
Beberapa saat Dokter datang dan memeriksa Bagas...
''Apa yang Tuan Bagas konsumsi beberapa hari ini?'' tanya Dokter tersebut.
''Kalo dikantor aku gak tau, tapi kalo dirumah dia cuman makan ya intinya dia makannya kurang bener Dok, kadang asinan, kadang salad buah dan sayur aja, bahkan kadang cuma makan kiwi, jeruk, sama mangga aja Dok. Makanan yang asam-asam gitu.'' jelas Syafira.
''Jika seperti itu, intinya Tuan Bagas kekurangan asupan. Rasa perih dan mual itu juga karena makannya tidak benar. Ini saya kasih resep ya, jika sampai nanti malam mual dan perihnya tidak berkesudahan, tolong dibawa ke rumah sakit untuk observasi lebih lanjut.'' ucap Dokter itu.
''Terus itu infusnya gimana Dok?'' tanya Alex ketika melihat tangan Bagas yang tengah terpasang infus.
''Gakpapa, perawat saya akan menunggu sampai infusnya habis, paling 30 menit.'' jelas sang Dokter.
***
Bagas masih terlelap tidur di sofa panjang ruangannya. Infus dan beberapa cairan penunjang asupan dalam tubuhnya telah berhasil diberikan dengan baik.
Suster pun telah pergi meninggalkan ruangan tersebut, tak lupa Alex memberikan uang tips pada suster yang bisa dibilang cukup cantik itu.
''Inget Kak, udah punya Zaskia.'' ucap Syafira mengingatkan ketika Alex masih setia melihat kepergian sang suster tersebut.
''Iya iya Dek, lagian cuma ngeliat bentar doang.'' sahut Alex.
''Cowo emang begini ya, gak bisa liat yang bening dikit. Awas aja sampe berani nyakitin Zaskia, aku kasih ini nih.'' ucap Syafira sembari menunjukkan kepalan tangannya pada Alex.
''Hihh takut.'' ucap Alex bergidik ngeri.
Satu jam kemudian...
Bagas terbangun dari tidurnya. Ia merasa lebih segar dibanding sebelumnya. Ia juga mendapati isterinya tertidur dengan posisi duduk disofa.
Bagas pun mendekat dan merebahkan kepala isterinya kedalam pelukannya.
__ADS_1
Bagas mengecup pucuk kepala sang isteri.
Tak lupa pula mengusap lembut perut Syafira yang mulai membuncit.
Karena merasakan sebuah sentuhan lembut itu, perlahan Syafira membuka matanya.
Ia dapat melihat jemari sang suami karena cincin pernikahan mereka yang melekat di jari manis suaminya. Syafira tersenyum lalu mendongakkan kepalanya.
''Sudah baikan?'' tanya Syafira lembut, lalu Bagas mengecup singkat bibir isterinya.
Cup..
''Better dari pada tadi Sayang, maaf jadi bikin repot.'' ucap Bagas lirih.
''Aku yang seharusnya minta maaf Mas, aku yang hamil tapi malah kamu yang ngidam begini.'' kata Syafira sembari memainkan jemarinya di dada bidang sang suami.
''Ya kan kamu hamilnya juga karena aku kan Sayang.'' ucap Bagas sembari terkekeh hingga membuat pipi Syafira merah merona tersipu malu.
Suaminya selalu saja bisa membuatnya menjadi wanita beruntung dan spesial. Apa benar Ellena tidak menyesal telah meninggalkan laki-laki sebaik suaminya ini? Aku rasa hanya wanita bodoh yang rela membuang berlian hanya demi batu yang tidak tau apa jenisnya.
''Anak pintar.'' ucap Syafira sembari mengusap perutnya lalu tertawa kecil menatap sang suami.
''Kalau anak kita perempuan pasti cantik seperti Mommy nya, kalo anak kita laki-laki pasti ganteng kaya aku.'' ucap Bagas membayangkan.
''Kalo kembar?'' tanya Syafira tersenyum.
''Maka nikmat Tuhan mana lagi yang mau kita dustakan Sayang?'' ucap Bagas sembari menatap lekat isterinya.
''Emang kamu punya keturunan kembar?'' tanya Bagas ketika sadar akan ucapan sang isteri.
''Gak ada sih Mas, tapi kan kita juga gak tau keajaiban Tuhan nantinya.'' ucap Syafira.
__ADS_1
''Iya Sayang, apapun itu kita harus nerima dengan rasa penuh syukur ya.'' sahut Bagas bijak.
''Iya Mas, pastinya dong. Seorang anak itu kan anugerah yang diberikan Tuhan untuk kita. Jadi, jangan terlalu membedakan-bedakan karena tiap anak punya kapasitasnya sendiri.'' ucap Syafira.
''Lagian nanti kalo gak dapet kembar, kita bisa kok bikin lagi abis kamu lahiran.'' ucap Bagas menimpali.
''Ini dulu keluar Mas, baru mikirin anak yang lain. Lagian masih ada Kia yang butuh perhatian ekstra dari kita.'' sahut Syafira.
''Iya iya Sayang, yaudah kita pulang yaa. Aku mau istirahat dirumah, biar aku telpon Pak Alan agar bersiap.'' kata Bagas sembari mengeluarkan ponselnya.
''Tapi Mas, kamu belum makan siang.'' ucap Syafira.
''Makan dirumah aja sayang, itu dibawa aja lagi. Biar nanti dipanasin sama Bi Ana.'' ucap Bagas yang sebenarnya merasakan mual kembali.
Mereka pun akhirnya memilih untuk pulang kerumah.
Bagas sedikit memaksakan untuk berjalan ke parkiran, meski sudah tidak terlalu pusing, namun rasa lemas masih begitu terasa pada tubuhnya. Namun, ia harus kuat agar tidak menyusahkan orang lain terlebih isterinya yang tengah hamil.
.
.
.
.
Jangan Lupa Vote, Like, dan Comment ya readers sayang.
Salam Sayang Dari Author
Yunita Dewi Puspita ❤️
__ADS_1