
Sebelumnya, maaf banget buat para readers, jika setengah bulan kemarin author gak ada update sama sekali. Author lagi kehabisan ide dan kalau maksain buat update takutnya malah nanti ceritanya terkesan Monoton , lalu cerita di part inilah yang akhirnya tercipta.
Maaf banget kalo part ini kurang maksimal atau mungkin terkesan Monoton bagi sebagian pada readers🙏
Jika ada saran dari teman-teman untuk Bab selanjutnya, tolong kasih tau author lewat komentar ya. Karena kritik dan saran dari kalian sangat berarti bagi author.
Happy Reading❤️
...***...
Tak terasa acara tasyakuran 7 bulanan Syafira telah usai. Para tamu sudah kembali ke kediaman masing-masing dan hanya menyisakan sanak-saudara yang masih berbincang ria.
''Mas, lihat deh.'' ucap Syafira sembari menunjukkan kaki nya yang membengkak.
"Sabar ya, Sayang. Nanti aku orderin sandal yang lebih besar ya." ucap Bagas sambil mengusap bahu sang isteri yang sedang duduk disampingnya.
"Gak usah deh, Mas. Sandal yang ini juga baru beli bulan lalu, nanti kalo kaki aku mengecil malah gak kepake lagi sandalnya." ucap Syafira.
"Tapi kamu gapapa kan, kakinya bengkak begitu?" tanya Bagas.
"Insyaallah gak papa kok, Mas. Aku baca di buku kehamilan, kaki bengkak itu hal yang wajar." jelas Syafira.
"Iya, itu wajar kok, Nak. Kalo udah masuk usia kehamilan diatas lima bulan biasanya memang begitu, dan itu gak berbahaya sama sekali. Serta hal seperti itu hanya pertanda bahwa volume darah dan cairan dalam tubuh sedang meningkat." jelas Oma Hana.
"Syukur deh kalo aman-aman aja, Mom." ucap Bagas bernafas lega.
"Duh, Bagas Bapakable banget sih. Perhatian sama isterinya." ucap Tante Arin, Ibunya Abel.
''Ya harus lah, Ma. Kapan lagi Kak Bagas dapet isteri sebaik dan sebening Kak Syafira. Orang Kak Bagas modelan badut lampu merah begini.'' celetuk Abel mengundang tawa semua orang.
''Heh! Dasar bocil, ngeledekin Kakak kamu yaa.'' ucap Bagas sembari mengepalkan tangannya.
__ADS_1
''Mon maap aja nih ya, Kak. Abel ngomong fakta, iya gak Kak Fira?'' ucap Abel meminta pendapat Syafira sembari menaik-turunkan alisnya.
''Ehhh mana ada, suami aku ini yang paling ganteng tau.'' sahut Syafira seolah-olah membela sang suami sembari terkekeh.
''Ishhh, Kak Fira ihh. Setuju aja gitu loh sama pendapat Abel.'' ucap Abel dengan bibir mengerucut kesal.
''Rasain, emang enak ga ada yang nyebelain.'' ejek Bagas.
''Sudah-sudah, kalian berdua ini kalo ketemu selalu saja bertengkar.'' ucap Om Wisnu, Ayahnya Abel.
''Ya mau gimana lagi, Om. Kadang anaknya Om itu loh yang cari gara-gara duluan, emang dulu nemu Abel dimana sih Om? Di kolong jembatan, dipinggir jalan, atau dimana Om?'' ucap Bagas sembari melirik Abel.
''Ehh enak aja nemu-nemm..'' ucap Abel terputus ketika sang Ayah menyahuti.
''Nemu didepan pintu, Gas.'' sahut Om Wisnu asal, dan berhasil membuat Abel semakin kesal.
''Ampun deh, punya Bapak sama Kakak sefrekuensi begini kalo soal ngehina.'' gerutu Abel.
''Huh! Kalian ini suka banget bikin Abel kesel.'' ucap Oma Hana.
''Gakpapa lah, Mbak. Lagian Abel kalo ngambek keliatan lucu juga.'' sahut Om Wisnu, sontak membuat semua orang tertawa.
''Sudah-sudah, buruan pada istirahat semua ya. Katanya besok Wisnu sama Arin mau keliling Jakarta kan?'' tanya Opa Bram.
''Iya, Mas. Aku sama Mas Wisnu udah kangen suasana Jakarta, habisnya Mas Wisnu gak mau diajak pindah kesini, sukanya di Irlandia terus.'' ucap Tante Arin dengan bibir mengerucut.
''Bukan begitu, Ma. Kan perusahaan pusat ada disana, kalo kita pindah kesini nanti siapa yang ngurus perusahaan disana?'' tanya Om Wisnu.
''Kan Papa bisa pindahin kesini.'' jawab Tante Arin.
''Prosedur pemindahan perusahaan gak semudah membalikkan telapak tangan, Ma.'' jelas Om Wisnu mencoba memberi pengertian.
__ADS_1
''Iya, Rin. Bener apa kata Wisnu, semua prosedur yang dilalui tidak begitu mudah. Surat-surat yang perlu di urus pun tidak sedikit, salah satunya pengubahan akta perusahaan melalui notaris dan mungkin itu akan sedikit memakan waktu. Lagi pula perusahaan kalian sudah sangat terkenal disana.'' jelas Opa Bram.
''Bener, Dek. Kita juga sebagai isteri harus nurut apa kata suami. Karena surganya isteri ada pada ridha suami.'' timpal Oma Hana.
''Iya Mbak, Mas. Arin paham.'' cicit Tante Arin.
''Maafin Mama ya Pa. Mama yakin apa yang Papa lakuin adalah yang terbaik buat kita semua.'' ucap Tante Arin lirih sembari menggenggam jemari Om Wisnu.
''Iya, Mah. Gak papa kok.'' sahut Om Wisnu.
Pada akhirnya sedikit perselisihan dapat terselesaikan jika dari masing-masing pihak memberi ruang untuk saling mendengarkan.
Semua percakapan itu tak pernah luput sedikitpun dari pandangan sepasang suami-istri yang sebentar lagi akan mendapatkan anggota baru dalam keluarga kecil mereka, Bagas dan Syafira.
Cara penyelesaian masalah yang dialami Om Wisnu dan Tante Arin dapat mereka jadikan inspirasi jika kelak badai rumah tangga datang menghadang.
Karena ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah.
.
.
.
.
Jangan Lupa Vote, Like, dan Comment ya readers sayang.
Salam Sayang Dari Author
Yunita Dewi Puspita ❤️
__ADS_1