
Silvia hanya bisa diam mematung. Tubuhnya terasa kaku dengan hati yang bergetar, kejutan yang dia terima serta alunan lagu yang diiringi suara petikkan gitar yang terdengar begitu merdu dan begitu menyentuh pun membuat jiwanya seketika melayang.
Damien sukses membuat kekasihnya itu benar-benar tersentuh, bahkan terasa menyentuh titik terdalam di dalam relung hati seorang Silvia.
"Jawab, sayang. Aku butuh jawabannya sekarang juga, aku gak suka menunggu terlalu lama," lirih Damien masih berjongkok tepat di depan Silvia.
"I-iya, sayang. Aku mau ... Aku mau menemani hari-hari kamu, aku juga mau jadi istri yang sempurna buat kamu. Meskipun aku belum sepenuhnya memiliki kesempurnaan yang kamu harapkan tapi, aku akan berusaha menjadi istri yang paling sempurna dan akan melayani kamu dengan sepenuh hati," jawab Silvia dengan suara yang bergetar, hatinya masih merasa terkesima dan meraba-raba kalau apa yang sedang dia lihat dan saksikan ini bukanlah sebuah mimpi mengingat bahwa dirinya baru saja bangun tidur.
"Terima kasih, sayang." Ucap Damien, mulai melingkarkan cincin bertahtakan berlian putih berkilau.
Cincin yang melingkar di jari manis Via pun terlihat pas, padahal Damien sama sekali tidak mengukur cincin tersebut. Dia hanya mengunakan feeling dan nalurinya sebagai seorang laki-laki.
"Makasih, Dam. Aku benar-benar senang banget. Aku gak tau kalau kamu pintar bermain gitar dan juga bernyanyi, suara kamu benar-benar bagus," lirih Via menatap wajah kekasihnya dengan tatapan penuh dengan kasih sayang.
Bukannya menjawab. Damien kini berdiri lalu memeluk tubuh Silvia erat dengan perasaan yang sangat bahagia. Silvia pun balas memeluk tubuh Damien. Tubuh kekar yang selalu saja terasa nyaman saat berada di dalam dekapannya, aroma wangi pun seketika menguar memenuhi Indra penciuman dan tercium begitu menyegarkan.
"O iya, aku punya kabar baik buat kamu, buat kita."
"Apa?"
"Aku akan segera melamar kamu secara resmi, Mommy dan Papi akan segera datang ke sini dan melamar'kan kamu buat aku."
"Hah? Serius?" Silvia mengurai pelukan lalu menatap wajah kekasihnya dengan perasaan tidak percaya.
"Iya, sayang. Mereka juga akan langsung menentukan tanggal pernikahan kita."
Silvia seketika terdiam menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kamu gak seneng kalau aku langsung melamar kamu secara resmi?"
"Nggak, bukan begitu. Hanya saja Tante Mika--" Silvia tidak meneruskan ucapannya.
"Jangan khawatir, Mommy udah setuju dengan hubungan kita.''
"Beneran?" Via mengangkat kepalanya seraya tersenyum senang.
__ADS_1
"Iya, sayang. Jadi, kamu gak usah khawatirin Mommy lagi."
"Makasih, sayang. Makasih banget. Aku benar-benar bahagia, tadinya aku kira ini semua cuma mimpi. Soalnya, ini aku baru saja bangun tidur."
"Udah siang gini baru bangun tidur?"
Via menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Astaga, anak gadis udah tengah hari gini baru bangun tidur?''
"Hehehe ..." Via cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
Tut ....
Pintu lift tiba-tiba terbuka membuat Damien segera mengurai pelukan dan memundurkan langkahnya memberi jarak.
"Hmm ... Mommy iri deh sama kalian berdua," ucap Dona berjalan menghampiri dengan tersenyum kecil.
"Hehehe ... Mommy udah tua, mana boleh Mommy iri sama anak muda kayak kita," jawab Via sedikit bercanda.
"Hehehe ... Sebenarnya di bantu sama pelayan juga, Tante.''
"Gak masalah sih, yang penting putri Tante ini bahagia. Iya 'kan Via?''
Silvia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.
"Mom ... Ada yang ingin kita bicarakan sama Mommy."
"Iya, Mommy tau apa yang ingin kalian bicarakan. Tante Mika udah nelpon Tante tadi."
"Hah? Mommy nelpon Tante?" Tanya Damien merasa senang.
"Iya, mereka akan datang kemari Minggu depan buat ngelamar putri Tante yang cantik ini."
"Syukurlah, akhirnya Mommy--"
__ADS_1
"Tante ucapan makasih sama kamu, Damien. Akhirnya kamu bisa yakinin ibu kamu buat nerima Silvia jadi pendamping hidup kamu. Tante benar-benar bahagia banget, akhirnya Via bisa mendapatkan laki-laki baik kayak kamu."
"Dulu, Tante sempat berfikir bahwa tidak akan ada laki-laki yang akan mau sama putri Tante ini, mengingat bahwa tidak ada satupun laki-laki yang mau dekat sama dia. Kamu itu laki-laki pertama dan terakhir yang Silvia cintai. Tante harap kamu bisa selalu mencintai dia dan jangan pernah berubah meskipun suatu saat nanti wajah putri Tante tidak akan secantik ini lagi.''
"Tante harap kamu akan tetap mendampingi dia meski suatu saat nanti tubuh putri Tante ini tidak selangsing sekarang lagi, dan Tante harap kamu akan tetap setia sama dia meskipun di luaran sana akan ada banyak wanita lain yang lebih cantik, lebih se*si bahkan lebih segalanya dari Sivia." Lirih Dona merasa terharu karena akhirnya sang putri bisa menemukan cinta sejatinya.
"Iya, Tan. Aku janji gak akan pernah menyakiti ataupun menduakan cinta aku dari putri Tante yang cantik ini. Aku akan berusaha menjadi suami yang setia dan tidak akan pernah berubah sedikitpun," jawab Damien penuh keyakinan.
"Terima kasih, terima kasih Damien," lirih Dona memeluk tubuh calon menantunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
❤️❤️
Sementara itu, di saat keluarga Daniel sedang sibuk menyiapkan acara pertunangan putra mereka dan merasa begitu bahagia. Hal yang berbeda dirasakan oleh pasangan suami-istri Lusiana dan Arman.
Sudah hampir satu Minggu putra mereka mendekam di balik jeruji. Mereka yang semula hendak memberi pelajaran terhadap Aldo sang putra, akhirnya menyerah dan memilih untuk menembus kebebasan putranya itu dengan sejumlah uang yang besar.
Lusi sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa rindu akan sang putra yang membuat rumahnya terasa sepi semenjak Aldo mendekap di penjara. Hari ini, Aldo pun di jemput oleh Lusi. Aldo merasa sangat senang karena akhirnya bisa menghirup udara kebebasan.
"Kenapa lama sekali jemput akunya, Mom. Apa Mommy tau kalau di dalam aku begitu tersiksa?" Tanya Aldo bukannya senang malah merasa kecewa karena sang ibu terlalu lama membiarkan dirinya di dalam sana.
"Udah untung Mommy mau nebus kamu setelah apa yang udah kamu lakukan. Bukannya bilang terima kasih malah marah-marah. Tau gitu, gak usah Mommy jemput aja sekalian," ketus Lusi merasa kesal.
"Hehehe ... Bercanda kali, Mom. Lagian, apa Mommy tau kalau aku di sini tidur di atas kasur tipis. Banyak nyamuk lagi," gerutu Aldo masih saja mengeluh.
Lusi pun lebih memilih tidak menghiraukan keluhan putranya. Dia pun berjalan keluar dari dalam kantor polisi dengan sedikit tergesa-gesa.
"Tungguin aku, Mom. Buru-buru banget si." Teriak Aldo mengekor dari belakang.
"Iya, Mommy emang buru-buru. Mommy mau langsung pergi ke hotel."
"Hah? Mau ngapain ke hotel?"
"Damien dan Silvia hari ini bertunangan." Jawab Lusi membuat Aldo seketika merasa terkejut.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1