MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Pernikahan sederhana.


__ADS_3

Aldo merasa senang bukan kepalang, serasa mendapatkan lampu hijau dari sang ibu bahkan Lusi meminta dirinya untuk segera menikahi Ririn Minggu depan benar-benar membuat Aldo bagai mendapatkan durian runtuh.


Selain dia akan senantiasa dengan leluasa menyalurkan hasra*nya kepada Ririn apabila dia sudah sah menjadi suaminya, Aldo pun merasa bahagia karena akhirnya bisa memiliki Ririn seutuhnya dan tidak akan pernah terpisahkan lagi.


Dia pun segera mengantar Ririn pulang setelah sebelumnya menjemput Aldi sang putra terlebih dahulu. Di perjalanan, keheningan pun seketika tercipta. Ririn masih memikirkan setiap ucapan Lusi yang terasa melukai hati sebenarnya.


"Sayang, kenapa diam aja? Apa kamu gak senang kita akan segera menikah?" Tanya Aldo sedikit menoleh di sela-sela matanya yang fokus menatap ke depan.


"Hah ...? Eu ... Nggak ko. Aku gak apa-apa."


"Apa kamu tersinggung sama ucapan Mommy?"


Ririn terdiam memeluk Aldi sang putra yang tertidur di dalam pangkuannya.


"Gak usah di dengerin, beliau memang kayak gitu. Tapi, aslinya Mommy baik ko. Buktinya dia tidak memarahi kita meskipun ketahuan kita lagi--" Aldo tidak meneruskan ucapannya tidak ingin ucapannya sampai terdengar oleh Aldi.


"Eu ... Maksud aku, buktinya beliau langsung menikahkan kita, Minggu depan lagi. Aku benar-benar gak sabar ingin segera Minggu depan dan menikah sama kamu. O iya, besok aku jemput kamu buat kita siapin bareng-bareng pesta pernikahan kita ya."


Ririn hanya mengangguk datar.


♥️♥️


Satu Minggu kemudian, Lusi benar-benar menikahkan putra kesayangannya. Pernikahan pun diadakan sederhana karena memang diadakan secara mendadak dan tidak terlalu banyak persiapan.


Bayangkan saja, Aldo hanya memiliki waktu selama 7 hari untuk mempersiapkan pernikahannya bersama Ririn. Pernikahan pun hanya berupa akad nikah yang diselenggarakan di kediaman Lusi, akan tetapi, hal itu sama sekali tidak mengurangi kesakralan dan juga tidak mengurangi keabsahan keduanya menjadi sepasang suami-istri.

__ADS_1


Daniel dan sekeluarga pun nampak hadir di sana, begitupun dengan Damien dan juga Silvia yang turut hadir untuk menyaksikan sahabat mereka dalam mengucap ijab qobul.


Damien nampak menatap wajah Aldo sahabatnya yang sudah sah menjadi suami dari wanita bernama Ririn. Akhirnya dia pun percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Aldo bahwa dirinya akan menikahi wanita itu secepatnya bukanlah kebohongan belaka.


"Kenapa liatin mereka kagak gitu? Pengen nikah juga?" Ledek Silvia tersenyum menatap wajah Damien.


"Tentu saja, aku makin gak sabar pengen segera nikahin kamu juga."


"Kan emang bulan depan kita nikah, sabar kali. Satu bulan itu cuma 30 hari ko."


"Emang iya, sejak kapan satu bulan itu 40 hari? Ngaco kamu." Jawab Damien mencubit kedua sisi pipi Silvia gemas.


"Ikh ... Sakit tau." Ringis Sivia mengusap kedua sisi pipinya.


"Dih, dasar."


"O iya, sayang. Aldo enak banget ya nanti malam udah bisa langsung belah duren. Hmm ... Ngebayanginnya aja bikin aku ngiri deh." Ucap Damien lagi semakin tidak sabar ingin segera menjadi pengantin.


"Astaga, sayang. Otak kamu ini benar-benar ya, dibilangin sabar ya sabar.''


"Ya habisnya, seharusnya 'kan kita yang nikah duluan, kenapa jadi dia yang duluan sih?"


"Hahahaha ... Iri bilang, bos." Tawa Silvia seraya mencubit kedua sisi pipi tunanganya merasa gemas.


♥️♥️

__ADS_1


Acara pernikahan sederhana pun selesai, para tamu undangan nampak mulai meninggalkan tempat acara setelah menyantap aneka makanan yang disediakan.


Damien dan Silvia pun berpamitan kepada sepasang pengantin terlebih dahulu sebelum mereka berdua benar-benar pulang.


"Selamat ya, Aldo. Akhirnya kamu menikah juga," ucap Damien bersalaman seraya memeluk tubuh sahabatnya tersebut.


"Makasih, Dam. Kapan kalian nyusul. Udah nikah enak lho, apalagi tidurnya ada yang nemenin, pokoknya rasanya ni*mat dan bikin melayang tau.'' Celetuk Aldo membuat Damien seketika langsung mengurai pelukan lalu menatap wajah Aldo dengan tatapan heran.


"Lho, darimana kamu tau kalau rasanya ni*mat? Apa jangan-jangan kalian sudah--'' Damien tidak meneruskan ucapannya tidak ingin menyinggung perasaan mereka berdua.


"Eu ... Maksud aku, mulai nanti malam tidur aku bakalan ada yang nemenin. Pasti rasanya bakalan nikmat banget deh, hehehe ..." Ralat Aldo tersenyum malu.


"Oh, kirain. Kalian udah anu-anu duluan."


"Hus, Damien. Kalau ngomong itu jangan sembarangan," ketus Silvia mencubit pinggang kekasihnya membuat Damien seketika meringis kesakitan.


"Arghh ... Sakit, sayang."


"Ya udah, kami pulang dulu ya. Selamat buat kalian berdua. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warahmah. Amiiin ..."


"Amiiin ... Hati-hati di jalan, dan terima kasih udah datang ke sini ya." Jawab Ririn sang pengantin wanita dengan tersenyum bahagia.


Satu bulan kemudian.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2