MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Resmi Berpacaran


__ADS_3

"Aku suka sama kamu, Damien. Aku cinta sama kamu," lirih Silvia secara tiba-tiba membuat Damien seketika tersenyum senang sekaligus tidak menyangkan bahwa dia akan mendapatkan pernyataan cinta secara tiba-tiba dari Silvia, wanita yang dicintainya.


"Via?" Gumam Damien terbata-bata juga gugup.


"Iya, Damien. Aku gak tau kenapa aku bisa seberani ini mengatakan hal itu. Apakah dulu aku juga kagak gini?" Tanya Via menatap sayu wajah Damien.


"Aku gak peduli kayak gimana kamu sebelum kamu hilang ingatan, yang jelas aku suka kamu yang sekarang. Aku juga cinta kamu, Silvia." Jawab Damien tersenyum lalu meletakkan kedua tepak tangannya di kedua sisi pipi tirus Via lalu mengecup pelan bibir mungil yang saat ini terlihat pucat pasi.


Cup ....


Pelan dan lembut, seperti itulah kecupan singkat yang dilayangkan oleh Damien. Bibir Silvia pun tersenyum kecil menatap wajah tampan Damien yang saat ini berada sangat dekat dengannya.


Setelah itu, ciu*an yang sesungguhnya pun dimulai, Silvia melingkarkan tangannya di leher Damien sementara pemuda yang saat ini sedang dimabuk asmara itu nampak masih meletakkan telapak tangannya di kedua sisi pipi Silvia seraya mel*mat bibirnya buas penuh kasih sayang


Silvia yang baru pertama kali merasakan sentuhan hangat dan juga kenyal bibir seorang pria, nampak memejamkan mata begitu menikmati betapa sesuatu yang selama ini hanya ada dalam bayangannya itu ternyata begitu nik*at hingga tanpa sadar bibirnya kini mencoba mengimbangi setiap permainan panas yang disuguhkan oleh Damien.


"Gimana sama Aldo?" Tanya Damien sesaat setelah dia melepaskan tautan bibirnya dengan wajah yang masih berada sangat dekat.


"Entahlah, aku sama sekali gak cinta sama dia. Aku maunya kamu yang jadi pacar aku, bukan dia," jawab Via kembali mengecup kecil bibir Damien singkat.


"Hmm ... Aku gak tau harus bilang apa sama dia. Tapi, aku gak peduli yang penting kamu cinta sama aku dan aku juga cinta sama kamu. Kita pacaran mulai sekarang," tegas Damien memeluk tubuh Silvia merasa begitu bahagia.


"Aku bahagia banget," lirih Via melingkarkan tangannya di leher Damien mendekapnya erat.


♥️♥️♥️


Hari-hari yang dijalani oleh Silvia dan juga Damien terasa begitu bahagia, setiap detik yang mereka lewati seakan begitu berharga mengingat bahwa Damien akan segera pindah dari rumah itu namun, dia sama sekali belum memberitahukan hal itu kepada Silvia karena tidak ingin merusak kebahagiaan yang sedang mereka rasakan.


Saat ini, Damien nampak sudah bersiap hendak pergi berdua bersama Silvia. Dia berdiri di depan cermin merapikan stelan kemeja berwarna abu lengkap dengan celana jeans dengan warna yang sama yang dipakainya.


Wajahnya nampak begitu ceria, senyuman lebar bahkan mengembang sempurna dari bibir merah seorang Damien yang saat ini sedang dimabuk asmara.


Tut ....


Pintu lift pun terbuka, Silvia yang kini terlihat begitu cantik dengan dress pendek dengan warna yang sama dengan Damien nampak keluar dari dalam lift berjalan dengan tersenyum menghampiri kekasihnya.


"Lama banget si? Aku nungguin dari tadi lho." Tanya Via berjalan memasuki kamar.


"O ya? Seharusnya, kamu tungguin aja aku di atas biar nanti aku yang ke sana, gak usah kamu yang repot-repot datang ke sini, sayang."

__ADS_1


Jawab Damien yang juga segera menghampiri setelah melihat Silvia.


"Gak apa-apa, aku gak keberatan sama sekali datang ke sin. Justru aku senang banget bisa dengan bebas datang ke sini kapanpun."


"Hmm ... Dasar, nanti kalau ibu kamu tau gimana? Apa dia gak keberatan sama sekali melihat kamu keluar masuk kamar laki-laki?"


"Gak usah mikirin dia, yang penting 'kan kita gak ngapa-ngapain." Jawab Via tersenyum lebar seraya memeluk tubuh kekar pemuda yang telah resmi jadi kekasihnya itu.


"Hmm ... Bener juga sih, kalau cuma pelukan kayak gini kayaknya masih wajar deh. Asalkan kita jangan sampai melewati batas wajar dalam berpacaran, aku janji gak akan merusak masa muda kamu dengan melakukan hal terlarang yang biasa dilakukan kebanyakan orang di luaran sana. Aku janji akan menjaga kamu, Silvia." Lirih Damien mengecup pucuk kepala kekasihnya.


"Eu ... Kita mau jalan kemana hari ini?"


"Kamu maunya kemana?"


"Entahlah, aku gak tau mau pergi kemana. Gak ada satu tempat pun yang terbayang di kepalaku."


Damien terdiam sejenak masih mendekap erat tubuh Silvia. Sampai akhirnya, dia pun mengurai pelukan dan menatap wajah Silvia dengan tatapan penuh rasa cinta.


"Apa kamu mau kita berkunjung ke suatu tempat, tempat yang sempat kita kunjungi sebelum kita kecelakaan?"


"O ya? Dimana itu?"


"Maksud kamu ke kuburan?"


Damien menganggukkan kepalanya.


"Waktu kecelakaan itu terjadi, kita ke kuburan malam-malam?"


Damien kembali menganggukkan kepalanya tersenyum manis.


"Astaga? Kenapa bisa kayak gitu? Masa ke kuburan malam-malam si?"


"Hahaha ... Aneh 'kan? Itulah kamu? Keras kepala, aku sudah menolak tapi kamu yang memaksa untuk ke sana."


"Hmm ... Jadi kalian kecelakaan karena aku?" Silvia menunduk sedih.


"Nggak, kecelakaan itu bukan karena kamu tapi, karena aku yang kebut-kebutan malam itu padahal kamu udah ngingetin aku berkali-kali. Aku minta maaf karena aku, kamu jadi Amnesia," ucap Damien mengurai pelukan lalu mengusap wajah Silvia lembut.


"Ya udah, jangan di bahas lagi toh semua udah terjadi, dan yang paling penting kita selamat dan masih bisa bersama sampai sekarang."

__ADS_1


Damien menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Kita berangkat sekarang?"


Damien kembali menganggukkan kepalanya seraya mengulurkan meraih pergelangan tangan Silvia lalu menggenggam erat jemari-nya dan mulai berjalan keluar dari dalam kamar.


♥️♥️


Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di pemakaman, hanya membutuhkan waktu selama kurang lebih satu jam mereka sudah sampai di sana kini. Mobil Damien pun nampak di parkir di tepi jalan raya tepat di belakang mobil berwarna putih yang juga di parkir di tempat yang sama.


"Kayaknya itu mobil Om Ridwan deh? Apa dia lagi ada di sini juga?" Ucap Damien pelan lalu membuka pintu mobil.


Ceklek ....


Pintu mobil pun di buka, Damien keluar dari dalam mobil begitupun dengan Silvia.


"Kamu kenal sama pemilik mobil itu?" Tanya Silvia menatap lekat mobil berwarna putih di hadapannya


"Iya, itu mobil Om Ridwan."


"O ya?"


Damien menganggukkan kepalanya.


Mereka pun berjalan menuju pusara Richard. Mata Silvia nampak mantap sekeliling area pemakaman yang terlihat luas lengkap dengan rerumputan hijau membentang.


Sampai akhirnya, mata mereka berdua menangkap sosok Ridwan bersama Dona yang sedang berdiri tepat di depan pusara Richard. Silvia pun tersenyum senang lalu hendak berlari menghampiri ibunya namun, seketika dia pun menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara Dona sang ibu berbicara seolah ayahnya itu bisa mendengar suaranya.


"Mas, Richard. Aku harap kamu tenang di sana? Terima kasih karena telah meminta Ridwan untuk mencari kami dan terima kasih karena telah meninggalkan harta yang begitu melimpah untuk mencukupi kebutuhan aku dan juga putri kita. Aku datang ke sini untuk meminta izin padamu, pria di samping aku ini bersedia menikah dengan aku dan menjadi ayah sambung buat Silvia. Mulai saat ini Silvia akan memiliki seorang ayah dan tidak ada lagi yang akan memanggilnya anak haram."


Silvia seketika merasa lemas mendengar sang ibu mengucapkan kata anak haram.


"Apa aku anak haram?" Gumamnya pelan dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Hai-hai Reader, promosi Novel lagi ya. Kali ini dari Author keren dengan Novel yang di jamin menarik dan tidak membosankan. Jangan Lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya.


__ADS_1


__ADS_2