
Ckiiit ....
Mobil yang dikendarai Aldo pun berhenti di sebuah halaman rumah. Halaman yang tidak terlalu luas seperti halaman rumah yang saat ini ditinggali oleh Silvia.
Aldo pun keluar dari dalam mobil, setelah itu dia segera berlari ke arah samping untuk membukakan pintu samping dimana Silvia duduk di dalam mobilnya.
Ceklek ....
Pintu mobil pun di buka oleh Aldo. Silvia segera keluar dari dalam mobil dengan mata yang menatap sekeliling halaman dengan rumah berukuran besar satu lantai.
"Ini rumah kamu?" Tanya Via datar.
"Iya, kebetulan Mommy sama Daddy lagi kerja sekarang jadi, kamu bisa beristirahat dengan tenang di dalam." Jawab Aldo tersenyum senang.
"Jadi, kita cuma berdua di dalam?"
"Iya. Eh ... Nggak ding, ada Asisten rumah tangga aku di dalam. Kamu tenang aja, aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu ko." Jawab Aldo menggandeng pergelangan tangan Silvia,. membawanya masuk ke dalam rumah.
Ceklek ....
Pintu rumah pun dibuka. Aldo masuk ke dalam rumah begitupun dengan Silvia yang saat ini masih berjalan beriringan bersamanya. Mata Via nampak menatap sekeliling rumah yang terlihat rapi lengkap dengan perabotan mahal dan mewah, suasana rumah pun terasa sepi dan hening membuat Silvia merasa kurang nyaman karena hanya berada berdua saja di rumah itu.
Tidak lama menjadi, seorang Asisten Rumah Tangga menghampiri mereka berdua dengan tersenyum ramah.
"Selamat sore, Den Aldo."
"Bi siapin dua minuman dingin sama camilannya juga ya. Eu ... Via, tadi kamu di Restoran belum sempat makan ya? Apa kamu mau makan aja sekarang? Masakan bibi enak lho." Tanya Aldo tersenyum ramah menawarkan.
"Nggak usah, sebenarnya aku gak lapar ko,'' jawab Silvia datar.
"Oh gitu? Ya udah. Minumannya aja ya, Bi."
"Baik, den." Jawab Bibi lalu berjalan kembali ke arah dapur.
"Duduk yu. Apa kamu mau istirahat di kamar aku aja?"
__ADS_1
"Di sini aja deh. Aku gak biasa berduaan sama laki-laki di dalam kamar.''
"Tapi aku pacar kamu. Jangan sungkan kalau kamu mau istirahat di kamar ya."
Silvia hanya mengangguk datar lalu duduk di kursi ruang tamu begitupun dengan Aldo yang kini duduk tepat di samping Silvia dengan posisi yang sangat dekat membuat gadis itu merasa tidak nyaman dan sedikit mengurai jarak.
"Via, apa ingatkan kamu udah kembali?" Tanya Aldo menatap lekat wajah Silvia.
"Hmm ... Belum sama sekali. Padahal akan lebih baik jika ingatan aku cepat kembali, setidaknya aku bisa mengingat kamu tapi, sayangnya aku masih belum mengingat apapun sampai saat ini." Jawab Silvia memalingkan wajahnya.
"Syukurlah ....''
"Hah?"
"Oh, nggak ko. Maksud aku syukurlah kamu udah sehat lagi sekarang meskipun ingatan kamu belum kembali."
'Aku berharap ingatan kamu tidak pernah balik lagi, Via. Dengan begitu, aku akan selamanya berpura-pura jadi pacar kamu sampai kamu bisa mencintai aku sungguhan.' (Batin Aldo)
"Aldo, apa kita sungguh berpacaran?"
"Maksud kamu?"
"Ya itu karena kamu Amnesia, sayang.''
"Mungkin."
Keduanya pun terdiam sejenak sampai akhirnya bibi datang dengan membawa dua gelas jus dingin lengkap dengan camilan dan buah Apel yang sudah di kupas di atas piring.
"Minumannya, Den, Non,'' ucap Bibi ramah, lalu meletakkan semua yang di bawanya di atas meja.
"Makasih, bi." Ucap Aldo.
"Sama-sama, Den. Bibi permisi ke belakang lagi ya."
Aldo menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Silvia masih saja menunjukan wajah datarnya bahkan, terkesan risi berada di sana di dekat Aldo. Perasaannya masih saja mencoba mencari sisa-sisa cinta di dalam hatinya akan laki-laki bernama Aldo yang mengaku sebagai pacarnya.
Akan tetapi, sekeras apapun dia berusaha, Via masih saja tidak dapat merasakan apapun membuatnya merasa heran namun, dia tidak ingin berburuk sangka kepada Aldo bahwa dia telah membohongi dirinya.
"Aku cinta sama kamu, Via. Dari semenjak kita pertama kali bertemu, aku sudah merasakan rasa cinta itu sampai sekarang," ucap Aldo secara tiba-tiba membuat Silvia seketika hanya bisa menanggapi dengan tersenyum hambar.
"Tapi aku gak cinta sama kamu, Aldo." Jawab Via tidak ingin terus berpura-pura.
"Itu karena kamu Amnesia, cinta kamu untuk aku ikut terbawa hilang bersama ingatan kamu yang lain, sayang."
"Tapi--" Silvia tidak meneruskan ucapannya karena Aldo tiba-tiba saja meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipinya dengan posisi yang sangat dekat.
"Sayang. Percaya deh, lambat laun kamu bakalan cinta juga sama aku." Ucap Aldo lalu hendak men*ium bibir ranum Via namun, gadis itu segera memalingkan wajahnya membuat Aldo merasa kecewa.
"Maaf, aku belum bisa melakukan hal ini," lirih Via menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Dulu kita sering melakukan hal ini ko." Tanya Aldo merasa kecewa sekaligus berbohong.
"Maaf, tapi aku gak siap melakukannya."
"Silvia. Jujur sama aku. Apa ini karena Damien? Dia rayu kamu 'kan? Dia ngedeketin kamu di rumah 'kan? Mentang-mentang kalian tinggal satu rumah, dia bisa seenaknya aja deketin kamu, padahal kamu itu pacar aku dan dia sahabat aku, jahat sekali si Damien itu."
"Cukup, Aldo. Jangan ngomong kayak gitu lagi. Damien gak pernah sedikitpun ngedeketin aku, tapi, malah sebaliknya," lirih Via pelan penuh rasa penyesalan.
"Maksud kamu?"
"Aku yang ngedeketin dia, dan aku juga cinta sama dia, Aldo. Jadi stop nyalahin dia karena Damien sama sekali gak salah." Ucap Silvia penuh penekanan membuat Aldo seketika terkejut dan kecewa.
"Apa? Maksud kamu gimana? Aku beneran gak ngerti deh." Aldo seketika merasa terbakar api Cemburu.
"Iya, aku mencintai Damien bukan kamu." Jawab Via tidak ingin terlalu lama membohongi Aldo tentang perasaannya.
"Kamu jahat, Via. Tega sekali kamu bilang kayak gitu sama aku. Pokoknya kamu milikku, selamanya akan tetap milikku,'' ucap Aldo penuh penekanan lalu memeluk bahkan men*ium bibir Silvia secara paksa.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1