaikan panggilan dirinya dan lebih memilih menekan tombol lift dan masuk ke dalamnya seketika setelah lift itu terbuka.
Mika pun hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Silvia memang gadis yang baik, dia menyayangi gadis itu layaknya putri sendiri tapi, jika harus menjadikannya menantu Mika punya alasan untuk tidak menyetujui hubungan putra semata wayangnya dengan gadis bernama Silvia tersebut.
'Maafkan Mommy, Damien. Mommy gak akan pernah mengijinkan kamu pacaran dengan Silvia,' (batin Mika menatap pintu lift yang perlahan mulai tertutup rapat.)
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1