
Kita memang memiliki hak untuk mencintai dan menaruh rasa terhadap siapapun. Namun perlu diingat satu hukum alam yaitu Tidak semua harapan bisa didapatkan dan tidak semua cinta bisa terbalaskan.
~Yunita Dwpspta
***
Tak terasa hari ini berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bagas masih duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi, sementara semua orang sudah terlelap bersama mimpi indahnya. Tak tau mengapa malam ini Bagas tak bisa memejamkan mata nya dengan nyenyak, ntah karena ia tak terbiasa tidur di kamar tamu atau bagaimana.
"Loh belum tidur Gas?" tanya Edwin ketika ia hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum dan tak sengaja melihat Bagas duduk seorang diri.
Edwin? Jangan tanyakan dari mana kedatangan Edwin. Wajar saja ia muncul, karena ia dan para sahabatnya menginap di mansion keluarga Wijaya atas permintaan Syafira. Sudah jelas mereka tak bisa menolak keinginan itu bukan.
"Belum Ed, gak pewe aja gitu tidur di kamar tamu" sahut Bagas kemudian Edwin duduk mendekat.
"Ohh kirain kenapa. Yaudah gue temenin begadang sambil nonton pertandingan bola dah" ucap Edwin.
"Oke.. Thanks broo" sahut Bagas dan hanya di balas anggukan serta senyuman oleh Edwin.
Hubungan Bagas dan para sahabat Fira terjalin dengan baik. Nampaknya Bagas sangat mudah untuk menyesuaikan diri dengan para sahabat isteri cantiknya itu.
Tapi bukankah Bagas tau tentang perasaan Edwin terhadap Syafira? Apakah dia tak cemburu? Tidak marah? Jika kalian bertanya seperti itu sudah pasti jawabannya tidak. Karena baginya cinta seseorang tak pernah salah, dan mau bagaimana pun juga kini Syafira adalah isterinya. Sudah dapat dipastikan dialah pemenang hati Syafira. Karena ini semua di ibaratkan ucapan Almarhum Eyang B.J Habibie.
"Kalau memang dia dilahirkan untuk saya, kamu jungkir balik pun saya yang dapat"
Untuk beberapa saat keadaan kembali hening.
Sama sekali tak ada obrolan antara kedua nya. Mata mereka fokus pada layar kotak berukuran lebar dan tipis itu. Namun, jika kita telisik lebih dalam lagi mungkin kita dapat melihat bahwa mata mereka memang tertuju pada televisi namun pikiran mereka melanglang buana entah kemana.
__ADS_1
"Sebelumnya aku minta maaf jika aku terlalu lancang menanyakan masalah ini padamu Ed.." ucap Bagas menjeda perkataannya hingga membuat kening Edwin berkerut.
"Apa maksud mu Gas? Sungguh aku tak mengerti" tanya Edwin bingung. Karena seingatnya mereka tak memiliki masalah apapun.
"Sejak kapan kau mencintai Syafira?" tanya Bagas sembari menatap Edwin.
Deggg...
Jantung Edwin berdetak sangat cepat. Aliran darahnya pun terasa mengalir begitu deras. Pertanyaan Bagas membuat dada nya seolah-olah di tikam ribuan pisau yang langsung menembus tepat di jantungnya. Jadi selama ini Bagas tau tentang perasaanku pada Syafira, apakah dia akan marah? Begitulah pikir Edwin.
"Aa-apaa maksud mu Gas. Aku tak mengerti. Cinta? Cinta macam apa yang kau tanyakan. Aku hanya mencintai dan menyayangi nya sebagai sahabat" elak Edwin sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan itu sama sekali tak luput dari penglihatan Bagas.
"Tak perlu menutupinya dari ku Ed. Aku sudah tau bahwa kau mencintai isteriku" ucap Bagas ketika ia mendengar Edwin mulai mengelak.
"Sejak kapan Gas?" tanya Edwin memberanikan diri menatap Bagas.
Selama itu dia tau dan hanya diam saja. Tidak pernah mengancam Edwin untuk menjauhi Syafira atau semacamnya. Padahal dulu sudah jelas bahwa Syafira adalah calon isteri Bagas.
"Tapi kenapa kau hanya diam saja Gas" tanya Edwin lagi.
"Lantas aku harus apa Ed? Mengancam mu untuk menjauhi Syafira atau apa? begitu pikirmu?" ucap Bagas membuat Edwin menghela nafas dengan kasar.
"Maafkan aku Gas. Aku tidak bermaksud menyimpan rasa pada isterimu. Tapi, jujur perasaan ini sudah lama ada dan aku sadar ini sebuah rasa yang salah" ucap Edwin sembari tertunduk.
"Tak perlu meminta maaf Ed. Syafira sosok yang sangat baik, jadi wajar banyak lelaki yang menyukainya. Terlebih kalian sering bersama bukan" ucap Bagas.
"Ya kau benar. Dia sosok yang begitu baik. Tapi tetap saja rasaku ini salah Gas. Tidak seharusnya aku melibatkan perasaan dalam persahabatan kami" ucap Edwin.
__ADS_1
"Ingat Ed..Cinta tidak pernah salah dan cinta tidak pernah tau kemana dia akan berlabuh. Namun terkadang cinta datang disaat yang tidak tepat. Contoh nya saat dia sudah menjadi milik orang lain. Jadi, aku harap bukalah mata dan hatimu. Lihat di sekeliling mu barangkali ada seseorang yang diam-diam tulus mencintaimu. Jangan hanya terpaku pada cinta yang pada dasarnya memang tak bisa kau miliki namun hanya dapat kau rasakan. Setiap orang juga punya titik lelah mencintai sesuai kadar kemampuan mereka sendiri Ed. Jangan sampai kau kehilangan cintamu untuk yang kedua kalinya. Jadi, berusahalah menguasai diri dan hatimu" ucap Bagas panjang lebar.
Bukan apa-apa ia berkata seperti itu. Ia hanya kasian pada Edwin jika harus terjebak dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mencintai seorang diri bukanlah hal yang mudah. Namun ingin memiliki pun rasanya sudah tak mungkin. Wanita yang Edwin cintai kini sudah milik lelaki lain. Jalan satu-satunya hanyalah berusaha ikhlas dan menerima kenyataan bahwa mereka memang tak bisa bersama. Dan seperti yang diucapkan Bagas, mungkin membuka dan menata hati untuk orang baru juga jalan yang terbaik agar ia tak terus-terusan hidup dalam kubangan cinta sepihak ini.
"Pikirkan baik-baik ucapanku ini Ed. Aku mengatakan itu karna aku juga menginginkan yang terbaik untukmu" ucap Bagas ketika Edwin sama sekali tak bersuara.
"Ya sudah. Aku akan kembali ke kamarku. Jangan tidur terlalu larut Ed. Selamat Malam" lanjut Bagas sembari menepuk pelan bahu Edwin.
Kini tinggallah Edwin seorang diri. Otak nya masih mencerna ucapan Bagas padanya. Hatinya seolah-olah bimbang antara melupakan cintanya atau tetap pada pendiriannya yaitu mencintai Syafira hingga akhir hayatnya.
"Haruskah aku melupakan cinta ini. Apa aku bisa membuang jauh-jauh rasa yang sudah lama terpendam. Apa aku bisa menghapus bayang-bayang Syafira dengan wujud nyata wanita lain. Otakku berkata iya aku bisa namun hati kecilku mengatakan bahwa aku tak sanggup. Ya Tuhan tolong berikan aku petunjukmu" gumam lirih Edwin sembari mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Tanpa ia sadari di balik pintu ruang keluarga, seorang wanita sedang menangis pilu meratapi nasib cintanya yang juga sama sepihaknya.
"Mungkinkah ini akhir cintaku untukmu Ed. Apa memang tak ada tempat bagiku barang sedikitpun di hatimu. Jika benar, maka mulai detik ini aku menyerah terhadap cintaku. Aku menyerah mencintai mu. Aku akan membuang jauh-jauh perasaan ini. Kau berpikir kaulah yang paling lelah dalam cinta sepihak ini, namun tanpa kau ketahui aku juga sama lelahnya Ed. Sangat lelah sungguh. Jadi selepas ini carilah kebahagiaan mu dan aku juga akan mencari kebahagiaan ku. Selamat tinggal Ed. Semoga kau selalu bahagia" batin wanita itu bertekad pada hatinya. Lalu setelahnya ia berangsur melangkah kembali ke kamarnya.
.
.
.
.
Jangan Lupa Vote, Like, dan Comment ya readers sayang.
Salam Sayang Dari Author
__ADS_1
Yunita Dewi Puspita ❤️