
Damien dan juga Silvia dibuat terkejut saat mereka berdua membuka pintu karena tiga orang Polisi nampak sudah berdiri di depan pintu bersama Aldo dan kedua orang tuanya.
Wajah Aldo nampak sudah di balut oleh beberapa perban putih. Beberapa luka lembab pun masih terlihat jelas di wajahnya dan wajah seorang Aldo benar-benar babak belur.
"Tangkap dia, Pak. Dia udah mukulin saya tanpa sebab. Coba liat, muka saya sampai babak belur kayak gini," pinta Aldo seraya meringis kesakitan.
"Bohong, Pak. Mana mungkin saya mukulin dia tanpa alasan. Saya ngelakuin itu karena--"
Belum sempat Damien meneruskan ucapannya, satu orang Polisi seketika melingkarkan borgol di kedua tangan Damien membuat Silvia panik dengan mencoba menjelaskan.
"Saudara Damien, anda saya tangkap atas laporan penganiayaan dan tindakan tidak menyenangkan, silahkan lakukan pembelaan di kantor kami dan anda berhak didampingi pengacara,'' ucap Pak polisi tersebut.
Grep ....
Kedua tangan Damien pun kini diikat kuat menggunakan borgol.
"Kejadiannya bukan kayak gitu, Pak. Saya bisa jelasin. Saya saksinya, Pak. Tolong lepasin pacar saya," pinta Silvia dengan sedikit terisak.
"Udah, Pak. Jangan percaya, cepetan bawa dia ke Kantor Polisi dan penjarakan si brengsek ini.''
"Brengsek kamu, Aldo. Jelas-jelas kamu yang--"
"Sudah, Pak. Cepetan bawa dia, tunggu apa lagi,'' Aldo kembali menyela sebelum Damien menyelesaikan ucapannya.
"Jangan, Pak Polisi. Jangan bawa dia, dia sama sekali gak salah, hiks hiks hiks ..." Pinta Silvia menangis dengan memegangi pergelangan tangan Damien.
"Nggak apa-apa, Via. Kamu tau, Tuhan gak tidur, dia pasti akan menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kamu hubungi orang tua aku, ya."
"Gak usah, Om sama Tante udah ngehubungi orang tua kamu. Mereka sedang di perjalanan ke sini sekarang," ucap Arman yang juga berada di sana begitupun dengan Lusiana yang datang bersama.
__ADS_1
Benar saja, tidak lama kemudian mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan halaman rumah itu. Mika dan Daniel segera keluar dari dalam mobil dan berlari menghampiri putranya dengan perasaan khawatir.
"Astaga, Damien. Kenapa tangan kamu di borgol kayak gini?" Ucap Mika berdiri tepat di depan putranya dengan wajah pucat pasi.
"Lusi, Arman. Kenapa harus sampai sejauh ini? Bukannya anak-anak kita memang biasa berkelahi kayak gini? Seharusnya, kamu gak usah sampai membawa pihak berwajib segala," tanya Daniel tegas dan merasa kecewa.
"Berkelahi katamu? Lihat wajah putraku, dia sampai babak belur kayak gini. Ini namanya bukan berkelahi lagi tapi, udah masuk tindakan penganiayaan." Jawab Lusi memperlihatkan luka di wajah Aldo.
Mika dan Daniel memang tidak mengelak, wajah Aldo memang babak belur.
"Tapi tetap aja, kalian gak usah bertindak sejauh ini. Bukankah ini semua masih bisa di selesaikan secara baik-baik, iya 'kan Aldo?"
"Nggak, Om. Saya mau Damien di adili seadil-adilnya, rasanya sakit banget Om." Tegas Aldo dengan suara memelas.
"Maaf, jika kalian ingin melakukan pembelaan, silahkan lakukan di kantor kami. Kami akan membawa saudara Damien sekarang juga," ucap Polisi tersebut membawa tubuh Damien bersama mereka.
Mika dan Daniel pun mengikuti mereka dari arah belakang. Mereka berdua akan melakukan apapun agar putra kesayangannya itu bisa dibebaskan.
"Om, Tante. Aku ikut kalian ke kantor polisi ya," pinta Silvia meraih pergelangan tangan Mika memelas.
"Buat apa kamu ikut segala. Tante yakin semua ini terjadi gara-gara kamu," ketus Mika membuat Silvia seketika merasa kecewa, karena tatapan mata ibu dari kekasihnya terlihat sinis tidak seperti biasanya.
Silvia pun hanya bisa terdiam mematung menatap Damien sang kekasih di masukan ke dalam mobil Polisi.
'Ya ... Semua ini memang gara-gara saya, Tante. Saya benar-benar minta maaf, karena saya Damien masuk penjara sekarang,' (batin Silvia dengan mata yang berkaca-kaca)
Perlahan, ketiga mobil yang semula berjejer di depan halaman luas kediamannya pun melaju pelan meninggalkan halaman sampai akhirnya melesat kencang di jalanan.
Seiringan dengan itu, satu mobil pun memasuki halaman. Mobil yang dikendarai oleh Ridwan pun nampak berhenti tepat di depan Silvia yang saat ini masih berdiri mematung di teras rumah dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Ridwan dan Dona yang juga melihat ketiga mobil yang baru saja keluar dari halaman pun langsung keluar dari dalam mobil, menghampiri Silvia dengan tergesa-gesa dan perasaan khawatir.
"Via? Kenapa mobil Polisi keluar dari sini? Siapa yang di tangkap?" Tanya Dona sang ibu.
"Mom ... Hiks hiks hiks ...'' Silvia hanya menangis sesenggukan seraya memeluk tubuh ibundanya.
"Sayang. Kenapa kamu menangis? Ada apa? Coba ceritakan pelan-pelan ya?"
"Anu, Mom ... Damien di bawa ke kantor Polisi dan semuanya gara-gara aku, hiks hiks hiks ...''
"Astaga ... Kenapa bisa kayak gitu?" Tanya Ridwan yang juga berada di sana.
"Sebaikanya kita masuk, kamu tenangkan diri kamu dulu ya baru ceritakan pelan-pelan," pinta Dona mengurai pelukan lalu memapah tubuh putrinya untuk masuk ke dalam rumah.
♥️♥️
Setelah meminum segelas air, menata perasaannya yang sempat tidak karuan. Akhirnya, Silvia pun menceritakan semua yang baru saja menimpa dirinya dari A sampai Z tidak ada satupun yang terlewatkan, diiringi suara isakan dan menahan rasa sesak di dadanya, Via menjelaskan semuanya jelas sejelas-jelasnya.
"Hmm ... Jadi begitu. Om ngerti gimana perasaan kamu, sayang. Tapi, kamu gak usah khawatir, Om akan bantu kamu buat bebasin Damien dari kantor polisi."
"Beneran, Om? Damien masih bisa bebas 'kan? Dia gak bakalan di penjara 'kan?" Tanya Silvia mengusap wajahnya, membersihkan sisa air mata yang masih saja membasahi wajah cantiknya.
"Tentu saja. Si Aldo itu melupakan satu hal sebelum dia melaporkan Damien ke Kantor Polisi," ucap Ridwan tersenyum penuh kemenangan.
"Apa itu, Om?"
"CCTV ... Dia lupa kalau di dalam lift ada CCTV nya, begitupun di ruangan ini. Kamu lihat ... Di setiap sudut rumah ini ada CCTV yang akan merekam jelas semua yang dilakukan semua orang yang ada di rumah ini,'' ucap Ridwan menunjukkan letak CCTV yang memang tertempel di setiap sudut rumah tersebut.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1