
"Saya terima nikah dan kawinnya Silvia binti Richard dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Sah ...?"
"Saaah ...."
Damien mengucapkan ijab qobul tanpa cela sedikitpun, cara dia mengucapkan kata sakral tersebut begitu tegas, lantang, dan lancar layaknya jalan tol yang bebas hambatan.
Silvia yang duduk tepat di sampingnya pun nampak mengusap wajahnya lembut seraya mengucapkan beribu-ribu kata syukur yang tidak terkira karena dirinya kini telah sah dipersunting oleh laki-laki pujaan hatinya.
Dona yang juga berada di sana pun nampak menatap wajah putri kesayangannya itu dengan perasaan bahagia dan juga haru, hingga tanpa sadar dirinya menitikan air mata tidak kuasa menahan rasa bahagia.
'Selamat sayang, akhirnya kamu telah sah menjadi istri dari pemuda bernama Damien. Mommy benar-benar bahagia, sangat bahagia. Mommy pikir kamu akan bernasib buruk sama kayak Mommy, hidup merana dan terlambat mendapatkan pendamping karena kamu anak yang lahir dari wanita jal*ng seperti Mommy,' (batin Dona.)
Ridwan yang sedari tadi memperhatikan wajah Dona pun nampak meraih telapak tangan wanita itu lalu mengenggam'nya erat seolah tahu apa yang saat ini sedang difikirkan oleh wanita pujaan hatinya itu.
Bahkan, Ridwan mengusap buliran air mata yang membasahi kedua pipi wanita itu lembut dan penuh perasaan menggunakan tisu yang memang sedari tadi sudah dia genggam.
"Kamu pasti terharu melihat Silvia menikah sampai-sampai kamu menangis kayak gitu." Lirih Ridwan setengah berbisik.
Dona pun menoleh dan menatap wajah Ridwan lalu tersenyum manis dan kembali rasa syukur itu dia ucapkan di dalam hatinya.
'Terima kasih karena kamu pun telah melengkapi kebahagiaan aku, Mas Ridwan.' (batin Dona.)
Setelah menempuh perjalanan panjang yang begitu berliku, dengan berbagai cobaan hidup yang tiada henti dan air mata yang tidak terhitung banyaknya, akhirnya Dona benar-benar merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya.
Melihat putrinya menikah dan dirinya juga akan segera dipersunting oleh laki-laki bernama Ridwan. Apakah ini akhir dari perjalanan panjangnya selama ini? Apakah ini juga akhir dari penderita yang selama ini dia rasakan?
"Sayang?" Lirih Ridwan membuyarkan lamunan panjangnya.
"Oh ... Maaf, aku melamun tadi," jawab Dona tatapan sayu'nya menyiratkan kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan.
"Acaranya udah mau selesai. Kamu jangan nangis terus kayak gini. Nanti make-up kamu luntur lho," lirih Ridwan lagi tersenyum membuat Dona pun seketika ikut tersenyum.
"O ya? Kamu bisa aja, Mas." Jawab Dona tersenyum lucu.
__ADS_1
Di tengah perasaan Dona yang terlihat begitu bahagia hingga dia tidak kuasa lagi menahan air matanya, hal yang sama dirasakan oleh Silvia sang putri.
Silvia akhirnya bisa bernapas lega karena proses ijab qobul berjalan lancar tanpa hambatan sedikitpun. Kata sakral yang telah mengikat dirinya menjadi seorang istri dari pemuda mapan bernama Damien bisa diucapkan oleh laki-laki itu tanpa di ulang dan tanpa hambatan.
Silvia nampak menoleh menatap wajah pemuda yang kini telah sah menjadi suaminya, dia bahkan tidak mendengar saat bapak Penghulu memintanya untuk menandatangani surat nikah.
"Nona Silvia?" Panggil Penghulu tersebut entah ke berapa kali beliau memanggil nama Silvia.
"Oh iya, Pak. Maaf saya gak denger," jawab Via tersenyum lalu meraih ballpoint dan menandatangani buku nikah tersebut.
"Makannya jangan melamun terus, lagi ngelamunin malam pertama kita ya?" Damien berbisik di telinga Silvia seraya tersenyum menggoda.
"Hus, ngaco. Gak ada ngelamunin malam pertama. Kamu aja yang udah gak sabar pengen cepet-cepet bermalam pertama 'kan?" Jawab Via berbisik sesaat setelah dirinya menanda tangani buku nikah tersebut.
Damien tersenyum kecil lalu meniup telinga Silvia membuat wanita itu seketika merinding di sekujur tubuhnya.
♥️♥️
Akhirnya malam pun tiba. Tamu undangan pun perlahan mulai meninggalkan tempat acara tersebut, menyisakan keluarga inti saja kini. Damien nampak berdiri dengan tidak sabar menunggu acara selesai.
Sampai akhirnya, Aldo naik ke atas panggung untuk berpamitan. Dia datang bersama Ririn sang istri dan juga putra sambungnya.
"Makasih, Aldo. O iya, ini siapa? Hebat bener baru nikah satu bulan udah punya anak gede kayak gini?''
"Kenalin namanya Aldi, dia anak sambung aku."
"Hah? Aldi? Yakin cuma anak sambung? Ko namanya bisa--" Damien tidak meneruskan ucapannya.
"Hus, emang dia anak sambung aku ko.''
"Oke-oke, terserah kamu aja."
"O ya, mau aku kasih resep nggak biar malam pertamanya lancar?"
Seketika mata Damien nampak berbinar seraya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Aldo pun berbisik di telinga Damien, entah apa yang dibicarakan olehnya karena baik Silvia maupun Ririn tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Hahahaha ... Oke, aku akan gunakan tips yang kamu berikan ini. Mudah-mudahan nanti malam bisa lancar tanpa hambatan apapun." Tawa Damien seketika pecah setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Aldo.
"Kalian ngomongin apa si? Aldo, awas ya suami aku jangan diajarin yang macam-macam,'' ketus Silvia melingkarkan tangannya di pinggang Damien.
"Gak diajarin yang macam-macam ko, cuma di ajarin caranya membobol gawang biar bisa langsung gol hanya dengan satu tendangan.''
"Hah?"
"Udah-udah, tadi kamu pamitan pulang 'kan? Buruan gih pulang, biar aku bisa langsung masuk kamar." Canda Damien dengan perasaan tidak sabar.
"Oke-oke, ingat pesan aku tadi ya. Dijamin tokcer deh," jawab Aldo kemudian menyalami Silvia diikuti oleh Ririn kemudian.
Sampai akhirnya, acara pun benar-benar selesai. Damien nampak berjalan ke arah kamar dengan tidak sabar bersama Silvia sang istri yang kesusahan berjalan karena dirinya mengenakan gaun yang teramat panjang.
"Sabar dong, sayang. Bukanya tungguin mereka dulu biar bisa bantu aku bawain gaun ini. Ini tuh berat tau," ketus Silvia mengangkat gaun tersebut tinggi.
Padahal Damien membantu membawa sebagian gaun yang menjuntai di lantai, tapi rasanya gaun itu tetap saja terasa berat membuatnya benar-benar kesulitan untuk berjalan.
"Gak usah di bantuin mereka, 'kan udah ada aku suami kamu yang bantuin."
"Tapi tetep aja berat tau."
"Ya udah aku gendong deh."
Damien tiba-tiba saja menggendong tubuh Silvia tanpa diminta dan tanpa aba-aba membuat Silvia seketika terkejut dan tetawa bahagia. Karena merasa tidak sabaran Damien pun berlari dengan menggendong Silvia lalu segera masuk ke dalam kamar.
"Blug ..."
Pintu kamar pun di tutup rapat lalu di kunci dari dalam.
"Pelan-pelan, sayang." Teriak Silvia di dalam sana.
"Ini udah pelan, sayang."
__ADS_1
"Sakit tau. Aaarhhhhhhhh ...'' Teriak Silvia memekikkan telinga.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️