
Meskipun sudah menikah lebih dari 20 tahun, Lusi masih saja tidak pernah merasa bosan akan sosis jumbo kesayangan yang menjadi benda favoritnya dari semenjak dia mengenal suaminya, Arman.
Benda kokoh dan berurat itu masih saja terlihat mengg*urkan dan membuatnya berg*irah setiap kali dia melihatnya, meskipun dia sudah tidak berada di usia muda lagi begitupun dengan suaminya.
Lusi pun tidak kuasa untuk mengeluarkan suara de*ahan dan lengu*an panjang saat puncak kenikmam*tan itu benar-benar dia dapatkan, pelepasan sempurna yang dia rasakan pun benar-benar membuat jiwa seorang Lusiana benar-benar melayang ke angkasa lepas.
Arman pun merasakan hal yang sama. Baginya, meskipun sang istri sudah tidak muda lagi, tubuh Lusi selalu saja terlihat mengg*urkan bahkan selalu saja membuatnya merasa ketagihan untuk ingin selalu dimanjakan dan dip*askan oleh goy*ngan istrinya yang selalu membuat pusaka miliknya meronta-ronta ingin segera memuntahkan bisa ke dalam sana.
Tubuh keduanya pun terkulai lemas di atas ranjang saat pelepasan itu berhasil mereka dapatkan secara bersamaan.
"Akhhh ... Sayang. Kamu benar-benar luar biasa," lirih Lusi memejamkan mata dengan napas yang tersengal-sengal lengkap dengan dada yang terlihat naik turun.
"Kamu juga luar biasa sayang, goyangan kamu gak ada matinya, selalu saja membuat aku ketagihan." Jawab Arman masih berada di atas raga sang istri dengan pusaka miliknya yang masih menghujam sempurna di bawah sana.
"Iya, dong. Meskipun aku udah gak muda lagi tapi, kemampuan aku dalam memuaskan suami aku ini tetap sama 'kan?''
"Semakin lihai malah, hahaha ..." Sela Arman tertawa puas lalu mengecup kening istri kesayangannya.
"Iya 'kan? Aku gak nyangka ternyata umur aku udah tua, Aldo pun udah besar dan mengenal yang namanya cinta. Tapi, ada satu yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang," lirih Lusi memasang wajah serius.
"Apaan tuh?"
"Sosis jumbo kamu sayang. Sosis jumbo kamu ini gak pernah berubah sedikitpun, selalu saja membuat jiwa aku melayang, hahaha ..." Tawa Lusi terdengar nyaring seraya menggoy*ngkan ping*ulnya menggoda sosis jumbo suaminya yang masih saja betah berada di dalam sana.
__ADS_1
"Akh ... Sayang. Ngilu, sayang." Arman dengan setengah berteriak merasakan ngilu di bagian sosis jumbo miliknya di dalam sana.
"Hahaha ... Ngilu apa enak?"
"Enak, sayang. Eh ... Ngilu sayang."
Lusi semakin intens menggoda suaminya dengan semakin menghentakkan ping*ulnya dengan irama tidak beraturan membuat sosis jumbo suaminya kembali menegang.
"Nakal kamu ya." Lirih Arman dengan suara gemas.
"Tapi kamu suka 'kan?"
"Suka dong, suka banget. Nambah satu kali lagi ya, salah sendiri gara-gara kamu sosis jumbonya aku jadi tegang lagi lho," rengek Arman yang langsung di jawab dengan anggukan oleh istrinya.
Sampai akhirnya, keduanya pun kembali mengerang panjang saat pelepasan itu berhasil mereka dapatkan secara bersamaan.
"Akkhh ... Sayang." Lirih Lusi dengan tubuh yang bergetar hebat merasakan gelombang kenik*atan yang tiada tara.
"Iya, sayang. Hmmm ... Luar biasa," jawab Arman memejamkan mata merasakan nik*atnya puncak pelepasan yang baru saja dia dapatkan.
Bruk ....
Arman pun menjatuhkan tubuhnya tepat di samping raga Lusi sang istri. Dada bidangnya terlihat naik turun lengkap dengan peluh dan keringat yang membasahi hampir seluruh tubuhnya kini.
__ADS_1
"Sayang ..."
"Hmm ..."
"Besok aku berencana buat ngajak Aldo bantuin di Cafe.''
"Apa dia bakalan mau kerja kayak gitu?"
"Ya, daripada dia di rumah galau mulu, mikirin cintanya yang bertepuk sebelah tangan sama gadis itu, ya mendingan aku ajak dia ke sana. Lumayan 'kan, siapa tau aja perasaan dia bisa ke hibur." Jelas Arman membuat Lusi seketika berfikir.
"Hmm ... Boleh juga, aku akan bicara sama Aldo sekarang juga."
"Gak usah sekarang juga kali, sayang. Besok lagi aja, kasian kamu pasti capek."
"Gak capek juga sih, yang ada tubuh aku malahan terasa ringan banget. Beban pikiran yang ada di dalam otak aku pun mendadak hilang lho. Kekuatan sosis jumbo kamu ini benar-benar luar biasa lho, sayang." Jawab Lusi tiba-tiba saja meraih dan menggenggam erat sosis jumbo itu lagi membuat Arman seketika memekik merasakan linu.
"Aduuuuh sayang, cukup."
"Kenapa?''
''Tangan kamu terlalu kuat megangnya, linu tau."
"Hahaha ..." Lusi hanya tertawa terbahak-bahak menatap ekspresi wajah Arman yang terlihat memejamkan mata dengan tubuh yang menegang.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️