
"Sebenarnya, anda ini ibu seperti apa? Kenapa hati saya sakit melihat wajah anda?" Tanya Silvia dengan wajah polos dan mata yang terlihat berkaca-kaca membuat Dona seketika terhenyak.
"Via, sayang. Kenapa kamu ngomong kayak gitu?" Dona dengan perasaan hancur.
Seburuk itulah citranya sebagai seorang ibu, sampai-sampai Silvia yang saat ini dalam keadaan hilang ingatan pun masih saja merasakan kesakitan yang pernah dia berikan.
"Entahlah, aku gak ingat apapun tentang Mommy tapi entah kenapa sesuatu di dalam sini merasakan sesuatu yang terasa menusuk, aku juga gak ngerti apa dan kenapa. Meskipun begitu bolehkah aku peluk Mommy?" Jawab Via polos.
"Tentu saja, sayang. Mommy juga kangen banget pengen peluk kamu, Via."
Silvia pun mencoba untuk bangkit dengan di bantu oleh Mika dan Dona sang ibu, akhirnya dia pun bisa duduk tegak dan langsung mendapatkan pelukan hangat dari ibu yang sangat dia rindukan itu.
Tangis Dona pun seketika pecah dengan mengusap punggung Silvia sang putri dia meluapkan kerinduan dan kesedihan yang sedang dia rasakan saat ini.
Sedih karena di saat putrinya itu kecelakaan Dona tidak sedang berada di sana. Sedih karena saat ini Silvia, putri yang sangat dia sayangi sama sekali tidak bisa mengingat dirinya ibu yang sudah membesarkan bahkan merawatnya dengan sepenuh hati meski dengan keadaan yang serba kekurangan.
"Maafkan Mommy, Via. Maaf karena Mommy udah banyak nyakitin hati kamu. Maafkan Mommy juga karena Mommy gak ada di sini saat kamu lagi butuhin Mommy, Mommy benar-benar menyesal, sayang. Hiks hiks hiks ..." Lirih Dona menangis sesenggukan seraya mengusap punggung putrinya lembut dan penuh kasih sayang.
Silvia hanya terdiam, dia memeluk erat wanita yang mengaku sebagai ibunya tersebut. Via memang tidak mengingat apapun tentang ibunya ini, tapi tidak dengan hati dan perasaannya bahkan rasa rindunya akan sosok ibu tersebut terasa begitu memenuhi relung hatinya bercampur dengan rasa sakit yang dia sendiri tidak tau karena apa membuat Silvia tidak mengerti sebenarnya.
"Sayang, Mommy yakin ingatan kamu pasti akan segera kembali dan kamu akan segera mengingat Mommy, betapa Mommy sangat menyayangi kamu, sayang." Lirih Dona mengurai pelukan dan mengusap wajah putrinya lembut.
"Iya, Mom. Aku juga berharap begitu," jawab Silvia dengan suara datar.
"Daniel, Mika. Aku ingin bicara sama kalian berdua, boleh?" Pinta Dona menatap wajah Daniel dan Mika secara bergantian.
"Boleh, Dona. Kita bicara di luar," jawab Mika berjalan keluar dari dalam ruangan.
"Sayang, Mommy bicara sebentar sama mereka ya."
Silvia menganggukkan kepalanya datar.
♥️♥️
Di luar ruangan.
__ADS_1
Dona duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruangan, begitupun dengan Daniel dan juga Mika yang saat ini duduk saling berdampingan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Dona?" Tanya Mika memulai pembicaraan.
"Begini, setelah sembuh aku akan bawa Via pulang."
"Hah, kenapa?"
"Apa lagi, agar aku bisa merawat dia sebagai ibunya 'lah."
"Tapi, Dona. Sebelumnya aku minta maaf. Keadaan Via lagi kayak gini, bukan maksud aku buat ngerendahin kondisi kamu tapi, akan lebih baik jika putrimu tetap tinggal di rumah kami dan mendapatkan perawatan dari Dokter," ucap Daniel sopan.
"Maksud kamu, keadaan aku ini seperti apa emangnya?"
"Ya aku udah bilang tadi. Aku sama sekali gak bermaksud buat ngerendahin keadaan kamu, hanya saja Silvia membutuhkan lingkungan yang nyaman, setelah dia keluar dari Ruang sakit pun dia masih membutuhkan rawat jalan dan pemeriksaan rutin."
Dona terdiam menundukkan kepalanya.
"Aku mohon demi Silvia putrimu, kamu mau menemani dia sampai dia sembuh. Aku harap kamu bisa sedikit menekan rasa sakit hati kamu kepada Daddy Richard bukan demi kamu tapi demi Silvia. Aku pun menyayangi dia, aku udah anggap dia seperti putriku sendiri tapi, dia lebih membutuhkan kamu, Dona."
Dona masih terdiam membisu seolah sedang berfikir.
"Tentu saja, rumah itu cukup besar buat ditinggali sama kamu juga. Lagian sebenarnya aku punya rumah lain yang sudah aku tinggalkan lama, dan rumah yang saat ini kamu tinggali memang ditinggalkan Daddy buat putri kamu.'' jawab Mika tersenyum ramah.
"Makasih, Mika, Daniel. Aku benar-benar berterima kasih sama kalian berdua karena gak pernah menyerah untuk menemukan kami," lirih Dona menatap wajah Mika dan juga Daniel secara bergantian.
"Sama-sama, Dona. Kalau kamu bersedia pindah ke rumah yang Daddy tinggalkan maka tugas aku buat jaga rumah itu sampai pemilik sahnya datang udah selesai," ucap Daniel merasa lega, beban yang selama ini dia pikul lebih dari 20 tahun akhirnya terlepaskan.
"Aku akan memikirkan hal itu, mungkin sudah saatnya aku mengikuti keinginan putriku. Dia udah terlalu lama hidup menderita dan serba kekurangan, terutama dia udah lama hidup dengan menahan rasa malu karena memiliki seorang ibu kayak aku. Sudah waktunya aku bertaubat dan membuka lembaran baru demi Silvia," lirih Dona bersungguh-sungguh.
♥️♥️
Di dalam ruangan, Silvia nampak masih duduk dengan wajah polos dan masih terlihat pucat pasi. Tatapan matanya terlihat kosong menatap ke depan membuat Damien merasa khawatir.
Sementara itu, Lusiana nampak hendak membawa Aldo melakukan pemeriksaan Rontgen untuk memastikan bahwa putra kesayangannya itu sudah baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
"Silvia, Damien, Tante ke ruangan Rontgen dulu ya," ucap Lusi dengan Aldo yang saat ini sudah duduk di kursi roda dengan wajah masam.
"Iya, Tante." Jawab Damien tersenyum.
"Eh, awas jangan macam-macam sama pacar aku ya," pinta Aldo menatap tajam wajah Damien saat kursi roda yang di duduknya mulai di dorong pelan oleh sang ibu.
"Iya-iya, bawel," jawab Damien kesal.
Setelah Aldo dan ibunya keluar dari dalam ruangan, kini tinggalah Silvia dan Damien yang berada di sana. Damien pun bangkit lalu duduk di tepi ranjang menatap wajah Silvia yang kini terlihat murung.
"Kamu baik-baik aja, Via?" Tanya Damien lembut penuh perhatian.
Silvia menggelengkan kepalanya menoleh menatap wajah Damien dengan tatapan sayu.
"Aku yakin kamu kuat, Via. Aku juga yakin ingatan kamu akan segera kembali, kamu gadis yang kuat lho, dari semenjak kita bertemu ini kali pertamanya aku melihat mata kamu sayu kayak gitu,'' ucap Damien mencoba menenangkan.
"Benarkah? Menurut kamu aku ingin gadis seperti apa?"
"Hmm ... Kamu itu ceria, urakan, kampungan tapi, itu dulu sebelum kamu aku bawa ke salon. Terus apa lagi ya? O iya, kamu itu kuat dan gak mau kalah, kita bahkan pernah berkelahi tau," jelas Damien sedikit terkekeh.
"Berkelahi? Benarkah? Aku sama kamu?" Silvia mengerutkan keningnya seraya tertawa ringan.
"Iya serius, lucu bukan? Muka aku sampe memar semua, pokoknya kamu itu gadis yang hebat percaya deh."
"Serius kamu gak bohong?"
Damien menganggukkan kepalanya penuh keyakinan seraya tersenyum.
"Damien, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?"
"Mau tanya apa?"
"Eu ... Kalian gak bohongi aku 'kan? Kalian gak manfaatkan situasi aku yang lagi hilang ingatan 'kan?"
"Maksud kamu bohong soal apa?''
__ADS_1
"Soal Aldo pacar aku. Entah mengapa aku merasa bahwa kalian semua berbohong. Aku hanya hilang ingatan tapi nggak sama perasaan aku. Kayak aku sama Mommy, aku emang lupa semua kenangan tentang Mommy tapi, tidak sama perasaan aku dan aku juga sadar kalau aku sama sekali gak merasakan perasaan apapun sama Aldo. Malah entah kenapa perasaan aku cenderung sama kamu Damien," ucap Silvia seketika membuat Damien terkejut.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️