
Di kantor polisi, Damien langsung di jebloskan ke dalam sel. Lantai sel yang terbuat dari keramik berwarna putih dengan alas untuk tidur hanya berupa kasur tipis dengan satu buah bantal benar-benar membuat Mika dan juga Daniel merasa sangat khawatir.
Lagi-lagi, Aldo tersenyum penuh kemenangan tanpa penyesalan dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dia perbuat. Dia sama sekali tidak merasa iba sedikitpun melihat Damien yang notabenenya adalah sahabatnya dan masih ada ikatan darah dengannya pun sama sekali tidak membuatnya menarik laporan yang sudah masuk dan sedang di proses saat ini.
Penolakan Silvia dan kenyataan bahwa, gadis itu lebih memiliki Damien dibandingkan dirinya benar-benar telah membuatnya gelap mata dan menutup hati untuk sahabatnya sendiri bahkan menghancurkan persaudaraan antara dua keluarga akibat perbuatan dirinya dan Aldo sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Mika dan Daniel masih berada di sana dan mencoba membujuk Lusiana dan Arman untuk mencabut laporan dan memilih jalan damai menyelesaikan masalah ini secara baik-baik mengingat bahwa mereka bersaudara dan sudah bersahabat sejak lama.
"Lusi, aku mohon pikirkan baik-baik masalah ini. Kita itu udah kenal lama dan kamu udah aku anggap saudara sendiri. Kamu juga Arman, apa kamu lupa siapa aku? Apa kamu tidak menghargai aku sama sekali?" Ucap Daniel menatap penuh harap kedua orang yang sudah lama mereka kenal.
Lusi dan Arman terdiam berfikir. Keduanya nampak saling menatap satu sama lain seolah sedang saling bertukar pikiran lewat tatapan mata dan isyarat wajah.
"Aku mohon cabut tuntutan kalian ini, anak-anak memang sudah biasa berkelahi dan ini bukan pertama kalinya mereka kagak gini, apa kalian lupa?" Pinta Mika memohon.
Aldo pun tersenyum menyeringai. Di tengah kedua orang tuanya yang sedang berfikir keras dan sebenarnya merasa tidak enak dengan kedua orang tua Damien yang merupakan orang yang telah berjasa di dalam hidup mereka, pemuda itu masih bersikukuh dengan pendiriannya.
"Tidak, Om. Aku gak akan pernah mencabut laporan ini. Apa om dan Tante gak lihat wajah tampan aku jadi kayak gini? Coba kalau Damien yang aku pukuli, apa kalian akan memaafkan aku?" Tegas Aldo dengan nada sombong.
"Tapi, dia melakukan itu pasti ada alasannya dan dia sama sekali gak di beri kesempatan buat ngejelesin apapun."
"Gak perlu di jelasin, wajah aku udah jelas-jelas babak belur." Aldo sedikit menaikan suaranya.
"Aldo, cukup. Mari kita dengarkan penjelasan Damien dulu." Pinta Lusiana lembut mengusap punggung putranya.
__ADS_1
"Gak usah di jelasin, aku udah bawa bukti yang jelas. Sangat jelas sejelas-jelasnya." Ridwan tiba-tiba datang bersama Dona dan juga Silvia membuat semua yang ada di sana serempak menoleh kearah mereka bertiga.
Wajah Aldo nampak pucat pasi, tangannya bergetar dan berkeringat dingin takut bahwa kebohongannya akan terbongkar.
"Om Ridwan ..." Sapa Mika tersenyum senang.
"Ini, aku bawa rekaman CCTV dimana ini adalah bukti jelas bahwa putra kalian adalah anak yang kurang ajar," tambah Ridwan lagi membuat Lusi dan juga Arman terkejut.
"Apa maksud kamu, Om?"
"Pak polisi, tolong anda putar rekaman ini. Ini adalah bukti jelas bahwa Damien sama sekali tidak bersalah."
Ridwan menyerahkan rekaman CCTV yang dia bawa.
Wajah Aldo pun semakin pucat saat rekaman itu di putar dan memperlihatkan aksi dirinya saat berada di dalam kamar Damien, di dalam lift, juga saat dirinya di pukuli habis-habisan oleh Damien.
Aldo pun menundukkan kepalanya. Tangannya nampak dikepalkan merasa kesal, tapi lagi-lagi Aldo sama sekali tidak merasa bersalah sama sekali setelah apa yang telah dilakukan oleh dirinya.
"Astaga, Aldo. Mommy benar-benar gak nyangka kamu bisa melakukan hal bejad kayak gini, Mommy benar-benar malu, Aldo malu," ucap Lusiana menahan rasa malu yang teramat dalam.
"Sekarang juga kamu cabut gugatan polisi itu." Pinta Arman penuh penekanan.
"Nggak, aku gak akan pernah mencabut gugatan itu," tegas Aldo bersikukuh.
__ADS_1
"Ya udah kalau begitu kamu temani dia di dalam, siapa tau dengan begitu kalian bisa akur lagi," tegas Lusi.
"Pak, tolong masukan anak saya juga ke dalam sana. Biar mereka bisa sama-sama merasakan dinginnya berada di balik jeruji besi."
"Gak bisa dong, Lus. Putraku gak salah, karena sekarang buktinya sudah jelas, tolong lepaskan putra saya sekarang juga, Pak." Pinta Mika menatap Pak Polisi.
"Mohon maaf, Nyonya. Apapun alasannya, tindakan kekerasan tetaplah salah, saudara Damien setidaknya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan anda saudara Aldo, saya akan memasukan anda ke dalam sel sekarang juga." Jawab Polisi tersebut lalu memerintahkan rekannya untuk membawa pemuda itu masuk ke dalam sel.
"Nggak mau, Mom. Aku gak mau ada di sini, aku gak salah." Teriak Aldo saat tubuhnya di bawa dan hendak dimasukkan ke dalam sel yang sama dimana Damien berada.
Wajahnya pun terlihat begitu kecewa karena orang tuanya sendiri yang meminta dirinya untuk dimasukan ke dalam sana. Aldo pun akhirnya hanya pasrah saat tubuhnya di tarik paksa dan pintu sel pun di buka.
Ceklek ....
Pintu sel di buka. Damien yang telah berada terlebih dahulu di sana pun nampak tersenyum menyeringai menatap mantan sahabatnya yang kini masuk menemani dirinya.
"Hahaha ... Aku udah bilang kalau Tuhan tidak tidur, Aldo. Akhirnya kamu masuk juga ke sini dan aku akan segera bebas." Ucap Damien tersenyum senang.
Aldo pun awalnya hanya terdiam karena Polisi yang mengantarkan dirinya masih berada di sana. Tidak lama kemudian Polisi tersebut pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Aldo pun balas dendam kepada Damien dengan memukulinya habis-habisan persisi seperti yang Damien lakukan kepada dirinya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1