
Jannah kini sedang menangisi apa yang terjadi dalam hidupnya.
Karena masa lalu yang paling dia tutupi kini sudah banyak yang tahu, dan kini dua menganggap dia wanita yang kotor.
" Je, sudahlah.. maafin aku yah, karena aku harus membuka kebohongan Miftah, aku nggak mau kamu yang paling disalahin disini." ucap Nisa menunjuk sahabatnya.
" Aku nyesel Nis, coba dulu aku denger kata-kata kamu, pasti ini tak akan terjadi. Orang tua ku malu karena punya anak kaya aku Nis..hiks.. hiks.. " sesal Jannah yang kini dalam pelukan Nisa.
" Sudahlah, ini salah satu jalan hidup yang harus kamu jalani Je, jangan menangis cuma karena pria tak pernah tahu artinya bersyukur. " ujar Nisa dengan mengusap punggung Jannah.
" Kamu benar Cha, buat apa aku nangisin dia!!" jawab Jannah dengan mengusap dengan kasar air matanya.
" Nah.. itu baru sahabat ku." ucap Nisa dengan senyuman
.
.
.
Sementara di sudut lain sepasang kekasih yang sedang terjadi pertengkaran hebat antara mereka.
" Bagas, tunggu !!" teriak Sinta meneriaki sang kekasih yang tak menghiraukan panggilan darinya.
Sinta menarik lengan Bagas dengan cepat.
" Kamu mau apa lagi, belum puas kamu buat aku jadi pecund*ng selama ini? sebenarnya apa yang kamu inginkan selama ini Sin? kurang apa selama ini aku sama kamu, aku rela meninggalkan Nisa demi kamu perempuan yang tak berhati !!" bentak Bagas yang sudah jengah dengan kelakuan Sinta.
" Ohhh, jadi kamu masih pikirin mantan pacar mu itu, dan masih mengharapkan dia balik lagi,gituu..??!!" teriak Sinta tak mau kalah.
" Nggak ada sedikitpun aku berniat menghancurkan kebahagiaan Nisa dan suaminya, aku sudah memberikan kesempatan sama kamu berkali-kali,memang aku selalu menuruti kemauan ibu ku, dan aku sadar siapa orang tuaku,dan aku pun ingin orang tuaku berubah bukan pada Nisa dan keluarganya saja tapi, buat semua orang. Dan sekarang aku putuskan kita sampai disini. " ucap Bagas dengan tegas.
" Enak aja, kamu kan juga udah pera*anin aku, trus sekarang kamu lepas tanggung jawab gitu aja, dasar baji*gan kamu..!! " umpat Sinta yang kesal pada Bagas.
" Hentikan,kamu bilang aku nggak tanggung jawab? dari dulu aku mau menikahimu tapi, kamu yang selalu menolak dan jangan pikir aku diam saja, aku nggak tahu kelakuan kamu di belakang ku Sin, kamu selalu mengkambing hitamkan aku pada bapak mu, setiap kamu pergi pasti selalu bilang kamu sama aku ,padahal aku di luar kota. Dan aku akan bilang pada bapakmu tentang hubungan kita. "ucap Bagas dan langsung melangkah meninggalkan Sinta yang masih mematung.
" Bagas, Bagas... nggak bisa kamu giniin aku, dan kamu tau aku sangat mencintaimu..!!" teriak Sinta yang berlari mengejar Bagas yang sudah kabur dengab motornya.
" Sinta.. sudahlah, mendingan lo nikah sama gw." ucap Miftah yang sedari tadi diam memperhatikan petengkaran Sinta dan Bagas.
" Jangan mimpi, kamu bukanlah tipe ku.. dan aku memanfaat kan kamu karena aku ingin melihat Nisa hancur. " tolak Sinta dengan lantang.
" Dasar wanita si*lan,pela*ur ,berani beraninya kamu memanfaat kan aku. " teriak Miftah dan mencengkram lengan Sinta menyeretnya masuk dalam mobilnya.
Sinta berusaha meronta-ronta namun tenaganya kalah oleh Miftah.
.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya, berita Jannah yang gagal nikah pun terdengar di penjuru kampung.
Saat siang hari, Grey menyempatkan diri untuk pulang ke rumah sebentar karena hari ini hari jum'at
" Mas, kok tumben kamu pulang jam segini? " tanya Nisa saat melihat sang suami turun dari mobilnya.
" Mas tadi dari kecamatan, mas ke klinik sebentar trus pulang deh.. " terang Grey masuk dalam kamar dan membersihkan dirinya.
Tak butuh waktu lama Grey keluar dari kamar mandi dan, mengenakan kemeja putih polos dengan celana bahan yang baru.
" Mas, tadi Jannah gimana di Klinik? " tanya Nisa
" Dia kelihatan baik-baik saja, rapi.. kam Uhhh malah yang kelihatan pucet gitu muka nya, kamu sakit? " kata Grey dengan meneliti wajah Nisa.
" Nggak sih, cuma sedikit pusing saja mungkin karena aku kurang tidur. " ungkap Nisa
" Ya udah, kamu istirahat ..nanti setelah jum'atan mas periksa kamu. " ucap Grey
" Nggak usah pulang lagi mas, langsung ke klinik aja.Soalnya aku mau kesana liat keadaan Jannah." ucap Nisa.
" Oke, tapi.. hati-hati yaa? "ucap Grey dan melangkah keluar rumah menuju masjid.
.
.
" Assalamualaikum Jeje." Seru Nisa saat melihat sang sahabat sedang sibuk dengan bukunya.
" Wa'alaikum salam, nyonya Grey.. "jawab Jannah dengan penuh canda.
" Are you okey, Je..? " tanya Nisa memastikan perasaan sang sahabat.
" Okey, tenang lah Nisa..aku inget sama kata-kata kamu yang tak usah menangisi dia yang tak menganggapmu ada. " jawab Jannah dengan nada yang dibuat becanda ala-ala prices Syahrini.
" Manjah, uuhhh... semoga kamu dapet jodoh yabg lebih baik, tapi..kamu juga harus bisa berubah lebih baik supaya, bisa dapat yang terbaik. " ucap Nisa
" Hemm.. Je, makan rujak enak kali Je.. kepala ku pusing, dari pagi senat sebut. " ucap Nisa
Jannah yang mendengar penuturan Nisa tampak berfikir.
" Cha, kapan terakhir kamu datang bulan? " tanya Jannah dengan menatap Nisa dengan intens.
" Emmm... aku lupa, kapan yaa?" kata Nisa dengan penuh kebingungan.
__ADS_1
" Ya ampun Cha, kamu gimana sih? masa periode lupa. " ucap Jannah kesal.
" Ada apa ini, kenapa Je? " tanya Grey yang baru masuk kedalam Klinik.
" Ini lho Mr Grey, Nisa lupa masa datang bulan. Solnya Tadi dia minta rujak sama saya. " ungkap Jannah membuat Grey antusias.
" Ayo keruangan mas, kamu harus di periksa." ucap Grey menggandeng tangan Nisa dan membawanya ke dalam ruangan nya.
"Mas, jangan begitu kalau aku nggak hamil gimana, jangan sampe kamu kecewa yah? " ucap Nisa yang tak mau suaminya kecewa karena harapannya belum di kasih momongan.
" Sudah, sekarang kamu ke kamar mandi.. bawa wadah ini, apa mau mas bantuin? " goda Grey pada sang istri.
" Nggak usah, dasar mesum!!" umat Nisa dan bergegas ke dalam kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, Nisa kembali dengan membawa urine buat test pack.
Grey dengan bersikap biasa, dia mulai menjalankan tugasnya. dan setelah beberapa saat dia letakkan hasil nya di atas wadah yang kering.
" Mas jangan terlalu berharap lho." ucap Nisa dengan memegang lengan sang suami.
" Yah,mas ikhlas apapun hasilnya nanti itu yang ter baik, kalau kali ini gagal kita coba lagi. " ucap Grey
Nisa ingin mengambil test pack itu,namun Grey dengan cepat menampik tangan Nisa.
" Jangan, sebentar lagi. " ucap Grey.
tok tok tok
" Masuk " ucap Grey.
" Maaf Mr Grey, saya butuh tanda tangan Mr Grey ucap suster Lina.
" Coba sini kemarikan kertasnya. " Lina memberikan kertas yang dia pegang pada Grey.
" Lho, mana.. mana test pack nya? " tanya Grey melihat test pack yang dia letakkan di depannya menghilang.
" Tanda garis merah dua, apa ini mas? " tiba-tiba Nisa menunjukkan hasil yang di dapat dari test pack.
" Hahh... sayang, kamu berhasil. Mas berhasil hamilin kamu... ehh maksudnya kamu sedang hamil sayang. " ucap Grey dengan mengambil test pack yang ada di tangan Nisa.
Mendengar penuturan suaminya, tentu saja membuat Nisa terpaku dan tak menyangka jika dirinya sedang berbadan dua.
" Mas.. mas.. aku.. aku hamil, kamu yakin?? yeayyy... aku hamil, suster Lina mendingan bawa kertas ini keluar, Dr. Grey mau periksa saya oke..?? " ucap Nisa memberikan kertas yang tadi di bawa Lina.
" Selamat Nyonya Grey, Mr Grey sudah berhasil membuat nyonya hamil. " ucap Suster Lina tak kalah exited.
" Yeeeyyy.. mas, aku hamil. Mas jadi ayah, aku jadi ibu yang...!! " seru Nisa dengan menitikan air mata haru.
__ADS_1
Grey dan Nisa menangis haru berdua, merasakan kebahagiaan yang mereka nanti selama pernikahan satu tahun lebih.
Bersambung