
Lusi benar-benar menggila, rasa lelah, penat dan bahkan masalah yang selama beberapa hari ini dia hadapi seolah ingin sekali dia lupakan. Cara melupakannya, ya dengan bermain bersama sosis jumbo yang memang selalu menjadi benda favoritnya dari semenjak dia bertemu dengan Arman suaminya.
Suara len*uhan dan desa*an pun seketika terdengar saling bersautan memecah keheningan malam yang semakin larut menyisakan kehangatan dan kenikm*tan yang kini mereka rasakan.
Lusi dan Arman pun meng*rang panjang saat apa yang mereka buru berhasil mereka dapatkan secara bersamaan diiringi dengan peluh dan keringat yang kini membasahi tubuh keduanya.
"Akkhh ... Sayang, aku--'' Lusi tidak kuasa meneruskan ucapannya, rasa nik*at yang dia rasakan benar-benar membuat raganya terasa bergetar, dia pun hanya bisa memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya keras merasakan gelombang keni*matan yang tidak tara.
"Iya, sayang. Kamu benar-benar luar biasa," jawab Arman yang juga terlihat memejamkan mata.
Bruk ....
Arman pun terkulai lemas tepat di atas raga sang istri dengan jiwa yang benar-benar terasa menyatu, merasakan nikmatnya surga dunia dan melayang ke angkasa.
Selama 30 menit, mereka pun berada dalam keadaan seperti itu seolah tidak ingin dipisahkan.
"Turun, sayang. Berat tau." Pinta Lusi menundukkan kepalanya menatap kepala sang suami yang kini berada tepat di atas gunungan kembar miliknya.
"Ish ... Tadi aja men*esah keenakan, sekarang aja di suruh turun," ledek Arman sedikit terkekeh.
"Hahaha ... Sekarang sama tadi situasinya beda dong, sayang."
"Apa bedanya, sama-sama di atas 'kan?"
"Kalau tadi enak, kalau sekarang berat. Udah buruan turun." Rengek Lusi karena tubuh kekar suaminya itu benar-benar terasa berat menyesakan.
"Iya-iya, habis manis sepah di buang ini. Padahal milikku ini masih betah di dalam sana lho."
__ADS_1
"Hmm ... Besok lagi, sayang. Aku 'kan ada meeting penting besok. Katanya kamu mau ajak Aldo buat bantuin kamu di Restoran juga?"
"Iya juga ya. Ya udah aku turun sekarang deh.''
Mau tidak mau Arman pun menurunkan tubuhnya dan berbaring tepat di samping istrinya. Seketika dia pun langsung memejamkan mata membuat Lusi tersenyum bahagia lalu mengecup tipis bibir suaminya itu.
Keesokan harinya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Aldo, sayang. Ini Daddy, kamu udah bangun?"
Ceklek ....
Arman mengetuk serta membuka pintu seraya memanggil nama putranya. Dia pun nampak menggelengkan kepala saat melihat sang putra masih tertidur lelap dengan tubuh yang hampir seluruhnya di tutup dengan selimut tebal.
Aldo masih tidak bergeming, tidurnya benar-benar terlihat lelap dan begitu nyenyak seolah membayar malam-malam sebelumnya yang sama sekali tersiksa dan merasa tidak tidur sedikitpun saat dirinya masih berada di balik jeruji besi.
"Aldo ..." Arman tidak menyerah.
"Huaaaa ... Apa si Dad? Masih ngantuk ini,'' gumamnya seraya merentangkan kedua tangannya lebar dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun, bantuin Daddy di Restoran ya. Akhir-akhir ini Daddy kekurangan pegawai," jawab Arman beralasan.
"Gak mau, Dad. Aku masih ngantuk banget."
"Ini udah siang, Aldo. Mau sampai kapan kamu tidur terus kayak gini, heuh ..."
__ADS_1
Aldo tidak bergeming dan kembali memejamkan mata, lalu terlelap seketika membuat Arman pun akhirnya menyerah dan meninggalkan putranya di dalam sana.
♥️♥️
Pukul 13.00 Aldo akhirnya menyudahi tidur panjangnya. Dia membuka matanya seketika seolah benar-benar puas dengan tidur panjang selama lebih dari 12 jam itu.
Aldo hanya termenung menatap langit-langit kamar saat kesadarannya telah sepenuhnya dia dapatkan. Ingin rasanya dia kembali tertidur panjang saat mengingat rasa sakitnya patah hati yang baru saja dia dapatkan.
"Sial, kenapa harus bangun segala sih?" Gumamnya mengusap wajahnya kasar lalu mencoba kembali memejamkan mata.
Akan tetapi, saat dirinya menutup kedua matanya bayangan Silvia gadis yang dia cintai yang saat ini telah menjadi milik orang lain pun seketika memenuhi otaknya seolah menari-nari seraya menertawakan dirinya.
"Haaaa ... Kenapa kamu ada terus di otak aku, Silvia," Aldo seketika bangkit lalu berteriak kencang.
"Hmmm ... Kurang ajar. Apa sebaiknya aku menyusul Daddy ke Restoran? Siapa tau jika aku pergi ke sana, otak aku ini bisa sedikit terhibur." Gumamnya lagi.
Setelah lama berfikir, akhirnya Aldo pun memutuskan untuk mengikuti keinginan ayahnya yang meminta dirinya membatu pekerjaan di Restoran. Setelah bersih-bersih dan berpakaian rapi, Aldo pun segera berangkat ke Restoran dimana ayahnya bekerja.
Sesampainya di Restoran, Aldo segera memarkir mobilnya di halaman Restoran. Aldo pun keluar dari dalam mobil dengan wajah yang penuh percaya diri, stelan jeans yang dikenakannya membuat wajah pemuda berusia 21 tahun itu pun terlihat begitu tampan.
Perlahan tapi pasti, Aldo pun mulai berjalan memasuki Restoran. Matanya nampak menatap sekeliling mencari keberadaan Arman sang ayah.
Akan tetapi, langkah kakinya tiba-tiba saja terhenti saat mendengar suara wanita mengalunkan lagu dengan suara begitu merdunya. Cengkok, dan suara wanita tersebut benar-benar begitu indah dan menenangkan.
Aldo pun menoleh ke arah panggung dimana suara itu berasal. Dia nampak menatap wajah wanita itu dengan mata yang berbinar, matanya seakan terpesona dengan kecantikan yang terpancar begitu menyilaukan. Senyuman pun seketika mengembang sempurna dari kedua sisi bibir seorang Aldo.
"Ririn?" Gumamnya seolah mengenali wanita yang sedang bernyanyi di atas sana.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️