
Sudah seminggu sejak kejadian omongan pedas Bu Mira yang sangat-sangat menyakiti hati Syafira. Sejak saat itu Syafira berubah menjadi sosok yang lebih pendiam dan tak seceria dulu. Bahkan Azkia yang masih kecil pun menyadari perubahan sang Ibu. Tak sekali dua kali ia menanyakan pada Ayah nya perihal Ibu nya, dan memang benar. Setelah Bagas amati Syafira seperti bukan sosok istrinya yang ceria dan ini rasanya sudah terjadi sejak sang istri pulang dari mansion keluarga Wijaya.
Weekend kali pun terasa berbeda. Hari minggu yang biasanya di isi dengan quality time antara keluarga inti tapi hanya diisi oleh Ayah dan Anak saja.
"Daddy.. Kenapa Mommy tidak bermain bersama kita lagi?" tanya Azkia.
"Hmmm mungkin Mommy lagi capek sayang. Kia main sama Daddy aja ya" sahut Bagas.
"Baik Daddy" ucap Azkia.
Sedangkan di kamar utama, Syafira duduk dengan tatapan sendu sembari mengelus perut rata nya.
"Hufhh.. Datang bulan lagi. Mommy kira kamu sudah hadir disini. Ehh tapi kok belakangan ini setiap datang bulan sakit banget ya" ucap Syafira.
Setelah rasa sakit mulai berkurang, Syafira pun bergegas turun ke bawah untuk menemui suami dan anaknya. Ia tak boleh larut dalam kesedihan hanya karena ucapan orang lain dan mengabaikan keluarga kecilnya.
"Wahh anak Mommy lagi main apa nih" ucap Syafira ketika melihat Azkia memegang spidol di tangannya.
"Ehh Mommy. Ini Kia lagi menggambar sama Daddy. Mommy sih gak main sama kita jadinya kan Kia sama Daddy aja" ucap Azkia sembari mencebikkan bibirnya.
"Uluh uluh.. Anak Mommy kasian banget sih. Yaudah sebagai gantinya Mommy buatin pudding coklat kesukaan Kia aja gimana?" tanya Syafira.
"Mau Mommy.. Kia mau" ucap Azkia dengan mata berbinar.
"Oke sayang" ucap Syafira sembari mengecup pipi Azkia.
"Kalo Mas, mau aku buatin apa?" tanya Syafira pada sang suami.
"Hmm Mas pengen jus jambu aja deh Yang. Tolong buatin ya. Tapi kamu jangan capek-capek" ucap Bagas.
"Iya Mas. Gak bakalan capek kok" ucap Syafira lalu setelah nya ia bergegas pergi ke dapur.
Saat Syafira pergi kedapur, ternyata ada Bi Ana yang sedang memasak untuk makan siang. Awalnya Bi Ana menawarkan untuk membantu Syafira. Namun dengan halus ditolaknya.
Saat sedang membuat pudding, tiba-tiba perut Syafira kembali merasakan sakit yang luar biasa hingga ia sedikit membungkukkan badannya.
"Nyonya Fira lagi datang bulan ya" tanya Bi Ana.
__ADS_1
"Ehh iya Bi. Ada apa ya?" sahut Syafira.
"Tembus Non" ucap Bi Ana.
"Ehh mungkin karena aku pake yang kecil kali ya Bi, makanya tembus. Mana ini baru hari pertama. Yaudah aku minta tolong sama Bibi, buatin Kia pudding coklat dan untuk Mas Bagas jus jambu ya Bi. Aku mau ke kamar dulu" ucap Syafira.
"Baik Nyonya" sahut Bi Ana.
Tapi baru beberapa langkah, Syafira meringis kesakitan hingga Bibi Ana yang mendengarnya menjadi panik.
"Aakkkkhhhhhhh" Syafira semakin tak kuat menahan sakit di perut bagian bawahnya.
"Astagfirullah... Nyonya kenapa?" tanya Bi Ana ketika melihat Syafira membungkuk sembari memegang perutnya.
"Perut aku sakit banget Bi" ucap Syafira semakin tak tahan, tubuhnya gemetar, serta keringat dingin sudah mengucur bebas dikeningnya.
"Astagfirullah darah Nyonya" ucap Bi Ana panik ketika melihat darah telah merembas di kedua paha Syafira. Celana yang awalnya putih bersih, kini sudah bercampur dengan noda darah.
"Sebentar, Bibi panggil Tuan Bagas dulu" ucap Bi Ana lalu segera berlari memanggil Bagas.
Terlihat sang suami menghampiri nya dengan sedikit berlari. Sangat jelas raut khawatir tercetak diwajah tampan suaminya.
"Sakit Mas.. Sakit banget.. Hikss.. Hikss.. Hikss" ucap Bagas.
"Tuan.. Sebaiknya Nyonya segera dibawa ke rumah sakit saja. Menurut saya, Nyonya pendarahan Tuan. Biar saya yang menjaga Nona kecil di rumah" ucap Bi Ana dengan Azkia dalam gendongannya.
Degg!!
Syafira semakin kalut ketika mendengar kata pendarahan terlontar dari bibir Bi Ana. Pikirannya entah kemana...
Dengan segera, Bagas membopong tubuh istrinya. Ternyata disana Pak Alan telah siap dengan mobilnya. Melihat majikan nya mendekat, dengan segera ia membukakan pintu penumpang. Lalu setelahnya melesat menuju rumah sakit.
"Sayang kamu yang sabar ya" ucap Bagas sembari mengelus lembut kepala sang istri yang terbaring di pahanya.
"Sakit Mas.. Aku gak kuat" ucap Syafira lalu setelah nya ia tak sadarkan diri.
***
__ADS_1
Kini Syafira telah ditangani oleh dokter. Dengan cemas Bagas mondar-mandir didepan Ruang Tindakan. Disana juga sudah ada Oma Hana dan Opa Bram yang tadi langsung di hubungi oleh Bibi Ana.
"Mommy yakin Syafira pasti sedang hamil.. Hiks.. Hiks.. Hiks.." ucap Oma Hana dengan tangisnya.
"Tapi Mom, Fira sama sekali gak ada bilang sama aku. Lagian dia juga gak mual dan gak muntah" ucap Bagas menyangkal ucapan sang Ibu.
"Dasar bodoh! Gak semua wanita hamil itu mual dan muntah. Bisa saja kandungan istrimu baru memasuki bulan pertama dan masih rawan serta belum menujukkan tanda-tanda berarti" ucap Oma Hana emosi.
"Sabar Mom sabar. Lebih baik kita berdoa supaya Fira baik-baik saja" ucap Opa Bram menenangkan.
Setelah perdebatan itu, tak seorang pun yang bicara. Hanya terdengar suara tangisan Oma Hana yang membuat kepala Bagas sedikit pusing.
"Keluarga pasien Nyonya Syafira" ucap seorang suster yang membuat Bagas, Oma Hana dan Opa Bram menoleh dan mendekat.
"Silahkan masuk, Dokter ingin bicara" ucap suster tersebut mengarahkan ketiganya masuk kedalam ruangan yang disebelahnya terdapat Syafira yang tengah terbaring lemah.
"Dengan siapa?" tanya Dokter pada Bagas dan kedua orang tuanya.
"Saya suaminya, ini Ayah dan Ibunya" ucap Bagas gugup. Hati nya was-was ketika akan mendengar penjelasan Dokter tentang keadaan sang istri.
"Baiklah. Akan ada dua hal yang perlu saya jelaskan mengenai pendarahan yang di alami Nyonya Syafira" ucap Dokter membuat ketiganya mengangguk antusias.
"Maaf.. Sebelumnya saya ingin bertanya. Apa pasien pernah mengalami kecelakaan?" ucap Dokter tersebut.
Degg!!
.
.
.
.
Jangan Lupa Vote, Like dan Comment ya readers sayang.
Salam Sayang Dari Author
__ADS_1
Yunita Dewi Puspita❤