
Fania berjalan mengendap-endap keluar ruangan berusaha memastikan jika pria yang menolongnya belum menampakkan batang hidungnya. Setelah dirasa aman, dia segera keluar dengan membawa serta ranselnya.
Setelah pemeriksaan dokter beberapa menit yang lalu, dokter mengijinkan Fania untuk pulang karena kondisinya memang sudah stabil. Dokter sempat berpesan untuk menjaga kandungannya dan menganjurkan untuk memeriksakannya ke Poly Kandungan. Tentu saja, gadis itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera berkemas sebelum pria yang belum diketahui namanya datang lagi.
Langkahnya bergegas menuju tempat pemeriksaan ibu-ibu hamil. Beruntung, Fania mendapat antrian awal, sehingga tidak perlu menunggu lama.
Selama menunggu, dia merasakan kecemasan hebat. Dia celingak-celinguk, sebentar duduk sebentar berdiri hanya untuk memastikan jika pria yang dihindari belum datang. Tindakannya itupun berhasil membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa heran.
''Mbak lagi nunggu suaminya ya?" Seorang wanita berperut buncit menegur dirinya.
''Eh, i-iya. Ta-tadi bilang masih ada kerjaan, mau menyusul," jawab Fania beralasan.
''Nasib kita sama, Mbak. Suamiku juga super sibuk sampai aku periksa saja gak sempet nganterin. By the way, mbak mau kemana kok bawa tas segala?" tanya wanita itu lagi.
Fania tersenyum kecut sembari melirik tas besar yang ada di dekatnya. Alasan apalagi yang akan dia katakan.
''A-aku habis da-dari rumah orang tua terus langsung kesini. Maklum, bawaanku memang selalu banyak beginy jadi riweh."
''Emmm, pasti suami mbak juga gak bisa nganterin dengan alasan sibuk. Begitulah laki-laki, Mbak. Selalu semaunya sendiri, menuntut wanita untuk mengerti dia padahal kita juga butuh pengertian. Harus banyak-banyak sabar punya suami macam begitu, Mbak."
Fania meringis tipis mendengar curhat colongan wanita itu. Dia tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Dia hanya mengangguk pelan diiringi cengiran khasnya.
Beberapa saat kemudian, namanya terpanggil. Setelah berpamitan pada wanita itu, dia segera bergegas memasuki ruangan.
...----------------...
''Kemana wanita yang dirawat di ruangan itu, Sus? Tempat tidurnya kok sudah rapi."
''Oo, pasien atas nama nona manis sudah keluar dari tiga puluh menit yang lalu, Tuan. Dokter mengizinkannya pulang karena kondisinya sudah stabil," jawab suster tersebut dengan sopan.
Angelo mengeram kesal mendengarnya. Dia sempat melampiaskan kemarahan dengan dalih bertanggung jawab penuh atas wanita itu, kenapa tidak ada yang memberi konfirmasi kepadanya.
''Maaf, Tuan. Itu atas permintaan pasien, katanya tidak ingin merepotkan tuan lagi." Si suster berusaha sabar menghadapi pria di depannya.
__ADS_1
''Lalu, kearah mana wanita itu pergi?" tanya Ello dengan nada kesalnya.
''Dia menuju Poly Kandungan, Tuan. Anda bisa lurus, kemudian belok kiri."
Meski merasa bingung, Angelo segera menuju tempat yang dimaksud. Berharap wanita itu masih ada di tempat.
Dan benar saja, sesampainya di tempat. Dia menemukan ransel milik wanita itu. Karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, Ello segera menanyakan keberadaan orang yang dicari.
''Permisi, pemilik tas ini kemana?" tanyanya pada wanita yang sempat berbincang dengan Fania.
''Ooo, jadi kamu suaminya Fania Larissa. Dia di dalam baru saja masuk. Kasihan dia nungguin kamu dari tadi."
''Fa-fania?" beonya.
''Jadi, namanya Fania," batin pria itu.
''Buruan masuk! dia udah nungguin kamu dari tadi."
Suara wanita itu berhasil menyadarkan lamunannya. Tanpa banyak bicara, dia segera membuka pintu ruangan.
Angelo menghentikan langkahnya di ambang pintu ketika mendengar pembicaraan di dalam.
''Saya mohon, Dok. Saya akan membayar berapa pun biayanya asal dokter mau memenuhi keinginan saya untuk menghilangkan janin ini. Saya benar-benar tidak bisa menerimanya,'' pinta Fania dengan mata berkaca-kaca dengan menggenggam erat tangan dokter itu.
''Anda sungguh aneh, Nona. Diluar sana banyak pasangan yang ingin mempunyai keturunan, bahkan menghabiskan biaya banyak hanya untuk itu tapi kenapa Anda justru ingin membuangnya?"
''Saya korban pemerkosaan, Dok. Saya tidak mengenal ayah dari bayi ini. Karena keberadaanya, saya diusir dari rumah. Saya dipaksa meninggalkan keluarga. Saya tidak sanggup jika dia masih ada di rahim ini.'' Fania menjelaskan disertai isak tangis yang terdengar pilu.
Luruh sudah air mata yang sejak tadi berusaha ditahan. Hatinya benar-benar mantap untuk mewujudkan niatnya.
Dokter Raisa menatap iba ke arahnya. Pasiennya ini masih sangat muda, tetapi dia harus menahan beban yang begitu berat.
''Maaf, Nona Fania. Apapun alasannya, saya tidak bisa melakukan itu. Jika saya melakukannya sama saja melanggar kode etik sebagai dokter, sanksinya sangat berat, Nona. Reputasi saya dipertaruhkan. Anda bisa mencari tempat lain, maaf!" Dokter Raisa menolak tegas, bahkan segera mempersilahkan pasiennya untuk keluar dari ruangan.
__ADS_1
Angelo mengepalkan tangannya kuat. Wanita itu tengah membawa benihnya dan berusaha melenyapkannya. Tidak, dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Benih itu darah dagingnya, dia tidak akan rela jika harus kehilangannya.
Dia segera beranjak dari tempat itu sebelum Fania mengetahui keberadaannya. Dia melangkah dengan penuh kemarahan, mengabaikan tatapan aneh semua orang yang mengarah kepadanya.
...----------------...
Fania melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit. Tatapannya kosong ke depan. Dia kira akan mudah untuk mengajukan permohonan aborsi. Namun, nyatanya semua tidak seindah yang dibayangkan.
''Aku harus bagaimana? Di mana tempat yang bersedia melakukannya?"
Berulang kali helaan nafas berat keluar dari bibir pucatnya. Kepalanya berhasil dibuat pening memikirkan masalah ini.
Dia tidak menyadari jika di balik sebuah dinding ada sepasang mata tajam yang sejak tadi mengintai dirinya. Ketika sang target berada dalam jangkauan, dia segera membekap kuat mulutnya, lalu membawanya ke tempat sepi.
Fania yang tidak siap dengan serangan dadakan itu berusaha berteriak sekuat-kuatnya. Namun sayang, suaranya hanya tertahan di rongga mulut. Dia berusaha memberontak, tetapi tenaganya kalah dengan tenaga pria itu.
''Kamu!" Fania melotot tak percaya jika pria yang membekapnya adalah pria yang sama.
''Mau apa kamu! Aku tidak ada urusan lagi sama kamu!" Gadis itu berusaha mendorong tubuh kekar yang menghimpitnya. Matanya bergerak gelisah bayangan peristiwa malam itu kembali terlintas dalam ingatannya.
''Ada, bahkan kamu akan selalu berurusan denganku karena di dalam perutmu ada darah dagingku, Fania Larissa," kata Angelo pelan penuh penekanan.
Fania terbelalak sempurna, muncul banyak pertanyaan di benaknya. Bagaimana pria ini bisa tahu, siapa yang memberitahunya. Keringat dingin membasahi pelipis dan telapak tangannya. Dia teramat takut saat ini.
''Da-dari m-mana kau tau?" tanyanya terbata-bata.
''Itu tidak penting. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya apalagi sampai melenyapkannya," geram Angelo.
''Kau tidak berhak melarangku. Ini tubuhku, aku berhak melakukan apa saja dengan tubuh ini, bahkan melenyapkannya sekalipun. Bayi ini bayi pembawa sial! Sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya. Kau dan bayi ini sama-sama sialan!" teriak Fania dengan mata memerah. Tumpah sudah lava panas yang beberapa hari tersembunyi di dalam dirinya.
''Kau! Kau tidak berhak mengatur hidupku. Minggir! Aku mau pergi." Fania mendorong kuat tubuh pria itu, tetapi sayang Angelo tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.
Tatapannya semakin tajam seolah ingin menguliti wanita itu hidup-hidup. Dia segera menangkap kedua tangan lembut itu agar tidak banyak berulah.
__ADS_1
''Lepas! Lepaskan tanganku, Brengs*k!''