
Keesokan harinya.
Silvia mengedipkan matanya secara perlahan, memaksa pelupuk matanya secara paksa mencoba untuk membuka mata. Sinar matahari yang sudah begitu terik perlahan masuk melalui jendela kaca yang memang sudah terbuka sempurna.
Sinarnya yang begitu terik terasa hangat dan menyilaukan mata, membuat kedua mata indah Silvia pun seketika langsung terbuka sempurna. Dia pun merentangkan kedua tangannya dengan mulut yang dibuka lebar-lebar.
"Huaaaa ... Jam berapa ini? Tumben tidur aku nyenyak banget," gumamnya mencoba untuk bangkit dari lalu duduk di atas ranjang.
Sivia pun menatap jam dinding yang tertempel di dinding kamarnya.
"Hah ... Jam 11 siang? Ya Tuhan, kenapa Mommy gak bangunin aku sih?" Gerutunya lalu turun dari atas ranjang.
Perlahan dia pun berjalan ke arah lift lalu menekan tombolnya dan segera masuk ke dalam sana setelah lift itu terbuka.
Tut ....
Pintu lift pun kembali tertutup dan dalam sekejap mata lift meluncur ke lantai dasar.
Tut ....
Silvia berjalan keluar dari dalam lift dengan mata yang menatap sekeliling. Sepi dan hening, rumah yang dihuninya benar-benar terasa seperti rumah kosong tanpa berpenghuni.
Dia pun berjalan ke arah dapur dan bertanya kepada salah satu pelayan yang sedang melakukan tugasnya.
"Mbak, semua orang kemana? Ko sepi banget si?" Tanya Via membuka pintu kulkas lalu mengambil botol air mineral.
"Eu ... Anu Nyonya, hampir separuh pelayan di sini ikut mengantarkan Nyonya Mika pindahan ke rumah barunya."
Byur ....
__ADS_1
Silvia yang sedang meminum air langsung dari botolnya pun seketika terkejut dan memuntahkan seluruh minuman yang ada di dalam mulutnya.
"Apa Mbak? Pindahan?"
"Iya, Nyonya. Memangnya Nyonya nggak tau?"
Silvia menggelengkan kepalanya dengan wajah yang terlihat kecewa karena semalam, dirinya masih bertemu dengan Damien dan kekasihnya itu sama sekali tidak mengatakan apapun.
"Nyonya?" Panggil pelayang tersebut membuat lamunan Silvia seketika buyar.
"Oh iya, Mbak. Jangan panggil saya Nyonya, saya masih muda, masih belum pantas di panggil Nyonya," pinta Silvia merasa tidak nyaman dengan panggilan tersebut.
"Tapi, Nyonya. Nyonya Mika bilang, katanya Nyonya Via ini adalah Nyonya rumah sesungguhnya di sini setelah beliau pindah, dan saya di tugaskan untuk melayani Nyonya dan menuruti semua perintah yang keluar dari mulut Nyonya."
"Hmm ..." Silvia hanya bergumam seraya duduk di kursi meja makan.
Silvia pun seketika berlari ke arah lift lalu naik lantai dua dimana kamar kekasihnya itu berada.
Tut ....
Via segera keluar dari dalam lift dan terkejut karena kamar itu sudah benar-benar kosong, hanya ada beberapa barang penting saja yang masih tertinggal di dalam sana seperti, ranjang, kursi dan lemari berukuran besar.
"Kamu beneran pindah, Dam? Kenapa kamu gak bilang apapun sama aku?" Gumamnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca dan berjalan semakin dalam memasuki kamar tersebut.
Matanya nampak menatap sekeliling berharap akan menemukan pesan terakhir yang ditinggalkan untuknya. Benar saja, matanya menangkap kertas yang tergeletak di atas ranjang besar di dalam kamar.
Dia pun berjalan dengan tergesa-gesa, meraih kertas tersebut dan membacanya.
_________
__ADS_1
♥️Dear Silvia Kekasihku
Maaf aku pergi tanpa pamit tapi, aku pasti akan sering mengunjungimu di sini. Aku gak pergi kemanapun, aku dan keluargaku hanya pindah rumah saja ke rumah kami yang sebenarnya, karena kata mereka pemilik sebenarnya rumah itu sudah kembali, yaitu kamu 'Miss Billionaire kesayangan aku.'
Sebenarnya tadi pagi aku sempat mau berpamitan dengan ke kamar kamu tapi, aku gak tega bangunin kamu yang ternyata masih tertidur lelap, bahkan terlihat sangat lelap.
Via, kamu percaya 'kan kalau aku sangat mencintai kamu? Apapun yang terjadi aku akan memperjuangkan cinta kita, dan menjadikanmu pendamping hidupku selamanya dan aku juga gak main-main saat mengatakan bahwa aku akan segera melamar kamu, hanya saja aku masih butuh waktu untuk meyakinkan Mommy dan juga Daddy bahwa aku benar-benar serius menjalin hubungan aku sama kamu.
I Love You, Via.
Tunggu aku, aku pasti akan sering mengunjungimu di sini.
Kekasihmu, Damien ♥️
______________________________
Begitulah isi surat tersebut. Ekspresi datar nampak ditunjukan oleh wajah Silvia, tidak ada sedikitpun raut kesedihan yang terlihat dari wajah cantiknya karena, di dalam surat itu tertulis jelas bahwa, kekasihnya itu hanya pindah rumah bukan benar-benar meninggalkan dirinya.
"Dih, dasar songong. Kalau dia emang datang ke kamar buat berpamitan, kenapa dia gak bangunin aku? Nyebelin," gumamnya memeluk kertas tersebut di dadanya.
"Aku pasti akan merindukanmu, Dam." Gumamnya lagi lalu berjalan ke arah lift dan hendak turun.
Tut ....
Lift pun tiba-tiba saja berbunyi, Silvia pun tersenyum senang dan berharap bahwa yang keluar dari dalam lift adalah kekasihnya. Akan tetapi, saat pintu lift tersebut terbuka wajah Silvia pun seketika berubah masam dan senyuman yang semula mengembang dari kedua bibirnya pun mendadak hilang.
"Kamu? Mau apa kamu datang kemari?" Tanya Silvia menatap kesal ke arah orang yang saat ini keluar dari dalam lift dan menghampiri dirinya dengan tersenyum menyeringai.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1