
Setelah semua nya beres, dan Nisa terpaksa membangunkan dua bibi nya dan berpamitan.
Mereka kini sedang berada di dalam mobil yang membawa mereka ke bandara.
" Mas.. kok kamu jam segini ngajak aku pulang, emang mas udah dapet tiket pesawat nya? tanya Nisa saat mereka masih di dalam mobil
" Jangankan pesawat Nis, pilot nya dia juga sudah dapet.. " Marvin menjawab pertanyaan Nisa segera.
" Maksudnya? tanya Nisa yang masih bingung
" Sudahlah jangan dipikirin, yang pentung kita cepet sampai dan selamat sampai tujuan" jawab Grey dengan penuh kelembutan dan menggenggam erat tangan Nisa.
Grey tahu saat ini Nisa sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya,dan dia butuh orang yang ada di sampingnya untuk menguatkan.
" Sekarang tidur lah, nanti kalau sudah sampai bandara mas bangunin" kata Grey dan meletakkan kepala Nisa pada bahunya.
Dengan sedikit ragu Nisa memejamkan matanya, karena memang dia saat ini sangat lelah dan mengantuk, tak lama Nisa pun tertidur.
Tak lama mereka sampai bandara dan melihat Nisa yang sangat lelap dalam tidurnya, Grey tak tega membangunkan istrinya yang Akhirnya dia menggendong tubuh istrinya ke dalam pesawat pribadi miliknya,Grey meletakkan Nisa di kamar yang ada dalam pesawat nya dan dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Nisa.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya mereka sampai di bandara Yogyakarta.
" Sayang... yang,bangun kita sudah sampai lho? ucap Grey membelai lembut wajah sang istri
" Heeemmm... mas, kita ini dimana? tanya Nisa saat membuka matanya, karena kaget melihat sekelilingnya terlihat asing baginya.
" Kita di dalam pesawat, trus kita sudah sampai sayang... sekarang pake hijab kamu, kita turun yaa..? ucap Grey membelai lembut rambut Nisa
Nisa yang masih bingung mau ngomong juga bingung, akhirnya dia mengikuti apa yang suaminya bilang. Setelah selesai membenarkan penampilannya Nisa keluar dari tempat itu. melihat sang suami sudah di depan pintu keluar pesawat pribadi miliknya,Nisa langsung menghampiri sang suami yang sudah mengulurkan tangannya.
Nisa dan Grey saling menautkan jemari mereka dan berjalan berdampingan menuju mobil yang sudah menunggunya, diasana terlihat Marvin yang setia bersama sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Mobil mulai berjalan dengan pelan dan meninggalkan kawasan bandara.
" Mas kita mau kemana? tanya Nisa bingung karena memang dia belum bilang kalau ibunya di rawat di rumah sakit apa dan alamat rumah nya pun dia belum kasih tahu.
" Kamu ingin langsung ketemu ibu kan? tanya Grey santai dan menggenggam erat tangan Nisa, dan Nisa pun mengangguk.
" Vin.. lo udah tau kan infonya? tanya Grey lagi pada Marvin
" Sudah bro, kita langsung ke RS.. " jawab Marvin dengan bersandar di Jok mobil sedang supir mobil itu segera membawa mereka ke tempat tujuan.
Beberapa waktu kemudian mereka sampai di sebuah Rumah Sakit besar di Jogja dan mobil langsung berhenti depan lobby RS.
"Kita sudah sampai tuan" ucap Sopir mobil itu.
" Makasih pak.. " ucap Grey dan segera mengajak Nisa turun..
Nisa, Grey, juga Marvin turun dari mobil dan menurunkan bawaan mereka koper dan juga tas pakaian milik Marvin, mereka masuk ke dalam Rumah Sakit dan langsung menuju resepsionis.
" Permisi sus, numpang tanya kamar rawat atas nama aibu Marsih dimana ya sus? tanya Nisa dengan sedikit melirik arah sang suami yang sedang bicara pada Marvin terlihat serius.
" Terima kasih sus" ucap Nisa dan mendekati sang suami juga sahabatnya.
Mereka menuju tempat yang di tunjuk suster dan benar saja di sana ruang VIP 07 ,Nisa segera menghubungi sang ayah yang sudah berada di dalam ruangan rawat.
Tak lama berselang Pak Karsa keluar dari ruangan itu dan melihat sang putri yang bersandar di bahu seorang laki-laki blesteran. Banyak pertanyaan di hati pak Karsa ada rasa kecewa karena sesuatu terjadi pada sang putri namun dia tak ada disisihnya.
" Ndok...!! panggil pak Karsa pada sang putri
Mendengar suara yang sangat di kenal Nisa pun menoleh pada sumber suara,terlihat sang ayah dengan tatapan sendunya.
" Bapak... " Nisa dengan cepat melangkah menuju Pka Karsa dan memeluk pria paruh baya itu.
__ADS_1
" Kamu sudah datang, kok cepet ndok? tanya pak Karsa tak pernah menyangka sang putri begitu cepat datang menemuinya.
" I.. itu karena Mas Aleek yang usahakan Nisa cepet kesini. " Nisa dengan wajah yang khawatir dengan keadaan sekarang, dan juga belum memberi tahukan jika dia sudah menikah dengan Grey laki-laki yang ada di dekatnya.
" Ohh.. terima kasih nak, kamu mau bersusah payah buat Nisa cepat datang.. " ucap Pak Karsa merasa beruntung ada orang baik di sekitar anaknya.
" Bukan masalah yang penting pak, yang penting Nisa dengan cepat harus di sini sama bapak juga ibu. " jawab Grey dengan ekspresi yang tenang.
" Pak.. kok bisa ibu sakit itu kenapa? apa yang terjadi sebenarnya? tanya Nisa beruntun
" Kamu ini kayak wartawan nanya nya nyerocos saja.. kamu temui ibumu, istirahat di dalam, bapak sama teman-teman mu biar di sini." ucap Pak Karsa pada Nisa.
Nisa yang melihat sang suami seperti memberi kan isyarat untuk minta ijin ke dalam, dan Grey tahu itu dan mengedipkan kedua matanya dengan tersenyum menandakan mengiyakan, dan Nisa mendapat isyarat itu pun tersenyum dan melangkah menuju kamar rawat sang ibu.
Dan kini ketiga pria yang ada di depan ruang rawat ibu Nisa, mereka masih berdiam diri.
" Pak.. maaf saya Aleek baru bisa menemui bapak saat ini." ucap Grey dengan lirih namun tersirat keseriusan di raut wajahnya.
" Apa kamu yang sebulan lalu menelpon saya, meminta ijin menikahi anak saya Nisa? tanya Pak Karsa keluar juga pertanyaan yang sedari tadi dia tahan.
" Maaf pak, iya saya Greyvin Maleek Hermawan seorang pria biasa yang menikahi anak bapak tanpa kehadiran bapak, dan bukan saya tidak menghargai bapak, saat itu marwah Nisa lebih penting dari segalanya. " Jelas Grey pada bapak mertuanya.
" Apapun yang terjadi pada kalian, walaupun bapak kecewa karena tidak bisa secara langsung menikahkan Nisa dengan langsung, tapi.. bapak merasa tak ada salahnya waktu itu memberikan kamu restu, karena waktu itu ada seseorang juga menjelaskan mengapa pernikahan itu harus terjadi makanya bapak ikhlas untuk menyetujui permintaan kalian " jelas pak Karsa dengan sedikit melirik arah menantunya.
" Pak.. bolehkah saya menikahi Nisa lagi, dan bapak menjadi walinya.. karena tanpa bapak menikahkan kami secara langsung maka saya belum memberikan nafkah batin buat Nisa pak, dan itu membaut saya merasa berdosa" ungkap Grey dengan wajah sedihnya
" Astaghfirullah.. nak, dia sudah jadi istri sah kamu lho.. walaupun kalian waktu itu nikah siri dan bapak tahu kamu pasti ingin melegalkan pernikahan kalian kan? pak Karsa tak menduga dengan kenyataan yang terjadi pada rumah tangga sang putri.
" Maka dari itu saya ingin bapak menikahkan kami sekali lagi, dan secara resmi kalau nikah dengan cara sederhana apa boleh saya laksanakan? tanya Grey dengan nada serius.
" Begini.. besok kamu ikut bapak dan membicarakan semuanya pada pihak KUA dan kamu bawa surat nikah kamu nggak? kalau bawa kita serahkan ke pihak KUA dan menanyakan ke absahannya. " usul pak Karsa dan Grey pun menyetujuinya.
__ADS_1
Marvin yang mendengar pembicaraan mertua dan menantu itu merasa lega, karena ayah Nisa seperti sosok pengganti ayah Grey yang sudah tiada, orang yang bijak dan juga tak serta merta mempermasalahkan sesuatu tanpa mendengarkan alasannya yang secara logis.
B E R S A M B U N G