Mr Grey My Husband

Mr Grey My Husband
# Perpisahan Sementara


__ADS_3

" Sayang, kalau mas nggak ada kabar selama satu minggu tolong kamu kasih tahu Marvin juga Jojo untuk hubungi Togar dan nanti kamu akan tahu langkah apa yang harus sayang ambil, semua keputusan ada di tangan kamu, dan inget.. jaga selalu kesehatan kamu juga baby twins kita yaa?" ucap Grey dengan mengelus elus perut Nisa.


"Mas, jangan pernah tinggalin Nisa sama anak-anak, mereka butih kamu.. mas harus janji mas selaou sehat, jaga makan minum mas disana, trus.. jangan lupa minun vitaminnya,jangan buat Nisa risau okey? " ucap Nisa dan Grey tersenyum mengiyakan.


" Oh iya.. kalau mau kemana-mana minta Jannah sama Bagas temani kamu,mas percaya sama Bagas.. dia nggak akan nyakitin kamu, dia sayang sama kamu, tapi sayang mas yang paling besar sama kamu." ucap Grey dengan mengambil melempar candaan.


Setelah menyiapkan diri Grey dengan mencium wajah istrinya juga baby twins dengan sayang,berpamitan dengan mertuanya,terasa berat memang saat meninggalkan istri yang sudah akan melahirkan.


Mobil yang membawa Grey juga Simone dan mama Catrine sudah tidak terlihat lagi, kini yang terasa hanya sunyi dalam sisih hati Nisa.


" Sudah, doa kan semuanya akan baik-baik saja." ucap bapak dengan penuh semangat pada Nisa.


" Percayalah sama suami kamu, Insyaallah akan kembali." ucap ibu Marsih pada sang putri.


Malam menjelang, suasana rumah Nisa kini berbeda yang biasanya Nisa bercanda dengan Grey kini tidak lagi, hanya ada kesunyian.


Saat masuk kekamarnya Nisa hanya bisa mendekap baju bekas pakai yang terakhir suaminya pakai.


" Semoga semuanya akan baik-baik saja mas, kamu nyuruh aku percaya sama kamu,pasti akan aku lakukan " gumam Nisa yang udah berbaring di tempat tidurnya dan merentangkan baju Grey diatas tubuhnya seperi posisi memeluk tubuhnya


" Semoga daddy selalu sehat ya twins.. " ucap Nisa mengelus perutnya yang sedari tadi sangat aktif.

__ADS_1


" Maafin mommy ya nak, daddy mulai hari ini dan beberapa hari kedepan nggak bisa tidur sama kita " ucap Nisa seperti sedang bicara pada dua malaikat kecil di dalam perutnya.


Seakan mengerti apa yang di ucapkan oleh san mommy, pergerakan dalam perut nya berangsur melemah dan nyaris tak ada.


" Bobo yang anteng, saling jaga di dalem yaa..,mommy sama daddy sayang kalian " ucap Nisa yang sudah dalam keadaan tertutup matanya.


.


.


.


Dan dengan langkah santai Grey masuk dalam mansion dan mengarah ke kamarnya.


" Aleek nggak temui kakek dulu? " tanya mama Catrine pada sang putra.


" Nggak perlu kalian tutupi lagi ,kalian bisa bohongi Nisa karena hatinya begitu lembut dan selalu memikirkan kalian ,dan itu yang kalian manfaatkan, aku muak dengan drama keluarga ini." ucap Grey dengan lantang


" Bisa kah kamu bicara lebih pelan Aleek, begini kah istrimu yang slalu kamu agung-agungkan sehingga kamu memberontak dari kakek. " ucap keras seorang kakek tua yang keluar dari sebuah kamar dengan sebuah tongkat.


" Jangan pernah bawa Nisa dalam semua rencana kakek, dan jangan pernah meremehkan istri Aleek dia bisa saja membalikkan dunia kalian. "ancam Grey dengan pandangan yang menyisir setiap orang ditatapnya dengan tajam.

__ADS_1


" Nakkk... sabar..!! " ucap mama Catrine menenangkan sang putra.


" Mama bisa sabar dengan tabiat kakek, mama sudah banyak menderita, apalagi yang mama harus selalu bertahan dengan keluarga ini? "tanya Grey dengan perasaan menggebu.


" Nak....


" Sudahlah mah, aku lelah ..aku ke kamarku dulu." ucap Grey


Namun sebelum melangkah ke dalam kamarnya dia dihadang oleh dua orang berbadan kekar.


" Ada apa ini? "tanya Grey dengan aura dingin.


" Maaf tuan, ponsel juga dompet anda. " ucap salah seorang pria itu dengan sedikit ragu


"Hahahaha... gil* yah, kakek nganggap aku adalah tawanan? "ucap Grey pada sang kakek dengan sinis


" Itu akan lebih baik, dari pada kamu membuang waktu mu untuk wanita itu. " ucap Kakek tak kalah sinisnya.


Dengan terpaksa Grey memberikan dompet dan juga ponselnya,setelahnya dia melangkah ke dalam kamarnya dengan rasa kesal, dan juga lelah, bahkan merasa bersalah karena dia meninggalkan Nisa dengan keadaan hamil besar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2