
Buk ....
Brak ....
Plak ....
Aldo menghantam tubuh Damien secara berkali-kali, kesempatan itu dia gunakan untuk membalas atas apa yang telah Damien lakukan kepada dirinya.
Damien pun berteriak minta tolong dan dengan sengaja tidak membalas agar semua yang ada di sana melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu kepada dirinya.
"Arghhh ... Tolooooong ..." Teriak Damien, dan seketika beberapa Polisi pun segera menghampiri begitu pula semua yang ada di dalam kantor.
"Hey ... Kalian," teriak salah satu Polisi langsung membuka pintu sel dan memisahkan mereka berdua.
"ALDOOOOO ..." Lusi berteriak memanggil nama putranya seraya ikut masuk ke dalam sel.
Plak ....
Plak ....
Dia pun menampar kedua sisi pipi putranya, sesuatu yang baru pertama kali dia lakukan kepada putra semata wayangnya itu. Kekecewaan Arman dan Lusi benar-benar sudah berada di puncaknya, mereka sudah di buat kesal dengan tindakan pele*ehan yang dilakukan Aldo terhadap Silvia, kebohongan besar, di tambah dengan tindakan membabi buta putranya saat ini benar-benar membuat Lusi merasa murka.
"Kurang ajar kamu. Mommy gak nyangka kalau ternyata begini kelakukan kamu sebenarnya, hah. Mommy benar-benar kecewa sama kamu, Aldo," ucap Lusi dengan mata yang terlihat berkaca-kaca merasa kecewa.
Aldo hanya terdiam menahan rasa kesal.
Sementara Mikaila, dia segera menghampiri putranya yang saat ini tergeletak di atas lantai dengan wajah babak belur.
"Ya Tuhan, putraku. Kamu gak apa-apa, Nak? Wajah kamu, hiks hiks hiks ...'' ucap Mika membantu putranya untuk berdiri tegak.
"Pak, saya mau anak saya dibebaskan sekarang juga. Saya akan tebus dengan uang berapapun biayanya," tegas Daniel menatap penuh rasa kecewa wajah Aldo.
"Baik, Pak. Silahkan ikut saya ke dalam. Dan kamu Aldo, kamu akan tetap di sini. Kecuali, jika orang tua kamu bersedia menebus kamu juga."
"Nggak, kami gak akan pernah menebus dia, Pak. Kurung dia di sini sampai anak kurang ajar ini benar-benar jera,'' tegas Arman menatap geram wajah putranya.
"Baik, Pak. Silahkan kalian semua keluar dari sini," jawab Polisi tersebut kembali menutup pintu sel dan menguncinya rapat.
"Mom, aku gak mau di sini, Mom. Aku mau pulang, aku gak salah," teriak Aldo namun, diabaikan oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Silvia yang juga berada di sana pun hanya bisa menatap wajah Aldo dengan tatapan penuh rasa benci, dan di saat mereka semua meninggalkan Aldo sendirian di dalam sel, dia lebih memilih untuk berada di sana karena ada hal yang ingin dia katakan kepada pemuda itu.
"Via ...?" Panggil Dona sang ibu.
"Mommy duluan aja, ada yang ingin aku katakan sama di brengsek ini," jawab Silvia penuh penekanan.
"Tapi, Silvia--" Damien pun ikut bicara.
"Aku gak apa-apa, Dam. Dia ada di dalam, jadi dia gak akan bisa ngapa-ngapain aku ko."
Damien pun hanya bisa membiarkan kekasihnya itu berada di sana karena pergelangan tangannya di tarik oleh Mika sang ibu.
"Baiklah, Mommy tunggu di dalam ya?"
Silvia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Sepeninggal mereka semua, kini tinggallah Silvia bersama Aldo yang saat ini menundukkan kepalanya menahan rasa kecewa terhadap kedua orangtuanya. Silvia pun berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di balik jeruji.
"Gimana rasanya berada di sana?" Tanya Silvia tersenyum menyeringai.
"Kamu ngetawain aku?"
"Hahaha ..." Aldo tertawa penuh rasa kecewa sebenarnya.
"Kamu gak minta maaf sama aku karena udah ngelecehin aku, Aldo?''
"Buat apa aku minta maaf, semua ini salah kamu sendiri. Andai saja kamu lebih milih aku dibandingkan dia, mungkin kejadiannya gak bakalan kayak gini,'' ucap Aldo tidak menunjukkan rasa penyesalan sama sekali.
"Heuh ... Buat apa aku pilih kamu. Kamu aja udah bohong dari awal, kamu memanfaatkan Amnesia aku buat ngaku-ngaku jadi pacar aku. Lagian, seharusnya kamu lebih berbesar hati, cinta itu gak bisa dipaksakan. Aku gak cinta sama kamu, Aldo.'' Ucap Silvia membuat Aldo kembali menelan rasa kecewa.
"Apa sedikitpun kamu gak punya perasaan sama aku?"
Silvia menggelengkan kepalanya.
"Apa udah gak ada kesempatan buat aku bisa deketin kamu lagi?"
Silvia kembali menggelengkan kepalanya.
Aldo pun terdiam menundukkan kepalanya. Ternyata begini rasanya di tolak oleh seorang wanita, berkali-kali dia menyatakan cinta tapi berkali-kali dia pun mendapatkan penolakan yang sama dan rasanya sakit, rasa sakitnya mengalahkan sakit di wajahnya yang kini babak belur dan di tutup perban.
__ADS_1
Silvia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Aldo, dia memberanikan diri meraih pergelangan tangan pemuda itu dan mengusap punggung tangannya tidak ingin menyisakan dendam setelah penolakan dirinya.
"Aku doakan kamu mudah-mudahan bisa menemukan gadis lain yang lebih baik dari aku. Aku doakan juga semoga kamu menyesali perbuatan kamu dan segera keluar dari sini, Aldo. Lupakan aku karena Damien akan segera melamar dan menikah dengan aku." Lirih Silvia lirih dan lembut.
"Benarkah? Kalian akan bertunangan?"
Silvia menganggukkan kepalanya.
"Hmm ..." Aldo pun menghela napas panjang lalu melepaskan tautan tangan Silvia, dia berbalik lalu meringkuk di atas kasur tipis meratapi nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku pamit," ucap Silvia lalu berbalik dan hendak pergi.
"Maaf ..." Lirih Aldo tanpa menoleh.
Seketika Via menghentikan langkah kakinya lalu tersenyum dan menoleh kearah Aldo di dalam sana. Dia pun hanya menyunggingkan senyum manis diiringi dengan anggukan kecil, menatap wajah Aldo yang saat ini terlihat begitu muram dan juga terpuruk.
♥️♥️
Mereka semua pun bersiap untuk pulang dari kantor polisi. Daniel segera membayar rebusan dalam jumlah besar dan membawa putra kesayangannya itu pulang.
"Daniel, aku benar-benar minta maaf atas kelakuan putraku,'' ucap Lusi penuh penyesalan berdiri tepat di samping mobil miliknya.
"Gak usah dipikirin, anak-anak memang biasa berkelahi kayak gini," jawab Daniel santai.
"Damien, Tante juga minta maaf sama kamu ya. Maafin juga Aldo, mudah-mudahan dengan dia berada di sana, dia bakalan menyesali perbuatannya sama kamu dan Silvia," ucap Lusi penuh penyesalan menatap ke arah Silvia dan juga Damien secara bergantian.
"Iya, Tante. Aku udah maafin dia ko, tadi aku juga udah bicara sama dia di dalam." Jawab Silvia tersenyum ramah.
"Syukurlah, kalau begitu kami pulang duluan ya."
Merekapun mengangguk secara bersamaan.
Setelah Lusi dan suaminya pulang. Kini tinggalkan Damien dan kedua orang tuanya begitupun dengan Silvia bersama Dona dan juga Ridwan yang bersiap untuk pulang.
"Kami pulang duluan ya," ucap Daniel seraya membuka pintu mobilnya.
"Pap, Mom. Boleh aku bicara sebentar sama Via?" Pinta Damien menatap penuh harap.
"Besok lagi aja, kita harus segera ke Rumah Sakit, luka kamu itu harus diobati," ketus Mika membuat Dona dan Silvia pun terkejut seketika dengan reaksi Mika yang tidak ramah seperti biasanya.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️