
Entah waktu yang berjalan begitu cepat atau memang author yang suka bikin alur kelewat singkat.
Tak terasa sudah 3 bulan berlalu. Syafira dapat dikatakan sudah sangat sehat dan siap untuk mengandung. Meski nanti di awal kehamilan ia harus benar-benar beristirahat total dan tidak boleh terlalu lelah, mengingat kondisi rahimnya berada di posisi terlalu kebawah.
Sebagai suami, Bagas tidak terlalu menuntut sang isteri untuk segera hamil. Walaupun nurani sebagai seorang suami dan laki-laki tentu ingin sekali melihat dan memiliki buah hati dari pernikahannya dengan Syafira.
Seperti malam ini, Syafira telah menyelesaikan makan malamnya. Makan malam yang hanya di isi oleh dua orang wanita berbeda usia, yang tak lain adalah Syafira dan Azkia.
Bagas masih sibuk meeting dengan beberapa kliennya.
Setelah menemani Azkia bermain hingga tertidur, Syafira naik ke kamarnya guna mencari ponselnya dan mengecek apakah ada kabar dari sang suami. Namun nihil, Bagas sama sekali belum memberi kabar. Kemudian ia meraih laptopnya dan menyalakan sembari berjalan ke arah balkon. Ia duduk dan menyilangkan kakinya, hembusan angin malam yang bertiup kencang tak menyurutkan keinginan Syafira untuk duduk bersantai sembari mengecek beberapa laporan yang dikirimkan oleh Zaskia. Sejenak ia termenung, entah kenapa disaat seperti ini selalu membawanya pada kenangan tersendiri.
Ditengadahkan nya wajahnya, diangkat tangannya setinggi dada dan mulai merapalkan doa untuk dua orang yang sudah tenang di alam sana.
Syafira mulai memfokuskan diri pada laptopnya, hingga tak terasa sudah dua jam lamanya dan ia mulai merasa lelah. Syafira bangkit dan mulai membersihkan tubuhnya sembari membawa pakaian tidurnya.
Tak berselang lama setelah Syafira masuk kedalam kamar mandi, Bagas pulang sembari membawa sebuah hadiah kecil untuk isterinya. Diletakkannya buket bunga mawar dan sebuah kotak beludru persegi panjang berwarna merah itu di atas ranjangnya.
Tak lama keluarlah Syafira dengan set piyama bermotif bunga sakura dengan celana di atas lututnya.
Syafira tersenyum ke arah ranjang dimana terdapat buket bunga mawar dan kotak beludru yang entah apa isinya dan dia yakini suaminya yang membawanya. Lalu pandangannya beralih ke arah sang suami yang sedang duduk di sofa.
Bagas melangkah mendekati sang isteri dan memeluk Syafira yang tengah menghirup aroma dari bunga mawar berwarna merah pekat itu.
"Maaf aku pulang terlalu malam" kata Bagas dengan penuh sesal.
"Apa ini sebuah sogokan hemm?" tanya Syafira sembari menoleh hingga wajah dua insan itu saling bertemu.
"Bukan sayang. Itu hanya bukti kecil dari rasa cintaku yang kian hari makin bertambah berkali-kali lipat untukmu" kata Bagas sembari menghirup aroma wangi levender dari leher sang isteri yang begitu harum hingga memenuhi indra penciumannya.
"Terima kasih. Mas udah makan?" tanya Syafira yang sebenernya tengah tersipu akan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Sudah sayang. Aku mandi dulu ya" jawab Bagas sembari melepas pelukannya.
Syafira mengangguk, lalu di letakkannya buket bunga mawar itu di atas nakas dekat tempat tidurnya.
Syafira kemudian memoles wajah nya dengan berbagai rangkaian perawatan kulitnya. Karena menurutnya, waktu yang pas untuk merawat diri ialah saat mereka sudah menikah. Jangan mentang-mentang sudah menikah ya apa adanya aja lah. Itu salah ya!! hhe😅
Saat Syafira telah selesai memberi nutrisi pada kulitnya, bertepatan dengan Bagas yang telah selesai membersihkan tubuhnya. Bukan main, Bagas keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggang nya serta bertelanjang dada.
Perlahan ia melangkah mendekati sang isteri dan kembali memeluk tubuh yang sudah bagaikan candu untuknya.
"Kangeeeennnn" seru Bagas.
"Kangen aku atau kangen yang lain?" tanya Syafira yang seolah sudah tau dengan jalan pikiran suaminya.
Bukannya menjawab, Bagas malah tertawa mendengar pertanyaan sang isteri. Dibaliknya tubuh Syafira hingga ia bisa menatap wajah cantik dari isterinya.
"Kangen sama kamu. Karena kamu yang udah menciptakan rinduku dengan hal lain yang ada di dalam diri dan hati kamu" ucap Bagas sambil tersenyum.
Syafira tersenyum dan mulai mengalungkan tangan dileher Bagas.
''Kamu memang selalu bikin aku rindu sayang" ucap Bagas sembari mendekatkan kepalanya ke arah Syafira.
Dua bibir bersatu.
Syafira ikut hanyut dengan permainan lembut suaminya. Seolah-olah tak berdaya dengan apa yang selalu diberikan suaminya dalam nafkah batinnya.
Begitu juga Bagas, semakin senang jika sang isteri begitu lihai dan semakin pintar dalam melayani dirinya. Memberi kepuasan serta rasa candu bagi diri Bagas.
Keduanya semakin hanyut dalam permainan dunia.
Perlahan Bagas merebahkan tubuh sang isteri sambil melepas satu persatu kancing piyama Syafira.
__ADS_1
''Emangnya kamu gak capek Mas?" tanya Syafira meski dirinya juga merasakan sebuah sensasi yang tak dapat terelakkan.
"Bagaimana bisa aku capek jika semua ini sudah menjadi candu bagiku. Bahkan tujuh kali pun aku sanggup sayang" kata Bagas dengan suara seraknya.
Syafira merasa malu dan tersipu dengan ucapan Bagas.
Bagas kembali melancarkan aksinya. Dalam redupnya lampu tidur serta aroma lavender bercampur mint yang berpadu dari kedua tubuh mereka membuat suasana semakin menghanyutkan.
Andai saja Bagas tak memasang alat kedap suara di kamarnya, mungkin suara mereka akan menggema membangunkan orang seisi rumah.
Setelah cukup lama bergelung hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai kenikmatan dunia.
Bagas tumbang disamping tubuh isterinya. Dikecupnya lembut kening wanita yang telah memberi warna baru dalam kehidupannya.
"Kita istirahat dulu. Aku masih mau beberapa lagi" ucap Bagas hingga membuat Syafira membulatkan matanya. Meski ia sudah paham dengan kebiasaan nambah suaminya tapi Syafira tetap merasa malu jika sang suami membahas akan hal itu.
Malam semakin larut, dan benar saja Bagas kembali melancarkan aksinya hingga membuat Syafira kewalahan. Sungguh malam ini mereka benar-benar bermandikan keringat malam yang selama 3 bulan terakhir jarang mereka dapatkan akibat masa pemulihan Syafira. Setelah mencapai puncak kenikmatan entah sampai yang keberapa, akhirnya Bagas dan Syafira tumbang terlelap dalam tidurnya dibalik selimut tebal yang membungkus tubuh mereka.
.
.
.
.
Jangan Lupa Vote, Like, dan Comment ya readers sayang.
Salam Sayang Dari Author
Yunita Dewi Puspita ❤️
__ADS_1