Mr Grey My Husband

Mr Grey My Husband
# Delapan bulan Kemudian


__ADS_3

Sejak di nyatakan Nisa hamil sifat Aleek sangat protektif pada sang istri.


Dan Aleeklah yang seolah sedang hamil, dia yang mengidam. Tiap hari makan rujak mangga.


Namun, Nisa terkadang kasihan melihat suaminya yang dia tahu tak baik-baik saja, apalagi ditambah dia yang mengalami morning sickness.


Dia lebih manja dimanding Nisa, apalagi dengan ibu Marsih. Dia sangat manja dengan ibu Marsih selalu minta masakkan oleh sang ibu mertua.


Kini usia kandungan Nisa sudah depalan bulan,Nisa sudah terlihat susah untuk bergerak. Saat pemeriksaan pun dinyatakan dia akan melahirkan anak kembar.


" Nisa, besok kamu ikut nggak ke rumah pak Lurah? " tanya Bu Marsih disela-sela kegiatan mereka di dapur.


" Malas bu, nggak tau kenapa aku kurang setuju ibu sama bapak ke rumah pak lurah. "ucap Nisa dengan mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.


" Jangan begitu, kita sama-sama manusia tempat salah dan dosa. " ucap Bu Marsih mengingatkan sang putri supaya berusaha ikhlas buat takdir hidupnya juga Jannah sahabatnya.


Nisa sangat geram dengan kelakuan dua orang yang si sebut orang terpandang, Miftah dan Sinta akhirnya menikah, dan untuk Bagas dia pergi dari kampung dan menetap di Jakarta.


Sedang hidup bu Broto sekarang mulai meredup, apalagi dengan banyaknya penduduk desa bekerja di tempat usaha Nisa, Grey, bahkan pak Karsa.


Keluarga Nisa menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga desa supaya punya hasil bulanan dan tidak banyak memberikan kesempatan untuk memanfaatkan para penduduk, dan untuk mereka yang membutuhkan dana Grey mendirikan Koprasi simpan pinjam. Itu sangat membantu bagi. mereka yang membutuhkan dana besar.


Bu Broto sekarang sering sakit-sakitan setelah perginya Bagas. Dan sekarang Bagas menjalin kerja sama dengan Grey di bidang kesehatan.


" Kenapa bu kok kedengeran ada ribut-ribut?"tanya Grey yang baru bergabung dengan istri dan mertuanya di meja makan.


" Ini, Nisa nggak mau ikut ibu ke tempat Sinta dan Miftah yang mau akad nikah. "adu Bu Marsih.


" Pargilah sayang, kesampingkan rasa kesal kamu dengan apa yang mereka perbuat sama kamu, inget.. pak Lurah sudah banyak bantu kita juga kan? " kata Grey dengan entengnya.


" Oke, nggak masalah kata mas kan? sekarang, Nisa tanya kenapa abang nggak pernah mau angkat telpon dari ibu mertua alias mama mas sendiri, emang apa salahnya say hello sama mama sendiri? " ucap Nisa dengan sindiran dan omongan yang menohok di hati Grey.


Sementara bapak, dan ibu hanya bisa bersikap bingung dengan kedua anak menantunya, entah apa yang mereka ributkan.

__ADS_1


" Kalian ributin apa sih, nggak ilok (pamali) marah marah di depan rejeki. " ucap ibu Marsih dengan mengarahkn pandangannya pada anak. menatunya menggu jawaban.


" Ini bu, mas Grey apa susahnya angkat telpin dari keluarga nya, mereka sampe telpon mas pasti ada yang penting, jangan bilang mas masih kesel masih benci sama simon dan kakek, aku lagi hamil mas... rak nget, gimana coba kalau aku nanti lahirannya pasti susah karena kebencian mereka,nyumpahin aku juga anak kamu?! " ungkap Nisa kesal.


" Aleek.., apa benar kamu begitu? jangan kejem-kejem sama ibu kamu dan keluarga kamu, bapak tahu niat kamu melindungi istri kamu, tapi.. mereka juga keluarga kamu. Gimana nanti tanggapan mereka tentang keluarga Nisa,mereka akan menyalahkan kami,karena menghalangi seorang putra bertemu dengan ibunya.Itu yang kamu harus ingat, sekarang istrimu sedang mengandung, tolong kamu kurangi sifat keras kamu, berfikirlah dengan kepala dingin jangan selalu turuti emosi kamu. " ucap Pak Karsa sangat tegas.


" Baik pak, maaf Aleek belum bisa jadi orang yang kalian minta, tapi.. Aleek akan berusaha sebaik mungkin. " ucap Grey dengan rasa bersalah.


Tok tok tok


" Biar Nisa saja yang bukain." ucap Nisa dengan melangkahkan kaki kearah pintu depan.


Clek


" Assalamu'alaikum" sebuah salam terdengar dari seseorang yang ada di depan rumah Nisa.


Deg.


Mama Catrina mendengar menantunya memanggilnya mama,tersenyum.


" Siapa yang....?!!" tanya Grey tepat di belakang Nisa.


" Aleek ini mama nak.." ucap mama Catrine pada sang putra yang dia rindukan.


Tanpa basa basi Catrina memeluk tubuh anaknya dengan perasaan haru, Grey hanya diam tak ada balasan dengan apa yang mama nya lakukan.


" Ma, tuan Simone silahkan masuk." ucap Nisa menghentikan aksi mama Catrine dan Grey dengan cepat melepaskan pelukan sang mama.


" Silahkan... "ucap Grey dan langsung merangkul tubuh istrinya dengan perut yang sudah besar.


Mereka duduk diruang tamu, dan ada rasa canggung disana.


" Mas, temenin mama sama Tuan Simone aku ambil minum sama panggil bapak sama ibu." ucap Nisa.

__ADS_1


" Tapi, sayang kamu...


" Aku cuma hamil, bukan sakit yang... sudah, kamu ngobrol sama mama dulu yaa.., kamu pasti kangen kan? "ucap Nisa dengan wajah yang melihatkan kebahagiaan dan juga senyuman manis yang begitu tulus.


Grey akhirnya pasrah dengan apa keputusan Nisa.


" Ya.. Allah semoga mereka tetap sal Uhhh ng menyayangi, setelah apa yang mereka lakukan pada mas Aleek. "batin Nisa dengan melangkah menuju dapur


" Siapa Nis,yang bertamu?" tanya bu Marsih yang sedang membersihkan dapur.


" Besan ibu sama bapak. "jawab Nisa singkat.


" Hahh.. mama nya Aleek? Kok bisa? " tanya ibu heran


" Jangan heran bu, mereka punya uang yang banyak dan bisa saja mencari anaknya yang kabur,sudah ..sana ibu sama bapak ke depan, Nisa buatin minum dulu." ucap Nisa.


Bapak dan Ibu, langsung menuju ruang tamu menemui ibu dari menantunya.


Mereka saling berkenalan, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya dan Nisa pun demikian, bersikap tenang dan seolah tak pernah mengalami penghinaan dari keluarga suaminya. Namun,memang Grey belum angkat bicara hanya diam dan memperhatikan gerak gerik mama dan sepupunya terhadap keluarga Nisa .


" Sebenarnya apa tujuan kalian kesini, jangan terlalu banyak basa basi.." ucap Grey dengan pandangan dingin


" Aleek.. maafin gw, lo benar gw anak haram dari om lo juga nyokap gw, tapi.. bagaimanapun lo sepupu gw, dan gw sadar. selama ini gw banyak salah ke lo, gw minta maaf..!!" ucap Simone dengan menampakkan wajah sedihnya.


" Aku juga minta maaf sama kamu Nis, mungkin perlakuan abang selama ini buat kamu tak nyaman dan terkesan kurang ajar. " ucap Simone sehingga Nisa mendongakkan wajahnya yang tadinya tertunduk.


" Nisa sudah maafin bang Simone sebelum abang minta maaf sama Nisa, jadi.. abang nggak perlu minta maaf seperti itu. " ucap Nisa.


" Sudahlah, nggak usah banyak drama.. sebenernya kalian kesini mau apa?!!! bentak Grey yang membuat semua kaget.


Nisa dengan memandang suaminya dan memberikan insyarat untuk suaminya berusaha tenang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2