
"Ternyata benar suami Nisa seorang pria bule, kelihatannya dia nggak miskin-miskin banget lah... tapi, aku liat dandanannya sederhana begitu" batin Sinta memindai penampilan Grey yang terlihat sederhana hanya dengan kaos dan celana jeans
" Sebenarnya ini ada apa sayang...?? tanya Grey dengan mengusap lembut kepala Nisa
" Ini suami kamu Nisa..? ganteng sih, bule pula.. tapi, memang bener Mr kalau anda menyewa Jannah jadi wanita penghib*r? tanya seorang ibu muda dengan tatapan jijik pada Jannah.
" Wanita penghib*r? oh.. maksudnya Escort girl? saya meminta tolong pada Jane.. maksud saya Jannah, untuk hadir di ulang tahun kakek saya, kebetulan Jannah juga seorang model jadi saya minta tolong buat datang saja, dan banyak yang menganggap kalau Jannah pacar saya tapi kami hanya teman.. dan karena dia hadir di acara itu pasti mengganggu scedule pemotretan nya jadi saya bayar dia sebagai ganti rugi atas kerjanya itu, maksud nya mungkin wanita penghib*r itu karena memang Jannah juga pandai menyayi jadi dia sekalian menghibur para tamu disana, itu aja.. bukan menyewa tujuannya macam-macam kok.. " jelas Grey panjang lebar
"Nilai mengarang dia pasti nilainya bagus, salut aku mas.. sampe begiti cepat dia jawab tanpa rasa ragu dan juga bingung. "batin Nisa melihat suaminya yang jago membual
" Astaga Mr Grey, selamat karena anda sudah sukses buat orang percaya dengan kebohongan anda" batin Jannah melihat suami sahabatnya begitu membelanya
"Gw yakin dia pasti lagi bohong, astaga Grey.. tak percuma jadi pengusaha sukses memang lo bakat jadi pembohong ulung hahahaha" batin Marvin melihat sahabatnya yang terlihat sangat berusaha keras membela sahabat sang istri.
"Kamu memang Best mas" bisik Nisa pada suaminya dan di jawab dengan senyuman manis oleh Grey.
" Jadi jelas kan, apa yang terjadi sebenarnya.. dan kamu Sin.. nggak perlu menghasut orang untuk benci kami, dan aku sama kamu pernah berteman, tapi.. kamu sekarang bukan Sinta yang aku kenal"ucap Nisa dengan wajah sedihnya
" Sinta yang dulu selalu buat kacung kamu, itu nggak ada lagi Nisa, aku.. adalah putri seorang kepala desa trus,calon istri Bagaskara anak pak Broto yang terkenal kaya disini.. kalau Sinta yang kamu maksud itu sudah mati.. " ucap sinis Sinta dengan menajamkan matanya.
" A crez* woman like you doesn't deserve to be an official' son "ucap Grey dengan bahasa planetnya..
" Astaga laki gw, mana tau kalau dia ngatain Sinta gil*.. pake bahasa planet yang nggak pada tau.. " batin Nisa dengan menepuk jidatnya.
" Dia ngomong apa sih, kalau ngomong pake bahasa Indonesia aja Mr. biar kita pada tau.. " protes seorang ibu.
__ADS_1
" Intinya Mr Grey ngomong kalau kamu nggak pantes jadi anaknya kades.. lah.. kan nggak mencerminkan sopan santun " ucap Jannah dengan wajah yang mengejek
" Hehh.. kamu berani ngatain saya seperti itu, denger yaa.. lihat pabrik besar disana, ayah saya tau siapa yang punya dan saya juga tau kalau kalian ibu-ibu yang kerja juga disana kan, mau saya laporin ke Boss nya buat mecat kalian " ancam Sinta dengan sombongnya
" Sudah kita masuk saja.. " ucap Grey dan merangkul erat tubuh sang istri dan membimbingnya ke dalam salon.
.
,
" Gimana ibu-ibu kalau mau ke salon saya persilahkan Promonya sampe akhir bulan kok" ucap Jannah dengan memberikan brosur pada ibu-ibu yang sehabis pulang dari pabrik
Sementara di dalam salon Grey dan juga Marvin saling bicara serius, dan Nisa membereskan tempat buat cuci rambut.
" Sebaiknya, Alex yang muncul disana.. dan sekarang biarkan dia dengan kesombongannya, sejauh mana dia bisa sombong didepan istriku" ucap Grey dengan wajah sadisnya
" Gw masih pengen main main sama mereka Vin, sudah lama gw nggak main begini" ungkap Grey dengan senyuman mautnya.
" Terserah lo aja, jangan sampe.. bini lo kejang-kejang karena baru tahu lo nggak miskin kaya apa yang dia pikirin " ucap Marvin membuat Grey tersenyum tipis mengingat istrinya sangat mengkhawatirkan dirinya.
.
.
Saat ini di kediaman Pak Karsa mereka sedang makan malam, dengan suasana begitu hangat dan di sana masih ada Marvin dan di tambah Jannah mereka makan sambil bercanda dengan hangat, apalagi saat kedua pria muda disana Grey dan Marvin terlihat saling melempar candaan.
" Eh.. iya ibu sampe lupa, itu pabrik di sebrang desa kan udah buka trus katanya boss nya mau dateng, dan dia mau nginep di salah satu rumah penduduk, katanya sih.. rumah sahabatnya. " ungkap Bu Marsih dengan semangat.
__ADS_1
Grey dan Marvin saling berpandangan dan mengulas senyum
" Kalau boss nya pabrik itu, nginep sini gimana bu? pancing Marvin
" Wahhh... omongan mu le... mana mungkin boss besar mau nginep di gubug reot punya kita" ucap Bu Marsih.
" Kalau gitu kita renovasi sebelum boss besar itu dateng.. " ucap Grey dengan santai.
" Lah.. uang nya dari mana mas, kita aja masih ngrintis bisnis online batik trus aku joint sama Jannah salon, trus kamu baru mau buka Klinik.. masa mau renovasi juga.. lah,apa nanti nggak dibilang aku piara tuy*l atau *abi ngep*t, wong tadi nya aku rakyat misquen bisa bangun ini itu.. tambah ndadi nanti si Bu Broto nyinyirin ibu sama aku" tukas Nisa dengan wajah kesal karena mendengar sang suami yang seperti tanpa pikir panjang bilang ini itu.
"Ndok.. inget suami mu loh iku..kalau suami mau istrinya seneng kenapa nggak? kata pak Karsa dengan melirik sang putri.
" Kok bapak jadi matre gitu, dulu nggak kok.. wah.. bapak Dollar Syndrom yaa? ucap Nisa mencebikkan bibirnya meledek sang ayah.
" Hussttt... kamu itu, Dollar bapak tuh.. diumpetin sama ibu" jawab pak Karsa dengan milirik sang istri.
" Bukan diumpetin pak.. tapi, diamanin !! lah...nggo ngopo bawa duit Dollar ,malah nanti khilaf gimana? bukan bapak yang khilaf.. tapi janda-janda gatel sekitar sini"ucap sadis bu Marsih membuat semuanya menahan tawa.
" Lah... bapak nggak bawa Dollar juga banyak yang naksir buu... " ucap Pak Karsa tak mau kalah.
" Wes to pak.. bu, gak isin po sama menantunya, padhu wae.. " ucap Nisa dengan menghentikan pertengkaran kedua orang tuanya.
" Oh.. iya gini bu, pak.. Aleek mau adakan pengobatan gratis di sini,nanti Aleek akan di bantu Marvin sebelum dia bekerja lagi menjadi model dan nanti ada Nisa sama Jannah yang akan bantu buat sosialisasi dan juga pendataan ..gimana? apa kalian setuju, kalau setuju nanti akan Aleek urus soal surat permohonannya.
" Bapak nggak masalah, kalau kamu mau gunakan tempat kita jadi pos kesehatan bapak sama sekali nggak masalah, ibu. pasti juga nggak keberatan to.. bu? lakukan, apa yang kamu maksud itu bisa mendatangkan kebaikan buat semua orang, dan Insyaallah akan ada manfaat nya kita berbuat baik untuk kehidupan kita nanti" ujar pak Karsa dengan senyuman bangga nya pada sang menantu.
Pak Karsa sangat senang dengan visi ,misi,hidup Grey.. dia tak pikir kalau mau bantu orang itulah yang dia kagumi dari sosok menantunya, tanpa pengetahuan Nisa juga ibu, mereka sering berbagi dimana pun, dan semua itu atas nama kelurga besar Hermawan dan juga Pak Karsa.
__ADS_1
BERSAMBUNG