
"Silvia?" Lirih Damien masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya, Dam. Aku--" Via tidak meneruskan ucapannya karena pintu ruangan tiba-tiba di buka.
Ceklek .... (Suara pintu yang dibuka)
Dona, Mika serta Daniel masuk ke dalam ruangan membuat Via yang hendak berbicara seketika menghentikan ucapannya dan menatap wajah sang ibu yang kini menghampiri dirinya.
'Duh Mommy sama Papi kenapa pake masuk segala si? Bukannya entaran aja masuknya,' (batin Damien kesal)
Kedatangan tiga orang yang kini masuk ke dalam ruangan benar-benar sangat disesalkan oleh Damien, dia gagal mendengarkan pernyataan cinta yang tadi hendak diucapkan oleh Silvia membuatnya merasa kesal.
"Damien, cepat siap-siap kita akan segera pulang," pinta Mika berdiri tepat di samping ranjang.
"Mom, aku 'kan udah bilang aku masih sakit, kepala aku pun masih pusing banget ini, argh ..." Jawab Damien pura-pura meringis kesakitan dengan memegangi kepalanya.
"Sayang ... Jangan bohong ya, Mommy gak suka," tegas Mika membuat Damien seketika merubah raut wajahnya menjadi biasa saja.
"Mom ..." Rengek'nya lagi layaknya anak kecil.
"Apa? Mommy tau apa yang ingin kamu katakan tapi, sekarang udah ada Tante Dona, jadi kamu gak perlu khawatir karena Via udah ada yang jagain di sini," ucap Mika seolah mengerti apa yang saat ini ada di dalam pikiran putranya.
"Iya, Dam. Kamu pulang aja, gak enak tau lama-lama di Rumah sakit,'' Silvia ikut bicara dengan nada suara lembut.
"Ya udah kalau gitu, aku mau pulang sekarang," jawab Damien akhirnya.
Damien pun berjalan ke arah kamar mandi dan masuk ke dalamnya untuk berganti pakaian yang saat ini masih memakai pakaian pasien.
"Sayang, Mommy akan selalu nemenin kamu di sini. Mommy juga bakalan pindah ke rumah Tante Mika dan Om Daniel, pokoknya mulai sekarang Mommy bakalan selalu ada di dekat kamu, sayang." Lirih Dona lembut.
"Emangnya selama ini kita tinggal terpisah?" Silvia mengerutkan keningnya.
"Eu ... I-iya ..." Terbata-bata Dona menjawab pertanyaan putrinya.
"Jadi selama ini aku tinggal sama Tante dan Om Daniel? Emangnya Mommy tinggal dimana? Kenapa kita gak tinggal bareng?"
Dona terdiam menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Silvia sayang, nanti kami bakalan jelasin semuanya sama kamu. Sekarang kamu fokus aja dulu sama kesehatan kamu ya, kalau kamu udah benar-benar sembuh dan sehat lagi seperti sedia kala kami janji bakalan ceritain semuanya sama kamu," Mika lembut dan penuh kasih sayang.
Silvia hanya terdiam menatap lekat wajah Dona sang ibu.
Ceklek ....
Pintu kamar mandi pun kembali di buka, Damien keluar dari dalam sana dan sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa.
"Kita pulang sekarang, Mom?" Ucapnya berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Iya, sayang. Papi juga harus berangkat ke kantor, udah terlalu lama Papi gak masuk kantor gara-gara jagain kamu di sini," jawab Daniel.
Damien memasang wajah masam karena sebenarnya dia tidak ingin berpisah dengan Silvia.
"Jangan manyun kayak gitu, gak lama lagi aku juga pulang ko," lirih Via seolah mengetahui apa yang ada di dalam hati Damien saat ini.
"Kamu cepat sembuh ya, aku tunggu kamu di rumah dan kamu selesaikan ucapan kamu yang tadi sempat terpotong, oke?"
Silvia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis membuat semua yang ada di sana menatap bingung ke arah Silvia dan juga Damien secara bergantian merasa tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua, tatapan mata keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang hendak berpisah.
"Silvia, Tante sama Om pulang dulu ya. Karena sekarang ada ibu kamu di sini, Tante sama Om bakalan jarang mengunjungi kamu ke sini.''
Setelah itu Damien dan kedua orang tuanya pun berjalan keluar dari dalam ruangan.
Silvia nampak menatap lekat punggung lebar pemuda itu sampai Damien benar-benar keluar dari dalam ruangan dan menghilang di balik pintu
'Aku suka sama kamu, Dam. Aku akan mengatakannya nanti kalau aku udah kembali ke rumah,' (batin Silvia)
♥️♥️
Sesampainya di rumah, Damien segera beristirahat dikamarnya. Entah mengapa otaknya masih saja memikirkan apa yang tadi ditanyakan oleh Silvia di Rumah sakit.
Dia bingung harus mengatakan apa nanti ketika gadis itu menanyakan hal itu lagi saat mereka bertemu. Apakah dia harus berkata jujur atau meneruskan kebohongan yang sudah terlanjur mereka rancang? Akh ... Entahlah, Damien dibuat bingung saat ini.
Damien pun berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal lalu meringkuk merasa gelisah.
''Sial, kenapa aku jadi mikirin Silvia terus sih? Baru beberapa jam gak ketemu udah kangen aja, apa aku telpon dia aja ya?'' Gumamnya merasa gelisah.
__ADS_1
Kemudian dia pun bangkit dan menatap sekeliling mencari ponsel miliknya namun, seketika pandangannya terhenti saat dia menyadari bahwa sudah beberapa hari ini dia tidak memegang ponsel, bahkan Damien pun tidak tau ponselnya berada di mana saat ini.
"Ponsel aku dimana ya? Aku lupa kalau aku gak main ponsel selama aku sakit," gumam Damien mengusap wajahnya kasar.
Damien pun turun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari dalam kamar lalu masuk ke dalam lift.
Tut ....
pintu Lift pun terbuka sesaat setelah lift itu sampai di lantai tiga dimana kamar ibunya berada.
"Mom ...?" Teriak Damien memanggil sang ibu.
"Iya, sayang. Mommy di sini."
Mika keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri Damien sang putra.
"Ada apa? Seharusnya kamu istirahat, Damien.'' Ucapnya lagi menatap wajah Damien dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Mom, apa Mommy liat ponsel aku? Ponsel Silvia juga apa Mommy yang simpen?"
"Ponsel? Nggak, Mommy gak simpen ponsel kamu."
"Hah ...? Itu artinya ponsel aku hilang dong, padalah itu ponsel keluaran terbaru yang baru aku beli bulan lalu," gerutu Damien mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah tinggal beli lagi, gampang 'kan?"
"Mom, boleh gak kalau beli ponselnya dua sekaligus tapi aku pengennya ponsel itu kembaran," pinta Damien sedikit cengengesan.
"Hmm ... Emangnya satunya buat siapa? Buat Silvia?"
"Iya, he ... he ... he ..."
"Damien, Mommy mau tanya sesuatu sama kamu."
"Hah ... Mau tanya apa? Kayaknya serius banget?"
"Apa kamu suka sama Silvia? Kamu tau 'kan kalau dia itu Tante kamu?"
__ADS_1
Damien terdiam menunduk tidak tau harus menjawab apa.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️