
Haiii... para readers tersayang akohhh...
Terima kasih buat semua komentar kalian, aku senengggggg... pake baget, kalau ada komentar yang bilang kesel sama akoh karena penasaran dengan cerita selanjutnya...
Terima kasih banyak atas dukungan nya selama ini, jangan lupa like juga vote nya yaa?
Insyaallah aku akan mengabulkan keinginan kalian untuk Crezy up..
Jadi.. jangan sungakan jangan ragu buat like setiap episodenya, itu buat moodbooster buat aku... 💋💋
Lanjuttttt....... 🔛🆙
Saat ini di rumah keluarga Karsa mereja sedang sarapan dengan tenang masakan yang menggugah selera, walaupun Grey biasa hanya makan roti atau telor rebus dan juga kopi saat ini dia mencoba makan nasi pecel buatan bu Marsih.
" Mas yakin mau makan berat? tanya Nisa dengan sedikit ragu dengan suaminya.
" Kenapa, nggak papa sekali-kali makan berat.." jawab Grey dengan penuh keyakinan.
Setelah selesai,Grey dan juga pak Karsa duduk di ruang tamu dan membahas tentang apa yang Grey akan lakukan.
" Kamu yakin nak..kalau mau bangun klinik itu? biayanya pasti nggak sedikit. " ucap pak Karsa ada sang menantu
" Yakin, Insayaallah Aleek sudah ada dananya pak..Aleek cuma minta doain dan dukung keputusan Aleek itu aja, semoga niat baik Aleek bisa terlaksana dengan lancar dan baik" jawab Grey sembari menyeruput kopinya.
" Pak.. ibu ke pasar sama Nisa aja,sayang kalau kios nggak bukak.. " ucap bu Marsih melangkah dari dapur.
" Lho.. emang ibu udah sehat? kalau belum sehat banget nggak usah dagang dulu" ucap Grey pada ibu mertuanya.
"Ibu sudah baikan, kalau terus dirumah nggak ada kegiatan, paling kekebon" ucap bu Marsih
" Sebentar ibu duduk biar Aleek periksa yaa..? kata Aleek melangkah menuju kamarnya.
" Mas, kamu mau apa kok bawa tas praktek kamu? tanya Nisa saat melihat sang suami nya menenteng tas alat medisnya
" Buat periksa ibu, katanya mau ke pasar sama kamu, biar mas periksa dulu" ucap Grey dengan keluar dari kamar dan diikuti Nisa mengekor di belakangnya.
" Oalah.. ibu lali, Kita punya mantu dokter..yo wes ibu pasrah" ucap bu Marsih saat melihat sang menantu mengeluarkan alat tensi
Semuanya hanya menanggapi dengan senyuman pada bu Marsih.
__ADS_1
" Gimana? tanya bu Marsih
" Alhamdulillah semua normal, tapi.. ibu jangan terlalu cape,oh iya Nis.. mas punya usul bagaimana kalau kamu coba jualan online jualan batiknya, jadi kalian bisa sewaktu-waktu dirumah. " ucap Grey memberikan saran.
" Tapi, gimana mas caranya? tanya Nisa dengan memicingkan matanya
" Ambil laptop mas ya, ada di lemari kecil.. " ucap Grey dengan membelai lembut pucuk kepalanya Nisa
Akhirnya Nisa menuruti keinginan suaminya dan memberikan apa yang di butuhkan suaminya.
Grey mulai mengutak atik laptop nya dan dengan serius dia mengerjakan sesuatu,setelah dirasa selesai Grey serahkan laptopnya pada Nisa.
" Wahhh..ini serius mas, "Ardina Batik " ..hemm aku suka mas " ucap Nisa dengan wajah penuh kegembiraan.
" Kamu punya laptop? tanya Grey pada Nisa
Diangguki Nisa dengan senyum
"Kamu kirim ke email kamu dan juga kamu hubungkan ke ponsel. " ucap Grey.
Akhirnya Nisa melaksanakan apa yang suaminya bilang. Saat mereka sedang serius akan apa yang mereka rancang ada seseorang tiba-tiba datang.
" Assalamualaikum " salam terdengar dari luar rumah
" Itu pasti Marvin yang dateng" ucap Grey membuat Nisa melihat ke arah suaminya dan segera meraih hijab instan yang ada di sampinya.
" Kak Marvin ngapain kesini mas? kamu ada bisnis sama dia atau gimana? tanya Nisa dengan sedikit penasaran sama apa yang suaminya lakukan.
Bu Marsih membukakan pintu dan terlihat pria yang tak kalah tampan dengan Grey berdiri diambang pintu.
" Bro.. udah sampai? ucap Grey saat Marvin di persilahkan masuk oleh bu Marsih
" Akhirnya nyampe juga gw kesini, dan ternyata memang jodoh kalian yaa... alhamdulillah semua di permudah" ucap Marvin dengan wajah berbinar
" Duduk dulu kak, maaf yaa.. rumahnya mewah gini,hanya ada ac Alam " canda Nisa saat mempersilahkan Marvin duduk.
" Makasih Nis, memang unik dan...
" Mewah kak artinya Mepet Sawah.. hehehe
__ADS_1
makanya adanya Ac alam, angin dari sawah" serobot Nisa dengan candaannya
" Kamu bisa aja Nis... hahaha" timpal pak Karsa pada sang putri yang suka tengil.
" Oh iya bro, kenalin ini bapak mertuaku pak Karsa, dan... oh ini ibu mertua ku bu Marsih, pak bu.. ini temen Aleek Marvin dia seorang model dan juga dokter" Grey saling mengenalkan satu sama lain dengan perasaan bahagia.
" Oh.. ini nak Marvin yang mau kerja sama kamu buat bangun klinik di deket bale desa itu? tanya pak Karsa sangat senang
" Hahh.. klinik, mas mau bangun klinik dekat balai desa? kok bisa? tanya Nisa kaget dengan rencana sang suami
" Belum tau pastinya yang, ini aku sama Marvin juga bapak, ada pak RT juga mau tinjau lokasi, kalau dirasa layak dan oke kita deal kita akan lakukan pendirian klinik disini, doain aja supaya usaha suamimu ini lancar dan barokah" ucap Grey mengelus kepala sang istri yang tertutup hijabnya
" Iya...Insyaallah aku akan selalu dukung mas kok, oh iya.. kak Marvin sudah sarapan? kalau belum.. sarapan dulu baru kalian semua berangkat" ucap Nisa
"mau buat klinik pasti butuh biaya besar, mahar aku saja buat beli sawah udah pasti sangat mahal, sebenarnya mas Aleek walaupun sudah nggak jadi direktur pasti dia banyak tabungan juga banyak kolega juga yang percaya sama dia "batin Nisa dengan menatap Grey yang fokus dengan ponselnya
" Sarapan dulu yuk, cuma ibu bikin pecel aja..kamu cobain" ucap bu Marsih dengan senang hati.
" Boleh bu, tapi.. nggak ngrepotin emang? saya dari hotel langsung buru-buru kesini" ucap Marvin dengan sedikit sungkan
" Apaan sih, anggap bapak sama ibu orang tua kamu juga, dulu kami ingin punya anak banyak tapi.. dikasihnya cuma satu itu pun Masyaallah perjuangannya. " ucap Pak Karsa dan menggiring Marvin ke meja makan .
.
.
.
Setelah semuanya dirasa siap Grey, pak Karsa juga Marvin menuju lokasi yang katanya akan di jual.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di area yang sangat strategis,tempatnya adalah penghubung empat desa jadi terlihat disanalah tempat paling ramai di kunjungi para penduduk, apalagi di sebrang lokasi ada pasar dan sebelah lokasi balai desa dan juga ada tempat olahraga untuk umum.
" Sebenarnya disini sudah lengkap lho pak, kenapa mereka mau jual lahannya? tanya Grey pada pak Karsa.
" Katanya mau buat naik Haji, trus mau buat beli sawah saja, kalau tanah seperti ini mereka tak bisa buat kelola karena kan tahi sendiri ini udah lahan yang akan cocok untuk usaha " ucap Pak Karsa.
" Lho pak Karsa... lagi apa ini, tumben? mau pengajuan apa? bantuan atau apa? tanya seseorang yang melihat pak Karsa seperti mengejek.
" Nggak paa, cuma mau ke balai desa mau minta surat pengantar buat ijin tinggal disini, soalnya suami Nisa mau tinggal disini" jawab pak Karsa sangat santai
__ADS_1
" Wahh.. jadi benar kalau Nisa udah nikah, bagus lah jadi nggak bisa ganggu anak saya Bagas karena Bagas juga mau nikah sama Shinta secepatnya" ucap seorang wanita yang terlihat sangat mencolok menggunakan gamis dengan riasan yang terlihat kontras dan emas yang melekat di tubuhnya.
Bersambung