Mommy Untuk Azkia

Mommy Untuk Azkia
BAB 75


__ADS_3

Malam berganti pagi, seperti biasa. Syafira bangun pagi hari guna menyiapkan segala keperluan sang suami dan puteri kecil mereka. Walaupun perutnya sudah semakin membesar karena kehamilan anak kembarnya ini, namun tak sama sekali membuatnya malas mengerjakan kewajiban utamanya sebagai seorang isteri dan ibu yang baik. Syafira menyiapkan setelah jas, dasi, sepatu dan jam tangan serta tas kerja sang suami. Lalu, langkahnya terarah kekamar sang puteri guna menyiapkan segala keperluan sekolah Azkia dan membangunkan puteri kecilnya itu.


''Pagi, Bi.'' sapa Syafira dengan ramah saat ia turun ke dapur.


''Ehh, Nyonya Fira. Ada yang bisa Bibi bantu?'' tanya Bi Ana.


''Saya lagi mau bikin sarapan buat Mas Bagas dan Azkia, Bi. Mau buat nasi goreng seafood sama telur mata sapi kesukaan mereka.'' jelas Syafira.


''Saya bantu ya, Nya.'' tawar Bi Ana.


''Emm, saya minta tolong Bibi buatin jus apel aja ya buat Tuan sama Nona. Dan kopi hitam untuk Tuan, jangan terlalu manis tapi yang kental ya, Bi.'' pinta Syafira.


''Baik, Nyonya.'' sahut Bi Ana.


Syafira pun memulai pekerjaan memasaknya, memasukkan bumbu demi bumbu serta bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak nasi goreng seafood dan telur mata sapi. Setelah selesai, Syafira menatanya di meja makan. Lalu, menuju ke kamar guna memanggil suami dan anaknya.


''Mas, kamu udah selesai siap-siapnya?'' tanya Syafira pada Bagas yang sepertinya kesulitan mengenakan dasinya. Lalu Syafira pun melangkah mendekati sang suami dan segera memasangkan dasi dengan cekatan. Kesempatan seperti ini pun tak akan pernah Bagas lewatkan, ia memuaskan diri menatap wajah cantik sang isteri yang saat ini sedang dalam posisi berdekatan dengannya. Sungguh isterinya ini terlihat cantik dengan rambut tercepol ke belakang.


''Rambut kamu kalo dicepol begitu kelihatan lucu, Yang. Makin cantik dan keliatan fresh juga. Aku jadi makin cinta sama kamu.'' goda Bagas dengan tatapan penuh kasih pada sang isteri.


''Hemmm, gombal kamu Mas.'' sahut Syafira sembari memasangkan jas suaminya.


''Beneran tau ih, Yang. Emang aku pernah bohong sama kamu, enggak kan?'' lanjut Bagas.


''iya deh aku percaya sama suami aku yang ganteng ini.'' jawab Syafira sembari mencolek hidung sang suami.


''Nah udah kan, sekarang kita turun kebawah yuk buat sarapan. Sekalian aku mau ke kamar Kia.'' ajak Syafira.


''Yuk, Sayang. Tapi aku tunggu dibawah ya.'' ucap Bagas.


Syafira pun segera menuju ke kamar Kia, rupanya puteri kecilnya itu tengah bersiap dengan pengasuhnya, Mbak Pipit.


''Pagi, Nya. Ini Nona kecil hampir siap, tinggal dikuncir rambutnya sama pakai dasi.'' ucap Mbak Pipit.


''Yaudah Mbak Pipit bantu-bantu Bi Ana aja ya, biar Nona kecil sama saya.'' ucap Syafira.


''Okedeh, Nya. Lagian saya juga lagi kebelet nih mau kebelakang, sudah waktunya menabung soalnya.'' ucap Mbak Pipit ceplas-ceplos.


''Yaudah kebelakang aja, Mbak.'' sahut Syafira sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


''Mbak Pipit lucu ya, Mom. Suka bikin semua orang ketawa.'' ucap Azkia sambil terkikik geli.


''Iya, Sayang. Justru yang begitu banyak pahalanya, soalnya selalu bikin orang bahagia dan tertawa karena candaannya.'' ucap Syafira sambil menyisir halus rambut sang puteri.


''Kia juga mau seperti Mbak Pipit ah, Mom. Selalu bikin Mommy dan Daddy ketawa. Dan Kia bisa jadi anak baik.'' ucap Azkia.


''Iya, Sayang. Apapun yang mau Kia lakukan, maka lakukanlah. Asal inget apa kata Mommy, lakukan sesuatu jika itu hanya untuk kebajikan, karena segala sesuatu yang Kia lakukan nanti, akan ada pertanggungjawaban-nya, Sayang.'' nasihat Syafira.


''Siap, Mom. Kia akan selalu ingat pesan, Mommy.'' sahut Azkia.


''Nah, udah selesai dikuncir rambutnya. Anak gadis Mommy makin cantik aja, dan bentar lagi bakalan masuk Sekolah Dasar ya, Sayang.'' ucap Syafira sembari mencium gemas pipi sang puteri.


''Iya, Mom. Pasti nanti Kia dapat teman baru kan?'' tanya Azkia.


''Iya dong, Sayang. Anak Mommy kan anak baik, jadi nanti temannya banyak. Apalagi nanti masuk Sekolah Dasar, pasti banyak cowok-cowok yang naksir anak Mommy ini.'' seloroh Syafira.


''Hemm pasti nanti Kia gak dibolehin pacaran sama Daddy, Mom.'' ucap Azkia dengan bibir mengerucut, Ntah dari mana gadis 5 tahun itu tau istilah 'pacaran' layaknya anak muda zaman sekarang.


''Loh, kok anak Mommy tau istilah pacaran sih. Ini pasti kebanyakan nonton sinetron. Memang ya, anak Mommy udah mau beranjak dewasa, makanya nonton sinetron terus kayak Mbak Pipit.'' goda Syafira.


''Hehe, iya sih Mom. Baru sehari kenal sama Mbak Pipit tapi Kia udah sering lihat kebiasaan Mbak Pipit. Kaya tadi pas mandiin Kia, Mbak Pipit nyanyi-nyanyi sambil manggil nama pedangdut laki-laki, tapi Kia lupa namanya. Sampe-sampe Kia panggil, Mbak Pipit nya gak denger, Mom.'' ucap Azkia panjang lebar.


''Kamu ini pinter banget sih, Sayang. Tapi jangan bilang sama Daddy ya, nanti takutnya Daddy malah marahin Mbak Pipit. Kan gak lucu kalo nantinya Mbak Pipit yang suka heboh, berubah jadi pendiam.'' ucap Syafira diriingi gelak tawa dari Azkia.


''Sabar ya, Kakak Kia. 2 bulan lagi dedek kembar lahir. Yaudah sekarang kita kebawah yuk, kasian Daddy udah nunggu lama.'' ajak Syafira pada Azkia.


''Oke, Mom. Kia juga gak sabar mau makan masakan Mommy, pasti Mommy bikin nasi goreng kesukaan Kia kan?.'' sahut Azkia.


''Iya dong, Sayang. Apasih yang enggak buat anak kesayangan Mommy ini.'' ucap Syafira sembari mengusap lembut pucuk kepala Azkia.


''Asyik, Kia mau makan yang banyak ahh.'' ucap Azkia dengan mata berbinar.


***


''Pagi, Dad.'' sapa Azkia sambil mengecup pipi sang Daddy.


''Pagi, Sayang. Yuk sarapan, nanti telat loh berangkat sekolahnya. Jangan lupa berdoa dulu ya.'' ucap Bagas.


''Siap, Dad.'' sahut Azkia lalu memimpin doa untuk mengawali sarapan mereka pagi ini. Syafira sang senang melihat suami dan anak-anaknya makan dengan lahap tak bersisa. Selesai sarapan, Bagas langsung bergegas berangkat ke kantor. Tak lupa, satu kecupan mendarat di kening anak dan isterinya.

__ADS_1


***


Di perjalanan menuju kantor, tiba-tiba handphone Bagas berdering. Dahi nya berkerut kala melihat nama sang Sekertaris terpampang dilayar benda pipih tersebut. Pasalnya, seingat Bagas ia tak memiliki janji temu atau rapat pagi ini.


''Adam.." gumam Bagas. Jemari nya pun langsung mengeser panel hijau tersebut guna menjawab panggilan sang Sekertaris.


''Halo..'' ucapnya.


''Selamat Pagi, Pak. Maaf mengganggu, tapi bisakah Bapak datang lebih pagi hari ini? Ada masalah mengenai produk yang akan kita luncurkan.'' ucap Adam, sang Sekertaris.


''Masalah? masalah apa?'' tanya Bagas heran.


''Maaf, Pak. Saya rasa terlalu rumit jika harus dijelaskan lewat telepon.'' sahut Adam tak enak pada atasannya itu.


''Baiklah, lima belas menit lagi saya sampai di perusahaan. Silakan kamu tunggu diruangan saya.'' ucap Bagas akhirnya lalu menutup panggilan.


.


.


.


.


Note : Jika ada yang bingung antara Reyhans, Erik dan Adam yang pernah muncul di Bab sebelum ini. Maka akan author jelaskan mengenai kedudukan mereka.



Reyhans ( Hans : Bab 2 ), berperan sebagai Anak buah Bagas.


Erik ( Bab 25 ), berperan sebagai sahabat sekaligus asisten Bagas. Ingat! Asisten dengan Sekertaris beda ya.


Adam ( baru muncul di Bab 75 ), berperan sebagai Sekertaris Bagas. Nantinya disini, karakter Adam sebagai pria humoris dan blak-blakkan. Karena dia juga merupakan salah satu sahabat Bagas sama seperti Erik.



Sekian dari Author. Terima Kasih.


Jangan Lupa Vote, Like, dan Comment ya readers sayang.

__ADS_1


Salam Sayang Dari Author


Yunita Dewi Puspita ❤️


__ADS_2