Mommy Untuk Azkia

Mommy Untuk Azkia
BAB 50


__ADS_3

Pagi hari menjelang, dua orang suster tengah membersihkan diri Syafira. Sementara Bagas bergegas turun membeli sarapan, karena Syafira tak bernafsu memakan makanan rumah sakit..


Setelah pesanannya siap, Bagas kembali ke ruangan dimana sang isteri dirawat. Di lihatnya Syafira tengah memakan buah apel yang tadi dikupas kan oleh suster.


“Sayang..” panggil Bagas masuk ke dalam ruangan Syafira.


“ Sudah selesai ya?” tanya Bagas dan dibalas anggukan oleh Syafira.


“Yaudah kamu makan dulu, ini aku beliin Soup ayam kesukaan kamu” ucap Bagas sambil mengangkat bungkusan ditangannya.


“Wah Soup ayam Mas. Kebetulan aku lagi pengen makan itu” ucap Syafira berbinar.


Melihat respon isterinya yang ceria, membuat hati Bagas berdesir. Dengan telaten ia menyuapi sang isteri hingga semangkuk Soup ditangannya habis.


***


“Permisi Pak, Bu. Saya Santi, Dokter SpOG yang akan menangani Bu Syafira” ucap Dokter berumur sekitar tiga puluhan memperkenalkan diri.


“Iya Dok. Silahkan masuk” sahut Bagas.


“Baik..Sebelum kita melihat kondisi rahim, saya ingin bertanya. Sejak kapan kamu merasakan nyeri perut atau nyeri hebat saat haid?” tanya Dokter Santi.


“Hmmm mungkin sejak empat bulan yang lalu Dok. Tapi tidak sehebat seperti sekarang” jelas Syafira.

__ADS_1


“Hmm apa sebelumnya pernah terjadi benturan diperut? Atau kecelakaan misalnya?” tanya Dokter Santi.


Syafira terdiam. Pandangan matanya terarah menatap sang suami.


“Kurang lebih empat bulan yang lalu isteri saya kecelakaan Dok, dia tertabrak mobil. Tapi hasil medis waktu itu sepertinya tidak mengarah ke bagian rahim” jelas Bagas membuat Syafira terdiam.


“Kalau boleh tau, posisi kecelakaannya bagaimana?” tanya Dokter Santi.


“Saya merasa dihantam dari samping Dok. Karena posisi saya saat itu sedang menyebrang” ucap Syafira yang tentunya bohong.


“Baiklah.. Ini sudah saya buka dan pelajari tadi” ucap Dokter Santi membuka sebuah map berlogo rumah sakit.


“Sekarang mari kita lihat ke monitor, agar saya dapat berucap dengan yakin” Kata Dokter Santi kemudian setelah suster mengoleskan gel di perut bawah Syafira, Dokter Santi mulai menggerakkan alat USG itu.


Dokter Santi menghela nafasnya lalu tersenyum..


“Saya harap kalian bijak dalam memahami ucapan serta penjelasan saya. Ini bukan sebuah kabar yang akan membuat kalian merasa terpuruk atau bersedih, termasuk anda, Ibu Syafira” ucap Dokter Santi sembari menatap wajah sendu Syafira.


Kini Bagas duduk tepat dihadapan Dokter Santi yang hanya dibatasi oleh ranjang tempat Syafira tidur.


Bagas menggenggam erat tangan Syafira yang semakian dingin.


***

__ADS_1


Setelah selesai pemeriksaan, suster mengelap sisa gel yang ada di perut Syafira. Lalu setelahnya, ia meminta Syafira merubah posisi tidur nya menjadi setengah duduk dengan sandaran Kasur.


“Semua sudah selesai sust, anda bisa keluar sebentar karena ada yang ingin saya bicarakan dengan pasien. Dan tolong sekalian minta obat ini di apotek rumah sakit dan berikan pada Ibu Syafira” ucap Dokter Santi yang merasakan kesedihan yang teramat dalam pada sepasang suami isteri ini harus tersimpan rapat. Karena baginya, kelemahan dan kesedihan hanya boleh kita yang tau dan merasakan serta tidak perlu di umbar karena akan menjadikan kelemahan kita pada khalayak ramai.


Setelah suster pergi, Dokter Santi menggenggam satu tangan Syafira. Hingga membuatnya nyaman meski jantungnya berdetak tak beraturan.


“Saya yakin kamu kuat” ucap Dokter Santi.


“Apapun yang terjadi aku harus ikhlas. Mungkin ini yang terbaik dari yang maha kuasa” batin Syafira


“Ya Allah kuatkan kami.. Jangan hukum isteriku hanya karena kesalahanku” batin Bagas.


.


.


.


.


Jangan Lupa Vote, Like dan Comment ya readers sayang.


Salam Sayang Dari Author

__ADS_1


Yunita Dewi Puspita❤


__ADS_2