MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Pindah


__ADS_3

"Silvia sayang, kenapa kamu gak bilang sama aku kalau kamu pulang hari ini," tanya Aldo langsung memeluk Silvia membuat semua yang ada di sana terkejut seketika membulatkan bola matanya, terutama Damien yang saat ini mengepalkan kedua tangannya merasa cemburu.


"Aldo, apa-apaan si kamu?" Lusi menarik lengan Aldo merasa tidak enak dengan Dona yang juga berada di sana.


"Via, seharusnya kamu ngomong ke aku kalau kamu pulang hari ini. Mungkin aku bakalan jemput kamu ke Rumah sakit," tanya Aldo lagi tidak menghiraukan peringatan sang ibu.


"Cukup Aldo." Lusi menarik tangan Aldo.


"Eu ... Maaf Aldo, aku gak tau harus ngehubungi kamu kemana, makannya aku gak bisa kasih kabar ke kamu," jawab Via merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Aldo sebenarnya.


"Apa kamu gak ada ponsel?"


Silvia menganggukkan kepalanya.


"Ya udah nanti aku beliin ya."


"Gak usah, udah aku beliin ko," jawab Damien datar.


"Ko kamu, seharusnya aku dong yang beliin dia ponsel? Aku 'kan pacarnya."


"Udah-udah cukup ya kalian berdua. Aku lapar banget jadi, bisa kita masuk sekarang?" Pinta Silvia.


"Oh, iya sayang. Kita masuk ya, Lusi, Aldo kita langsung ke ruang makan ya, aku udah menyiapkan hidangan spesial buat menyambut kepulangan Silvia." Pinta Mika ramah.


"Makasih, Mika. Maaf ya, kami datang di waktu yang kurang tepat." Jawab Lusi merasa tidak enak.


"Nggak ko, Lusi. Untung kamu datang, suasana rumah jadi tambah ramai makin banyak orang aku makin ngerasa seneng."


Semua yang ada di sana pun masuk ke dalam rumah secara bersamaan.


♥️♥️


Dua jam kemudian.


Selesai makan siang, Via pun segera naik ke lantai empat dengan ditemani oleh Dona dan juga Mika. Wajah Via sendiri masih terlihat pucat pasi dengan raut wajah yang tidak seceria dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.


Bagi Damien, Silvia yang saat ini sedang dalam keadaan Amnesia terlihat begitu berbeda dengan Silvia yang selalu terlihat ceria dengan tatapan mata sombong penuh percaya diri yang saat ini nampak sudah tidak terlihat lagi.


Betapa Damien begitu merindukan sosok Via yang dulu. Gadis yang selalu melayangkan tatapan sinis padanya kini seolah telah berubah jadi gadis pendiam yang telah kehilangan jati dirinya.


Tut ....


Pintu Lift pun seketika berbuka, Silvia keluar dari dalam lift begitupun dengan Dona dan Mika yang berada di dalam lift yang sama. Mata gadis itu pun menatap sekeliling ruangan luas itu dengan tatapan mata takjub merasa terpesona dengan ruangan yang akan ditinggalinya itu.


"Selama ini aku tinggal di sini?" Tanya Via berjalan ke arah kamar dengan di gandeng oleh Mika dan ibunya.

__ADS_1


"Iya sayang. Kamu tinggal di sini, ini kamar kamu. Gimana, apa kamu suka?" Jawab Mika tersenyum ramah.


Silvia menganggukkan kepalanya.


"Kamu istirahat ya, sayang. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang sama Mommy. Oke?"


Silvia kembali menganggukkan kepalanya lalu naik ke atas ranjang menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Tut ....


Tiba-tiba pintu lift kembali terbuka, Damien dan Ridwan juga Aldo beserta Lusi masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Mika, aku pamit ya. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," pamit Lusi berjalan ke arah kamar.


"Mom, ko pulang sih? Aku masih pengen di sini," rengek Aldo layaknya anak kecil.


"Aldo, Mommy masih banyak kerjaan di kantor. Kalau nanti Mommy dimarahi bos Daniel gimana?" Jawab Lusi menatap wajah Aldo sang putra.


"Ya udah, tapi aku mau di sini dulu ya."


"Gak bisa, kamu pulang aja bareng Tante Lusi. Lagian kamu juga harus istirahat," ucap Damien tidak suka jika Aldo berada di sana.


"Aku udah baikan ko. Beneran." Jawab Aldo meyakinkan.


"Mom ...?" Rengek Aldo.


"Aldo, nanti kita balik lagi ke sini ko. Lagian emang udah biasa 'kan kamu nginep di sini juga. Hanya saja, sekarang keadaan kamu lagi kayak gini, kasian Via juga dia harus istirahat lho."


Aldo terdiam menunduk dengan perasaan kecewa dan akhirnya, mau tidak mau dia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Ya udah aku pulang sama Mommy." Jawab Aldo dengan suara lemah.


"Bagus," Damien sedikit bersorak senang.


"Ko bagus? Awas ya kamu, jangan deket-deket sama pacar aku.''


"Apaan si, lebay banget.''


"Bukannya lebay, aku gak suka aja ngelihat kamu terlalu dekat sama Silvia."


"Cukup Aldo. Kita pulang sekarang ya." Lusi menarik pergelangan tangan putranya dan mulai berjalan keluar dari dalam kamar menuju lift.


"Sivia, sayang. Nanti aku beliin kamu ponsel baru ya, aku pasti balik lagi ke sini buat nengokkin kamu. Aku sayang kamu, Silvia," teriak Aldo sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam lift.


Tut ....

__ADS_1


Pintu Lift pun seketika terbuka dan sesaat kemudian lift pun kembali tertutup setelah Lusi dan putranya masuk ke dalam sana.


Silvia hanya menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak terlalu nyaman dengan sikap Aldo yang terlalu berlebihan sebagai seorang pacar, dan anehnya hati Via masih merasa hampa dan tidak bisa merasakan sisa-sisa perasaan yang seharusnya masih terselip di dalam hatinya untuk Aldo meskipun dia sedang dalam keadaan Amnesia.


Dia pun menatap ke arah Damien, memandangi wajahnya lekat dan merasakan bahwa kepada dialah hatinya merasa bergetar kini, bahkan benih-benih cinta itu masih terasa begitu menggebu meski ingatan tentang pemuda itu tidak tersisa di dalam memori otaknya.


"Silvia, jangan ngelamun kayak gitu. Aldo mah gah usah di pikirin gak penting," ucap Damien seolah tau apa yang sedang dipikirkan oleh Via.


"Hmm ..."


"Tante tinggal ya, sayang. Hari ini Tante mau ada keperluan penting," pamit Mika.


"Keperluan penting apa, Mom? Tumben Mommy punya keperluan penting," celetuk Damien sedikit bercanda.


"Mommy mau nengokkin rumah lama kita, udah lama Mommy gak ke sana."


"Rumah lama?"


Mika menganggukkan kepalanya.


"Kenapa? Bukannya rumah itu udah lama kosong?"


"Itu dia, rumah itu lagi dibenahi lagi, dan rencananya kita akan pindah ke sana.''


"Hah?"


"Kenapa?"


"Justru aku yang mau nanya sama Mommy, kenapa kita pindah ke sana?" Damien terlihat kecewa.


"Nanti Mommy jelasin, sekarang Mommy pergi dulu ya." Jawab Mika berjalan ke arah lift dan langsung di susul oleh Damien yang saat ini masih dalam keadaan kesal karena dia merasa tidak terima jika tiba-tiba harus keluar dari rumah ini dan tentu saja dia tidak ingin berpisah dengan Silvia.


♥️♥️


Damien mengikuti Ibunya sampai ke lantai tiga dimana kamarnya berada. Dia masih penasaran apa sebenernya alasan ibunya tersebut yang mengatakan bahwa dia akan pindah ke rumah yang sebenarnya sudah lama dibiarkan kosong.


"Mom, jawab aku. Kenapa kita harus keluar dari rumah ini? Aku gak mau, Mom. Aku gak mau pindah dari sini," rengek Damien mengerucutkan bibirnya.


"Sayang, dengerin Mommy. Sebenarnya, rumah ini adalah rumah peninggalan kakek kamu yang udah diwariskan kepada Silvia dan ibunya. Mommy dan Papi udah sepakat akan pindah ke rumah kami sendiri jika pemilik sah udah datang dan menempati rumah ini jadi, kamu harus terima keputusan kami karena ini keputusan yang sudah lama sekali kami buat dan telah kami pikirkan matang-matang, lagipula sebenarnya Mommy gak terlalu suka tinggal di sini.''


"Rumah ini terlalu besar buat Mommy, dan Mommy merasa sangat kesepian tinggal di rumah yang terlalu luas ini jadi, Mommy mohon kamu ngerti dan turuti keinginan Mommy dan Papi, oke? Setelah rumah kita selesai dibenahi kita segera pindah."


Jelas Mika membuat Damien tercengang dan merasa kecewa.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2