
Syafira bangun ketika mendengar azan subuh berkumandang.
Sebelum pergi ke kamar mandi, tangannya meraih kantong plastik yang berisi testpack dibawah kolong kasur.
Syafira menatap pantulan dirinya di cermin yang ada didalam kamar mandi.
"Apa iya aku hamil?" gumamnya pelan.
"Apa kamu sudah tumbuh di perut Mommy dan mengabulkan keinginan Daddy?" kata Syafira berucap pada dirinya sendiri.
Syafira mengambil satu dari lima testpack.
Membaca dengan teliti cara penggunaan dari benda kecil itu.
Dibacanya satu persatu dan semua hampir sama cara penggunaannya.
Menggunakan air pipis wanita itu.
Tangan Syafira terulur mengambil sebuah cup kecil yang biasanya ia gunakan untuk melarutkan masker wajahnya.
Dengan berdebar ia menampung air seninya dan kembali ke depan cermin dimana ia meninggalkan testpacknya.
Bismillahirrahmanirrahim...
Syafira mengambil sebuah pipet kecil yang tersedia untuk meneteskan lima tetes air seninya ke salah satu alat testpack, kemudian ia teteskan lagi ke alat kedua, dan terakhir ia celupkan sisa tiga testpack itu kedalam cup yang berisi air seninya.
Jantungnya berdebar tidak karuan. Wajahnya pun panik dan pucat pasi luar biasa.
Ia mondar-mandir tidak jelas guna menghilangkan kepanikannya dan menunggu kelima testpack tersebut membuahkan hasil.
10 menit kemudian.. Mata Syafira terbelalak kaget saat kelima alat cek kehamilan itu telah memberikan hasil.
Air matanya berlinang membasahi pipi putihnya.
MASSS BAGASSSS!!!!
Entah apa yang merasuki Syafira.
Ia berteriak sekencang mungkin memanggil nama sang suami.
Bagas yang sudah setengah sadar samar-samar mendengar teriakan sang isteri. Tangannya terulur mengelus tempat tidur yang awalnya digunakan oleh Syafira, matanya terbuka lebar saat tak mendapati sang isteri disana.
Dengan kecepatan penuh ia berlari kearah kamar mandi dimana teriakan sang isteri berasal.
"Sayang ada aaaa----..." ucap Bagas terputus ketika Syafira langsung memeluk tubuhnya erat sambil menangis bahagia.
Karena bingung, Bagas mencoba mengedarkan pandangannya.
Hingga tatapannya tertuju pada jajaran testpack yang terletak di atas table set toilet itu.
Dari kaca besar dan lebar dihadapannya, ia dapat melihat sang isteri tersenyum dalam tangisnya.
Sedetik kemudian, Bagas mendorong sang isteri agar berada disamping table berbahan marmer itu.
"Sayang ini maksud nya apa? Kamuu.. Kamuu--" ucap Bagas terbata dengan jantung yang sudah berdebar begitu kencang.
"Insya Allah, aku hamil Mas" ucap Syafira mengundang senyum merekah di bibir Bagas. Dipeluknya sang isteri dengan erat.
Alhamdulillah..
Bagas tak ada henti-hentinya menghujani wajah sang isteri dengan kecupan bahagia. Bergegas ia keluar kamar mandi dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Mas kamu ngapain? Kenapa di foto?" tanya Syafira heran.
"Gapapa Yang. Buat kenang-kenangan aja" sahut Bagas dengan senyuman yang tak pernah surut dari wajah tampannya.
Tiba-tiba muncul sebuah ide.
Diraihnya sebuah tripod yang terletak di atas meja dan ia letakkan ponselnya pada tripod itu sehingga mampu menangkap gambar dirinya bersama sang isteri.
Tak lupa ia juga mensetting timer penangkapan foto.
Bagas melangkah mendekati sang isteri.
Diraihnya pinggang Syafira dan dipeluknya secara posesif.
Perlahan bibirnya menyatu dengan bibir tipis Syafira.
Tangannya yang satunya pun ia julurkan kedepan menghadap kamera dengan memegang testpack yang menunjukkan hasil positif.
Good!!! sempurnaa!!!
Terpampang foto mereka yang sedang berciuman mesra dengan testpack yang Bagas arahkan ke kamera.
"Astaga Mas. Waktu subuh hampir habis, yuk kita sholat dulu" pekik Syafira.
Bagas mengangguk lalu mereka pun bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat.
***
Bagas dan Syafira kini sedang duduk berhadapan disebuah sajadah dan masih lengkap dengan pakaian sholat mereka.
"Nanti kita make sure ke dokter ya sayang" kata Bagas sembari menggenggam tangan sang isteri.
"Tapi kalau nanti ada kekecewaan atas harapan kita bagaimana Mas?" tanya Syafira takut. Jujur ia merasa cemas akan hasil nantinya, karena ia sering mendengar bahwa penggunaan testpack belum tentu akurat.
"Stttt.. Gak baik bicara begitu Yang. Aku yakin dia sudah ada disini dan sebagai seorang Ayah aku bisa merasakannya" ucap Bagas sembari mengusap lembut perut sang isteri.
Mendengar perkataan sang suami membuat Syafira tersenyum.
Dirapatkan tubuhnya kearah Bagas dan bersandar di dada bidang suaminya.
"Kamu mau makan sesuatu kah?" tanya Bagas sambil mengusap kepala sang isteri yang masih berbalut mukena.
"Pengen makan lontong sayur nya Mang Udin depan komplek Mas" ucap Syafira masih didalam dekapan suaminya.
"Boleh aku suruh Bi Ana atau Pak Alan yang beli?" tanya Bagas hati-hati.
"Iya Mas boleh" jawab Syafira.
"Yaudah kalo gitu kita turun yuk. Sekalian aku minta Bi Ana beli buat sarapan juga" ucap Bagas lalu mengajak sang isteri untuk turun kebawah.
***
Sarapan pagi..
"Tumben menu sarapan kali ini bukan nasi goreng sama telur dadar" kata Abel yang melihat ada berbagai menu seperti lontong sayur, bubur ayam, nasi kuning dan beberapa kue basah yang menggugah selera. Kebetulan tadi malam Oma Hana dan Abel menginap di rumah Bagas dikarenakan Opa Bram sedang ada pekerjaan diluar kota.
"Loh tumben kamu pagi-pagi udah rajin beli makanan sebegini banyak Bel" ucap Oma Hana yang baru saja muncul.
"Bukan Abel yang beli Tan" sanggah Abel.
"Maaf Nyonya, ini semua pesanan Tuan Muda" kata Bibi yang datang dari arah dapur sambil membawa beberapa buah-buahan.
__ADS_1
"Hah? Bagas?" tanya Oma Hana heran. Karena setaunya anaknya itu tidak terlalu suka membeli makanan pinggir jalan seperti ini.
"Tante.. Jangan-jangan. . " seru Abel teringat sesuatu.
"Jangan-jangan apa?" tanya Bagas yang muncul dari arah belakang Abel hingga membuatnya terlonjak kaget.
Ketika ia membalikkan badan, terlihat Kakak nya itu sudah rapi dengan pakaian santainya dan di sampingnya juga terlihat Syafira yang sudah rapi dengan dress berwarna mint dengan motif bunga-bunga kecil.
"Sayang gimana?" tanya Oma Hana antusias tanpa memperdulikan Bagas yang tengah menatapnya heran.
Syafira mengangguk lalu melangkah mendekati Oma Hana dan menyodorkan plastik biru kecil berlogo apotik yang berisi lima buah testpack yang tadi telah ia gunakan.
Dengan hati berdebar Oma Hana membukanya hingga membuat Abel juga ikut mendekat.
"Ya Allah.. Alhamdulillah" seru Oma Hana menahan haru.
Syafira tersenyum lebar dengan cepat Oma Hana mendekat dan memeluk menantu kesayangannya itu.
"Selamat ya sayang. Nanti kita ke dokter sama-sama yaa" kata Oma Hana antusias.
Abel dan Bibi yang menyaksikan adegan haru itu pun hanya bisa mematung sambil tersenyum bahagia.
"Selamat Kakak Iparku" ucap Abel sambil memeluk Syafira.
"Nyonya selamat yaa.. Bibi siap kalo nanti Nyonya muda ngidam sesuatu" ucap Bibi hingga membuat semua orang tertawa.
"Makasih Bii, makasih Bel" ucap Syafira tersenyum.
"Nah bentar lagi Kia bakalan jadi Kakak ya Nak. Nanti jagain adeknya ya kalo adeknya udah lahir" ucap Oma Hana pada Azkia yang menyaksikan interaksi antara orang-orang dewasa didepannya.
"Wahh beneran Mom.. Dad?" tanya Azkia antusias.
"Iya sayang. Bentar lagi Kia bakalan punya dede bayi" ucap Syafira sambil mengusap lembut pipi putri kesayangannya itu.
"Jadi Kakak yang baik ya Nak" ucap Bagas menimpali dan membawa Azkia dalam gendongannya.
Mendengar ucapan orangtuanya, membuat Azkia mengangguk patuh.
"Yaudah makan dulu sayang. Itu lontong sayur pesenan kamu udah ada" kata Bagas sembari tersenyum bahagia.
"Bagas kamu harus sabar ngadepin mood ibu hamil. Jangan cuek kaya dulu waktu mantan isteri kamu hamil. Inget Fira itu beda sama Ellena, awas aja sampe kamu nyakitin Fira. Bakalan Mommy coret dari jajaran ahli waris" bisik Oma Hana pelan yang hanya bisa didengar oleh Bagas.
Setelah suasana haru itu kini berganti dengan suasana bahagia. Tapi sayang tak ada Opa Bram dan Kakek Jack diantara mereka.
Namun walaupun begitu, saat-saat seperti inilah yang selama ini mereka nantikan.
Yang Insya Allah akan hadir anggota baru di tengah-tengah mereka.
.
.
.
.
Jangan Lupa Vote, Like, dan Comment ya readers sayang.
Salam Sayang Dari Author
Yunita Dewi Puspita ❤️
__ADS_1