
" Marvin cepat bawa dia ke ruang praktek kamu" ucap Grey dengan nada memerintah
"Wahhh.. ini gara-gara lo nih dia pingsan, dia itu naksir lo.. gw aja di kira suami Nisa " ucap Marvin membuat Grey spontan melihat sang istri.
Sementara Marvin dan dua Security mengangkat tubuh Wati ke ruangan Marvin.
" Jannah,apa saya ada pasien? tanya Grey pada Jannah yang sudah kebali ke dalam t ef mpat kerjanya
" Ada dok baru dua orang, praktek tiga puluh menit lagi.. " jawab Jannah dengan bahasa formalnya.
Yaaa... walaupun Grey adalah suami Nisa, Jannah tetap. menghormati Grey sebagai layaknya atasannya.. supaya tidak ada kata kesenjangan sosial.
" Oke.. saya butuh waktu sebentar buat nyonya kamu" ucap Grey dan menarik Nisa dengan cepat ke dalam ruangannya.
" Baik Dokter.. jangan kelamaan!! " seru Jannah dan Grey hanya menjawab dengan acungan jempolnya.
.
.
" Kenapa masih cemberut gitu sih..hemm? masih soal Wati? tanya Grey dengan nada lembut
" Kan Nisa bilang sama mas, jangan terima dia.. kenapa mas nggak mau ngerti sih kemauan Nisa " ucap Nisa dengan bibir yang manyun
" Astaga... bisa kan bibirnya nggak usah di manyun-manyunin.. hemm?? ucap Grey dengan menyentuh bibir Nisa.
" Mas aku lagi bahas Wati bukan masalah bibir" ucap Nisa menyingkirkan tangan Grey
" Kamu kok sensi banget sih..lagi PMS yaa? ucap Grey
" Tau lah.. mas,aku...
" Sayangg... setiap orang punya masalalu, nggak selamanya dia akan berperilaku sama seperti dulu, dan orang yang dulu nya baik biasa juga berubah jahat karena apa Allah maha membolak balikkan hati manusia. " terang Gray menggenggam erat tangan Nisa
Nisa menilik mata sang suami yang selalu membuat dia larut kedalamnya.
" Tapi, mas tuh.. nggak tau dia itu gimana? Ucap Nisa dengan kesal.
" Sudah yaa... nih coba kamu makan permen ini, biar omongan kamu manis kayak gula dalam permen ini, nggak pedes kaya cabe rawit.. oke? Pinter..?!!! makin sayang mas nih"
" Permen? mas ..aku bukan anak kecil yang di sogok sama permen trus diem, itu bukan Nisa..mas nggak sayang sama Nisa !! protes Nisa dengan mengembalikan permen yang di kasih suaminya.
" Biar sedap itu mulut kalau ngomong, kan enak kalau di denger di kuping.. jangan kayak petasan" ucap Grey dengan nada menggoda sang istri
Grey tetap menanggapi perkataan sang istri dengan penuh kelembutan dan reaksi Nisa membuat Grey tambah gemas, buat Grey suka meledeknya..
Nisa yang mendapat perlakuan seperti itu membuat hatinya makin kesal, bukannya menuruti kemauannya malah Grey malah makin menjadi.
Tok tok tok
"Maaf Dr Grey sudah waktunya praktek " ucap Suster Dian menilik ruangan Grey.
__ADS_1
" Bentar lima menit lagi, ini urusan Rumah Tangga.. " ucap Nisa dengan bibir yang manyun
" Ba...baik mbak Nisa " ucap suster Dian dan dia kembali ke tempatnya.
" Sudah yaa... marahnya, masa mau di terusin? oke.. mas minta maaf kalau buat Nisa kecewa, tapi.. setiap keputusan itu bukan mas saja yang bisa ambil keputusan, semua kewenangan disini itu ,perlu ada persetujuan mas, Jo, juga Marvin.. jadi.. sayang jangan ngambek lagi yaa.. kasihan dedek nya.. " ucap Grey dengan mengelus perut Nisa.
" Ada lagi mas nih... nggak ada baby di sini, lagi WHD..!! ucap Nisa dengan wajah kesal
" WHD Apa tuh? tanya Grey
" Waktu Haid Datang..!! jawab Nisa dengan mata menatap tajam
" Pantas !! gumam Grey
" Apa?!! kamu ngomong sesuatu mas? tanya Nisa menyelidik
" Nggak papa, sudah yaa... nanti dibahas lagi masalah ini lain waktu trus sekarang waktunya mas praktek maaf ya.. yayang..?? ucap Grey dengan mengecup lembut pipi Nisa.
" Ok.. yayang tunggu di rumah, Yiying harus cepet pulang..!! ucap Nisa.
" Kamu panggil mas Yiying? kayak tikus aja Yiying??!! protes Grey dengan menggeleng gelengkan kepala nya
" Itu Nyingnying... Yang di Cintai..!! pekik Nisa dengan cepat melangkah meninggalkan ruangan Grey
.
.
" Mr Grey...!!!
Pekik Wati seketika membuka matanya dengan lebar.
" Alhamdulillah kamu sudah sadar, gimana.. ada keluhan? tanya Marvin pada Wati.
" Hati saya yang sakit dokter, kenapa Nisa dengan mudah mendapatkan apa yang orang lain inginkan? ucap Wati dengan wajah lesu.
" Maksudnya soal Grey?
Wati pun mengangguk dengan lesu.
" Nggak mudah mendapatkan hari Grey, dan tak. mudah menyandang predikat istri seorang Greyvin Maleek.. butuh perjuangan dan ketulusan ,itula Nisa ..gadis yang terbaring sederhana dan apa adanya, membuat Grey bisa meliriknya. " jelas Mavin dengan menerawang saat Grey menceritakan hubungannya dengan Nisa.
" Nisa memang baik, dia pantas untuk mendapatkan semua itu dokter" ucap Wati. dengan mengingat kejadian dimasa lalu Nisa.
" Sudahlah sebaiknya kamu, harus bisa tunjukkan ke Nisa kalau kamu teman yang baik buatnya dan.. jangan sia-siakan kesempatan yang saya kasih untuk kamu magang disini" ucap Marvin dengan menyum ramahnya.
" Baik Dok..terima kasih" ucap Wati dengan wajah sedikit lebih baik.
.
.
__ADS_1
.
Drrrrrrtttt Drrrrrrtttt
📞 Tasya Calling..
" Kak Tasya, tumben di telpon " gumam Nisa..
" Assalamualaikum kak Tasya ,apa kabar?
Salam dari Nisa terdengar saat mengangkat panggilan dari Tasya.
" Wa'alaikumsalam Nisa, alhamdulillah baik, kamu apa kabar?
terdengar suara dari seberang sana seperti menadakan sesuatu akan terjadi.
" Baik kak, ada perlu apa nih.. tumben kakak hubungi Nisa jam segini?
" Nisa, di deket kamu ada Mr Grey?
" Nggak ada kak, mas Aleek masih di Klinik trus ke Pabrik dulu, ada apa kak? apa ada perli sama suami Nisa?
" Justru aku mau ngomong sama kamu, Nisa coba kamu tolong bujuk Mr Grey balik Ke Angkasa Corp.. keadaan mulai kisruh Nis"
" Hahh.. kok bisa, kan ada kakek sama Simon kak?
" Banyak yang janggal disini Nis, kalau di terusin bakal bangkrut Angkasa "
" Maksud kakak?
" Ada penggelapan dana, dan kakak nggak sengaja melihat laporan keuangan kebetulan sekarang kakak di tugaskan di bagian arsip "
" Hahh.. maksudnya kakak sudah bukan sekretaris dari Kakek?
" Bukan Nisa, tuan Alex pun sekarang menjadi karyawan dan sekaligus driver tuan Simon "
" Hahhh.. kak Alex..?? kok bisa??
" Makanya tolongin kita Nisa, supaya Mr Grey mau kembali lagi ke Angkasa Corp "
" Aduhhh... gimana ngomongnya, aku saja masih kesel sama dia soal Wati.. kalau aku bahas ini mas ALeek. pasti bakal marah sama aku" batin Nisa
" Nis... Nisa,kamu masih di situ Nis?
Teriak Tasya membuat Nisa kaget tersadar dari lamunannya.
" I.. iya..iya kak, Nisa nggak bisa janji tapi yah..tapi,Insyaallah Nisa bantu ngomong " ucap Nisa mencoba menenangkan Tasya.
Setelah selesai menerima panggilan itu membuat Nisa mencari cara bagaimana Nisa harus bisa bekerja kembali ke Angkasa Corp
Bersbung
__ADS_1