
Grey melangkah menuju tempat dimana mobilnya terparkir sementara mertuanya berjalan di sampingnya, dan terlihat Nisa yang sedang melihat isi kantong belanjaannya, Grey yang sadar jika Nisa tak disampingnya Grey menoleh kebelakang saat mau memanggil nama Nisa terlihat ada mobil yang melaju kencang ketika Nisa ingin menyebrang dengan spontan Grey melempar belanjaan yang di pegangnya dan berteriak memanggil nama istrinya.
"Nisa... AWASSSS..!!! teriak Grey dengan cepat berlari dan menarik tubuh istrinya ke tepi jalan
Karena kuatnya tarikan Grey, membuat tubuh mereka bertabrakan dan keseimbangan mereka tak sempurna alhasil mereka terjatuh posisi Grey di bawah memeluk Nisa yang ada di atasnya
" Masss...!! kamu nggak papa..?? tanya Nisa panik
" Mas nggak papa, kamu luka nggak?
" Nisa, Grey kalian nggak papa? tanya bu Marsih mengagetkan mereka.
" Kami nggak papa bu." jawab Grey dengan memeluk erat tubuh Nisa.
" Mas ,mbak ini minum dulu.. " ucap seorang pria paruh baya memberikan mereka minun.
" Satu aja pak nggak papa" ucap Grey membuka tutup botol air mineralnya dan di serahkan ke istrinya dulu dan baru dia meminum sisanya.
" Mas sepertinya nya mobil itu sengaja mau nyakitin mbaknya,kelihatan banget sengaja mau nabrak " celoteh seorang lelaki yang menjaga parkiran pasar.
" Apa mobim itu dari tadi disekitar sini? tanya Grey dengan raut wajah serius.
" Iya kayaknya udah buntutin kalian deh " ucap Lelaki itu
Setelah sekian lama dan menerima beberapa kesaksian kejadin disana akhirnya Grey membawa istri dan ibu mertuanya pulang, Nisa yang terlihat masih sangat syok dengan kejadian itu.
Sampai dirumah Nisa di papah oleh Grey.
" Lho.. Nisa kenapa Leek? tanya pak Karsa panik melihat wajah Nisa yang pucat dan wajah Grey yang terlihat sangat berusaha menahan amarahnya.
" Nanti aja pak nanya nya, bapak bantuin ibu bawa belanjaan " teriak bu Marsih dan akhirnya berlalu dari anak dan menantunya.
Sampai di kamar Grey menyuruh Nisa istirahat dan begitu lihat Nisa terpejam Grey dengan cepat menemui ibu mertuanya dan menitipkan nya pada beliau. Grey merai benda pipih yang ada di dalam kantong celannya dan menghibungi seseorang.
" Hallo, ada kerjaan buat lo.. selidiki kendaraan dengan plat nomer yang akan saya kirimkan, saya ingin secepatnya kamu menemukannya. " ucap Grey dengan pandangan kedepan menatap hamparan sawah yang membentang di belakang rumah mertuanya.
__ADS_1
" Baik boss" jawab dari sebrang dengan singkat
Dan Akhirnya Grey mengakhiri panggilan, membalikkan tubuhnya dan ternyata pak Karsa sudah berdiri di belakangnya.
" Eh.. Pak.. " ucap Grey dengan sedikit terkejut.
" Apa benar Nisa seperti ada yang mau bunuh Leek? tanya Pak Karsa.
" Entahlah pak, anak buat Aleek sedang menyelidikinya" ucap Grey.
" Salah Nisa apa? kok sampe mereka tega. " ucap Pak Karsa sangat khawatir dengan keadaan Nisa ke depannya.
" Kita akan menunggu hasil temuan orang yang Aleek suruh buat selidiki ini semua" ungkap Grey memberi sedikit ketenangan hati untuk kedua mertuanya.
" Baiklah.. bagaimana pun kalian harus hati-hati " ucap pak Karsa dengan menepuk nepuk bahu menantunya.
Pak Karsa berlalu pergi dan Grey menghubungi seseorang untuk bertemu di luar.
" Bu.. Nisa masih tidur? tanya Grey saat masuk kamarnya
" Aleek mau ketemu orang proyek, buat mantau pembangunan klinik sama cek keperluan klinik bu." ucap Grey dengab melangkah ke arah ranjang terlihat Nisa yang tertidur pulas.
" Kamu hati-hati lee... " ucap bu Marsih
" Iya bu, kalau ada apa-apa sama Nisa tolong kabari Aleek tadi memang sengaja Aleek berikan dia obat tidur dengan dosis rendah, karena Aleek tau dia akan susah istirahat apalagi sempat syok " jelas Aleek pada sang mertua.
Setelah berpamitan, Aleek mengendarai mobilnya ke arah kliniknya berada. Klinik itu tinggal finishing saja dan sebagian besar barang-barang yang di butuhkan untuk klinjk sudah mulai masuk ke dalam klinik dan sudah ada sekitar sepulu orang pegawai untuk merapihkan.
Aleek Masuk dalam Kliniknya dan menemui arsitek yang telah janjian bertemu, dia adalah teman SMA nya dulu dan kini menangani beberapa project yang Grey tangani .
" Haii.. bro.. sehat lo..!! sapa pria yang bernama Ziko
" Haii Ko.. baik gw, gimana sudah jadi yang gw minta.. " ucap Grey dan meminta yan dia ingin kan.
Grey dengan binar bahagia melihat design rumah untuk keluarganya saat ini, walaupun banyak aset Grey di bidang porperty tapi.. ini adalah konsep impian maertuanya..
__ADS_1
" Oke gw setuju dan bilang sama Aryo gw mau, pekerjaan ini hanya sebulan ,sanggup kan? tanya Grey dengan penuh nada menantang.
" Oke gw akan kasih orang yang terbaik. "ucap Ziko
" Dan Klinik ini sebelum rumah gw jadi udah kelar dan opening" ucap Grey dengan melihat-lihat ruangan demi ruangan di kliniknya.
.
.
Hari pun berlalu kini di rumah pak Karsa sedang kerja bakti untuk mempercepat pembuatan rumah Pak Karsa, banyak orang yang membantu. karena di desa masih suka dengan acara gotong royong jika ada yang membangun rumah, Grey ta kj tau namun untung Nisa memberi tahukan kalau didesa di bayar dengan paling makan.
Tapi, bukan Grey kalau tak suka berbagi, setiap orang dapat 3lembar uang 100rb an itu aja udah buat semua orang senang, makanan melimpah, tak lupa di bawa pulang juga lain.. wah... berkah banget hidup Grey dan Nisa..
.
.
.
Pranggg....
" Aaaaaa.... sia*an !! kenapa kamu saja beruntung Nisa, aku kira kamu nggak akan nemuin laki-laki kaya semacam Bagas, tapi.. kenapa kamu punya suami yang sungguh buat ku iri.. dia begitu memanjakanmu dengan segala kemewahan... aaaaaaaggghhhhh" teriak Sinta frustasi.
" Sinta.. kamu apa-apaan !! jangan buat bapak malu..!! keterlaluan kamu, kenapa kamu selalu saja iri dengan Nisa, padahal hidup kamu lebih baik dari Nisa!! bentak Pak Mansur seorang kepala desa yang terlihat Wibawa.
Mansur taka tahu kenapa anaknya jadi orang yang serakah, padahal dia mendidiknya dengan keras dan selalu saja mencoba memberikan apa yang Sinta inginkan.
Mansur sempat kecewa dengan Sinta setelah tahu jika Sinta bermain belakang dengan Bagas di belakang Nisa, namun dengan usaha Sinta dan juga Bagas meyakinkan jika mer es ka saling mencintai maka dari itu, dia mulai menerima Bagas walaupun kurang suka dengan background keluarga nya yang terkenal seorang rentenir dan mafia tanah.
Ada kelegaan di hati Mansur saat Karsa sekaligus temannya sedari dia kecil, bilang Nisa sudah mendapatkan orang yang paling tepat untuk nya dan ternyata jodoh Nisa lebih dari Bagas secara fisik dan juga secara materi.
Bagas yang masih suka membelanjakan uang kedua orang tuanya dan, Grey yang terlihat dermawan setiap kali mendengar orang-orang yang sedang berkumpul membicarakan kebaikan Nisa dan suaminya.
Bersambung
__ADS_1