Mommy Untuk Azkia

Mommy Untuk Azkia
BAB 55


__ADS_3

Dengan anggun Syafira melangkah memasuki gedung Indrajaya Group. Darahnya berdesir ketika mengingat bahwa perusahaan ini ialah bukti dari perjuangan sang Ayah. Di mulai dari nol hingga dapat berjaya seperti sekarang. Namun sayang, belum sempat sang Ayah menikmati masa kejayaan perusahaannya, Yang Maha Kuasa telah mengambil nyawa dari sosok yang Syafira panggil Papa.


"Paa.. Apa Papa lihat bagaimana sekarang kondisi perusahaan yang Papa bangun dari nol ini. Semua berjaya Pa.. Nia berhasil mempertahankan perusahaan kebanggaan Papa. Dan Nia yakin ini semua tak luput dari doa dan dukungan Mama dan Papa. Kalian yang tenang disana Maa, Paa.. Nia kangen Mama dan Papa" ucap batin Syafira hingga tak terasa sebulir air mata keluar dari sudut matanya.


Setelah tersadar dari semua lamunannya, Syafira bergegas menuju ruangan sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Zaskia.


Tokk..Tokk..Tokk...


Setelah menanyakan keberadaan Zaskia pada sekretarisnya, jemari lentik Syafira bergegas mengetuk pintu kayu bernuansa modern itu.


"Masuk" terdengar suara sahutan dari dalam.


"Permisi Bu, apa saya mengganggu?" tanya Syafira berpura-pura sebagai karyawan untuk mengerjai sahabatnya.


"Ohhh tidak.. Silahkan duduk" ucap Zaskia sembari mendongakkan kepala. Dan betapa terkejutnya ia mendapati Syafira sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"Ohh astaga Firaaaa" pekik Zaskia gembira. Sontak ia berdiri dan memeluk sahabat kesayangannya itu. Dan dengan senang hati Syafira membalasnya.


"Ada apa sampai kau datang ke kantor seperti ini? Kau masih perlu istirahat Fir" Sambung Zaskia lalu mengajak Syafira duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.


"Jangan terlalu berlebihan Zas. Aku sudah cukup sehat jika hanya sekedar berkunjung ke kantor. Dan tujuan ku kemari juga ingin meminta tolong kepadamu" ucap Syafira.


"Minta tolong?" tanya Zaskia dengan kening berkerut.


"Iya Zas. Nanti sore Tuan Sakamoto, klien kita yang dari Jepang bakalan datang buat rapat pembahasan kerja sama pembangunan hotel di kawasan Orchid. Ya emang sih rapat nya besok, tapi bisa gak lo anter mereka ke Varangel's Hotel punya kita. Biar mereka nginep disana aja buat nanti malam dan gak perlu sewa hotel lagi" jelas Syafira.


"Ohhh bisa kok Fir. Lagian kerjaan gue juga udah hampir beres. Jadi bisa lah nanti jemput dan anter Tuan Sakamoto" ucap Zaskia.


"Baiklah kalo gitu. Nanti biar gue yang kabarin Tuan Sakamoto kalo mereka bakal di jemput sama Lo" ucap Syafira.


"Oke Fir. Lo juga kabarin gue ya kapan mereka tiba di Bandara biar gue stand by disana" pinta Zaskia.


"Siap Zas. Yaudah kalo gitu gue mau keruangan dulu. Sekali lagi Thanks ya, maaf ngerepotin" ucap Syafira sebelum pergi ke ruangannya.


"Santai lah. Kaya sama siapa aja" sahut Zaskia sembari mengantarkan Syafira sampai ke depan pintu.


Setelah Syafira pergi dari ruangannya, Zaskia kembali berkutat dengan kertas-kertas di hadapannya.


Membaca serta meneliti deretan angka yang tertera disana. Sejenak sekelebat bayangan sosok Edwin kembali terngiang di kepalanya hingga membuat ia terpaksa menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan.. Sampai kapan dia akan terus-menerus bertakhta di hatiku. Tolong bantu aku melupakan dia. Hamba hanya manusia biasa yang seringkali merasakan sakit jika semua tak sesuai dengan harapan hamba. Jika memang dia jodoh hamba, maka dekatkanlah kami. Namun jika memang bukan, maka kirimkanlah seseorang yang dengan tulus dapat mencintai hamba" Doa batin Zaskia.


***


Jam telah menunjukkan pukul sebelas siang. Syafira sudah duduk di lobby perusahaan guna menunggu sang suami menjemput nya. Jangan lupakan agenda mereka yang katanya ingin menjemput putri semata wayang mereka sekaligus mengajaknya makan siang bersama. Sebisa mungkin mereka memberikan kasih sayang yang utuh untuk gadis kecil bernama Azkia. Syafira sadar, kehadirannya dalam keluarga kecil itu ialah untuk melengkapi kasih sayang seorang ibu yang sama sekali belum pernah Azkia dapatkan. Sosok gadis kecil yang kini membawa nya ke dalam kubangan kebahagiaan. Gadis kecil yang cantik, pintar dan menggemaskan. Semua memori tentang nya dan Azkia berputar-putar di kepalanya. Hingga sapaan seseorang membuatnya sedikit terkejut.


"Sayang" panggil suara bariton yang sangat-sangat Syafira kenal. Siapa lagi jika bukan suaminya.


"astaga mas kamu ngagetin aku aja" ucap Syafira sembari mengelus dada nya pelan.


"Maaf sayang. Habisnya kamu ngelamun sih. Ada masalah kah?" tanya Bagas.


"Tidak mas. Semua aman" ucap Syafira.


"Yaudah yuk mas, kita berangkat. Takut nya nanti Kia nungguin kita" lanjut Syafira sembari berdiri dan merapikan pakaiannya.


Sepasang suami istri itu tampak bergandengan tangan keluar dari lobby perusahaan. Sapaan dari beberapa karyawan pun mereka balas dengan senyuman yang tak pernah surut dari keduanya. Kini sosok Bagas yang angkuh, dingin, serta arogant sudah tak ada lagi. Yang ada hanyalah sosok lelaki yang sangat mencintai keluarganya. Ingat hanya keluarganya ya.


Kenangan buruk di masa lalu. Masalah yang sama dalam hal percintaan. Di kecewakan dan di khianati membuat mereka ada untuk saling melengkapi. Saling memahami dan saling menjaga perasaan satu sama lain. Ingat dan jangan lupakan, sekali kau menyakiti pasanganmu maka rasa sakit itu akan setia terpatri dan menetap didalam lubuk hatinya. Karena luka hati, lebih sakit dari sekedar luka fisik.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, kini mereka telah sampai di sebuah taman kanak-kanak yang terkesan khusus untuk kawasan elit. Sesaat setelah Bagas memarkir mobilnya, Syafira bergegas turun menghampiri gadis kecilnya yang sudah menunggu di sebuah ayunan.


"Kia sayang" panggil Syafira ketika putri kecilnya tak menyadari kedatangan nya karena sibuk dengan coklat segitiga di tangannya.


Bergegas Azkia bangkit dan menghampiri sang Ibu. Mencium punggung telapak tangan Syafira dengan sopan.


"Kia senang sekali Mommy mau jemput Kia di sekolah" oceh Azkia.


"Iya dong sayang. Kan Mommy juga kangen mau jemput anak kesayangan Mommy ini" ucap Syafira sembari mencubit gemas pipi Azkia yang sedikit belepotan coklat.


"Daddy mana Mom?" tanya Azkia ketika tak melihat sang Ayah bersamanya.


"Daddy di sini my princess" sahut Bagas dengan berjalan ke arah dua wanita kesayangan nya.


"Daddyyy" teriak Azkia dan berlari menghambur ke pelukan sang Ayah dan dengan senang hati Bagas membalas nya lalu menggendong putri kecilnya.


"Wah princess Daddy makan apa sih, kok sampe belepotan begini?" tanya Bagas sembari membersihkan sisa coklat di pipi sang anak dengan jari nya.


"Kia makan coklat Dad. Tadi di kasih sama teman baru Kia. Namanya Aldo. Dia baik tapi sedikit jahil. Dia sering banget gangguin Kia" oceh Azkia bersemangat.

__ADS_1


"Wahhh berani sekali ya dia gangguin Princess Daddy yang cantik ini. Besok Daddy mau lihat dong gimana orangnya" sahut Bagas menimpali ucapan Azkia.


"Oke Dad. Besok Kia kenalkan ya" ucap Azkia berbinar.


Melihat percakapan antara anak dan ayah di hadapannya membuat hati Syafira menghangat. Sebesar dan seerat inikah ikatan antara Bagas dan Azkia. Wajar jika Azkia sangat dekat dengan Bagas. Dia Ayahnya. Dan bagaimana tidak, sejak lahir hingga berumur lima tahun Bagas lah yang merawat Azkia walaupun dengan bantuan Oma Hana dan Opa Bram.


"Sudah-sudah. Ini mau pergi atau mau tetap ngobrol disini sih" ucap Syafira.


"Memang kita mau pergi kemana Mom?" tanya Azkia.


"Hmmm bagaimana jika kita pergi makan siang di restoran kesukaan Kia. Kia mau kan?" ucap Syafira.


"Mau Mom mauuu" sahut Azkia dengan mata berbinar.


"Yaudah kalo gitu kita berangkat yuk" ajak Syafira.


"Hayukkk Mom. Lest Goooo" sahut Azkia sembari turun dari gendongan Bagas dan berjalan beriringan dengan Syafira.


***


Sungguh hari berjalan begitu cepat. Beberapa jam yang lalu mentari masih setia menyinari bumi dengan sinarnya yang terik. Namun sekarang semua itu berubah, perlahan namun pasti matahari itu mulai terbenam di ufuk barat. Bersamaan dengan seorang wanita yang berjalan dengan tergesa-gesa sembari memainkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Hingga ia tak menyadari bahwa ada seorang pria bertubuh atletis berhenti di depannya.


Brukkk...


"Aawww" pekik wanita itu yang tak lain adalah Zaskia. Ia sedikit meringis ketika b***ng nya mendarat mulus di lantai ubin itu.


"Ahhh kau tak apa Nona?" tanya lelaki tersebut ketika merasakan seseorang menabrak tubuhnya dari belakang. Sontak ia mengulurkan tangan guna membantu wanita yang sedang jatuh terduduk itu.


"Iya, aku tidak papa Tuan. Maaf telah menabrakmu. Aku sedang buru-buru" sahut Zaskia sembari mendongakkan kepala dan betapa terkejutnya dua insan itu saat melihat siapa laki-laki yang tadi di tabraknya dan siapa wanita yang menabraknya.


.


.


.


.


Jangan Lupa Vote, Like, dan Comment ya readers sayang.

__ADS_1


Salam Sayang Dari Author


Yunita Dewi Puspita❤️


__ADS_2