My Blacklist Man

My Blacklist Man
Rencana Fania.


__ADS_3

Fania mondar-mandir tak tentu arah di dalam kamarnya, berusaha memikirkan cara untuk memulai aksinya.


Seolah alam merestui niatnya. Semalam, ketika Fania berniat kembali ke kamar, tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Angelo dengan asistennya yang berencana mendatangi kantor polisi untuk memberi balasan setimpal pada wanita yang selalu disebut 'nenek peyot'.


Dari sana pula, Fania berniat ingin membuntuti calon suaminya. Yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana cara Fania bisa keluar tanpa harus didampingi duo kacung pribadinya. Jika meminta izin secara terang-terangan yang jelas calon suaminya itu tidak akan memberikan izin. Dia harus memutar otak memikirkan cara yang tepat.


Lampu pijar menyala tepat di kepalanya. Dia menjentikkan jari ketika sebuah ide cemerlang melintas dalam otaknya.


''Aha, aku bisa memanfaatkan si kembar, pasti mereka mau jika kukasih uang jajan," gumamnya riang.


Fania bergegas menemui kedua adiknya untuk memberitahukan rencananya.


''Nah, pas, kebetulan kalian ada disini," seru Fania ketika sampai di kamar yang di tempati Ferry.


Wanita itu segera menutup pintu, sekalian menguncinya. Ferry yang tengah bersiap hendak pergi ke sekolah dibuat bingung dengan tingkah sang kakak, sedangkan Fena yang masih sibuk menyalin jawaban tugas yang ada di buku kakak kembarnya tak menghiraukan kehadiran Fania.


''Ada apa, Kak? Kenapa pintunya dikunci segala?" tanya Ferry.


''Ssstt, gak usah banyak tanya. Kalian mau uang jajan gak?" Fania mulai memberi penawaran menggiurkan pada keduanya.


''Mau, Kak," jawab mereka serempak, bahkan Fena mengabaikan buku tugasnya begitu saja.


''Tapi ada syaratnya...."


Senyum yang sempat tersungging di bibir kedua remaja kembar perlahan memudar setelah mendengar hal itu.


''Jangan manyun dulu, kali ini syarat kakak bakal bikin kalian hepi, kakak jamin seratus persen."


''Apa sih, Kak? Gak usah bikin penasaran!" sahut Ferry sewot.


''Kalian cukup diam ikuti kemauan kakak, pokok tugas kalian hanya mengangguk gak boleh jawab. Paham?"


Meski merasa bingung, Ferry dan Fena pun terpaksa menyetujui syarat aneh kakaknya. Itu semua mereka lakukan demi kelangsungan kantong mereka.


''Itu doang," celetuk Fena.


''Dengerin dulu, masih ada lagi ... Hari ini kalian gak usah pergi ke sekolah. Kakak bakal mengizinkan kalian. Tapi tugas kalian harus menuruti dan mengikuti kemanapun kakak pergi." Fania berucap riang diiringi senyum terkembang.


Ferry dan Fena tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


''Ya sudah sekarang kalian siap-siap. Keluar pakai seragam itu, jangan lupa bawa baju ganti di tas masing-masing, oke. Setelah ini, ikut kakak ke ruang makan untuk meminta ijin sama Kak Ello.''


''Ingat, tugas kalian cuma mengangguk gak boleh omong. Dan itu berlaku mulai dari sekarang."


Sepasang kakak beradik kembar itupun kompak menuruti keinginan sang kakak.


''Bagus! Kakak mau siap-siap dulu. Nanti setelah kakak panggil kalian harus siap." Fania berlalu begitu saja dengan senyum merekah yang selalu terkembang di bibirnya.


''Fer, apa Kak Fania ngidam ya?" tanya Fena setelah kakaknya tak terlihat di hadapannya.


Ferry hanya mengedikkan bahu acuh. Baginya itu tidaklah penting, yang terpenting uang yang dijanjikan Fania.


''Ih, Fer. Lu kebiasaan, deh. Diajak ngomong mendadak bisu," sungut Fena menahan kesal.


''Lu mau duit kagak. Kalo gak mau gue siap nampung," celetuk Ferry


''Ya maulah...."


''Ya udah sono siap-siap. Jangan sampai si Naga Betina nyembur pagi-pagi."


...----------------...


Fania segera mendekati pria itu, lalu dengan berani mendudukkan diri ke pangkuannya.


''Jadi, begini ... Kemarin aku dapat telepon dari pihak sekolah. Aku disuruh ke sekolah karena si kembar sering terlambat sama sering bolos di mata pelajaran tertentu. Jadi, aku mau ke sekolah mereka, pagi ini."


Ferry dan Fena kompak membelalakkan mata mendengar alasan yang diutarakan kakaknya, secara tidak langsung Fania berusaha menjatuhkan harga diri dan martabat mereka sebagai adik ipar yang baik di depan calon kakak ipar mereka. Ya ... Walaupun pada kenyataannya memang begitu.


''Oh, oke, seperti biasa duo kacung itu ikut." Angelo menunjuk dua pria yang ada di dekatnya.


''No! Untuk kali ini tidak. Kali ini saja ya ... Please." Fania menolak tegas. "Aku gak akan kabur kok. Lagian, ibuku ada disini aku mau kabur kemana? Aku gak mungkin ninggalin ibu.''


Pria itu tampak gusar mendengar permintaan calon istrinya, masalahnya bukan hanya itu. Akan tetapi ada hal lain juga.


''Gak bisa, Fania. Masalahnya bukan cum—''


''Harus bisa! Ini ngidamku lho...." Fania memotong ucapannya, lalu mengarahkan tangan kekar pria itu kearah perutnya.


''Kalau gak boleh, aku nangis. Aku gak mau dekat-dekat sama kamu lagi selama seminggu, titik!" rajuknya dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


''Maaf ya duo krucil di perut gue. Gue jadiin kalian senjata demi kelancaran aksi," batin Fania.


Angelo menghembuskan nafas kasar. Dia melirik ke arah Gustav untuk meminta pendapat. Namun, sebelum pria baya itu menjawab, Ina segera menyela.


''Sebaiknya tuan turuti keinginan ngidam nona, daripada berbuntut panjang. Katanya kalau orang ngidam gak dituruti, nanti anaknya bisa ileran."


Gustav tampak menyetujui dengan anggukan pelan.


''Baiklah," jawab pria itu pasrah.


Senyum merekah terkembang sempurna di bibir Fania. Wanita itu segera memeluk erat leher calon suaminya, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kedua pipinya.


''Terima kasih, Tuan El," ujarnya riang mirip anak kecil yang baru dibelikan mainan kesukaannya.


''Mata gue ternoda, Fer," bisik Fena yang sejak tadi melihat aksi kakaknya.


''Jadikan ini pelajaran berharga," sahut Ferry tak kalah berbisik.


''Fena, Ferry segera sarapan. Habis ini kita berangkat sebelum kalian terlambat lagi." Fania memberi perintah diiringi isyarat mata agar keduanya segera menurut.


Sesuai instruksi kedua remaja serupa itu hanya mengangguk, lalu mengambil tempat duduk masing-masing.


''Yes! Langkah pertama berhasil. On the way, rencana kedua," gumam Fania dalam hati.


...----------------...


''Aku sebenarnya khawatir membiarkan Fania pergi tanpa penjagaan. Kau tau ‘kan situasi saat ini, aku tengah waspada." Angelo mengutarakan kekhawatirannya pada ayah angkatnya.


''Berusahalah untuk selalu berpikir positif. Lagian, mereka juga tidak mengetahui tentang Fania," ucap Gustav berusaha menenangkan.


Angelo terdiam sejenak, setelah dipikir-pikir ada benarnya juga perkataan ayah angkatnya. Meskipun begitu dia tidak boleh lengah begitu saja, bisa jadi musuhnya berada selangkah lebih maju di depannya. Baiklah untuk kali ini aku biarkan, tetapi untuk lain kali tidak, pikirnya.


Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat kedatangan Ramon. Angelo segera bersiap menuju tempat yang akan menjadi tujuannya, yakni kantor polisi.


''Kau sudah mempersiapkan semua yang aku minta?" tanya Ello ketika berada dalam perjalanan menuju tempat tujuan.


''Sudah, Tuan."


''Bagus."

__ADS_1


Mereka berkendara dengan kecepatan sedang tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang mengikuti dari arah belakang yang berada tak jauh darinya.


__ADS_2