
"Permisi, Nona ... Sarapan Anda." Seorang wanita berseragam pelayan memasuki kamar Fania dengan membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya dan satu gelas susu.
Fania hanya diam tak memberi tanggapan apapun. Tatapan matanya tampak kosong ke depan. Dia sungguh ingin bebas dari tempat ini. Rasa bencinya terhadap pria itu semakin menggunung. Setiap melihat wajahnya, dia selalu teringat dengan malam nahas itu beserta semua kepahitan hidupnya. Dia pun juga harus merelakan cintanya kandas di tengah jalan disertai tuduhan menyakitkan.
''Tuan memerintahkan Anda untuk menghabiskan semua makanan ini. Agar janin yang ada di dalam perut nona tercukupi gizinya."
Dia mengepalkan tangan kuat diiringi rahang mengetat. Emosinya selalu memuncak setiap kali diingatkan dengan kehamilannya.
''Saya pamit undur diri, Nona. Saya akan kembali nanti untuk mengantarkan makan siang."
Selepas kepergian pelayan, Fania segera menampik nampan yang berada dalam jangkauannya. Sehingga semua isinya berhamburan ke lantai bercampur dengan pecahan kaca. Dia tidak peduli jika setelah ini akan mendapat masalah. Dengan begitu, dia bisa secepatnya keluar dari tempat ini.
Dia menyibakkan selimut, kemudian meraih tiang penyangga infus. Dengan penuh kehati-hatian, dia melangkah pelan menuju sebuah jendela kaca besar yang mengarah langsung pada taman. Taman yang ditumbuhi berbagai jenis bunga itu terlihat sangat indah di mata lentiknya, hingga tanpa sadar senyum tipis tersungging di bibirnya. Dengan begitu, dia bisa melupakan sejenak semua masalahnya.
''Kenapa kau membuang makanannya?" Suara bariton seseorang menyapa indra pendengarnya.
Senyum yang sempat terlukis perlahan memudar akibat kedatangan pria yang tidak diinginkan.
''Aku tidak lapar," jawabnya datar.
''Bagaimana bisa tidak lapar? Dari kemarin perutmu belum terisi apapun. Kasihan janinku yang ada di dalam sana." Angelo berucap dengan menahan kesal.
Sekuat tenaga dia berusaha meredam emosinya agar gadis itu tidak berusaha untuk kabur lagi.
''Kau yang menginginkannya, bukan aku. Jadi, kau saja yang memberinya makan," sahut Fania acuh dengan pandangan masih tertuju ke arah yang sama.
''Seandainya bisa, sudah ‘ku suapi anakku sejak kemarin," batinnya mengeram kesal. Dia merutuki sikap keras kepala wanita itu.
''Kau calon ibu yang aneh? Aku ragu, kau ini wanita sungguhan atau wanita jadi-jadian," cibirnya.
Fania langsung menatap tajam pria yang berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
''Apa maksudmu berkata seperti itu?"
''Biasanya seorang ibu akan bahagia mengetahui kehamilannya. Dia mati-matian menjaga janin yang dikandungnya, selalu ingin terbaik. Tapi kau—" Angelo menggeleng tak percaya mendapati kenyataan ini.
''Kau justru berambisi membunuh makhluk tak berdosa itu. Dia tidak bisa memilih di rahim mana akan di tempatkan. Seandainya, dia bisa memilih, mungkin dia juga tidak sudi ditempatkan di rahimmu."
Air mata Fania mengalir begitu saja mendengar ungkapan pedas pria itu. Dia hanya bisa tersenyum getir.
''Kau tidak tahu apa saja yang ‘ku alami setelah kehadirannya. Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Kau tidak tau, bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang paling berharga dalam hidup. Jadi, diamlah mulutmu itu!" desis wanita itu penuh penekanan.
''Apa kau lupa? Jika aku lebih tua darimu. Jadi, jangan mengajariku tentang sakitnya kehilangan. Ingat! Aku sudah banyak makan garam* dibandingkan dirimu," berang Angelo dengan menunjuk wanita di depannya.
Dia berlalu dengan wajah memerah, bahkan membanting pintu hingga membuat Fania terkejut.
''Dasar pria aneh. Seharusnya, aku yang marah." gerutunya kesal.
...----------------...
''Dia berhasil membangkitkan kemarahanku. Tidak semestinya dia mengungkit tentang rasa kehilangan. Sampai mengatakan jika aku tidak tahu apapun tentang hal itu. Aku sangat paham tanpa dia mengatakannya. Untung, dia sedang membawa darah dagingku. Jika tidak, mungkin dia sudah habis di tanganku," jawab Angelo berapi-api.
Helaan nafas berat terdengar dari bibir pria baya itu. Sikap angkuh dan arrogant putranya kambuh.
''Kau tau, El. Mendiang ayahmu terkenal orang yang kasar tapi itu hanya berlaku pada para musuhnya dan lelaki. Aku tidak pernah melihat dia kasar terhadap wanita, terlebih pada wanita yang dicintainya, yaitu ibumu, bahkan dia pernah membiarkan musuh wanitanya lolos. Dia selalu berpegang teguh pada prinsipnya 'pria yang berani berbuat kasar pada wanita hanya seorang pengecut'. Jadi, ‘ku harap kau bisa meniru prinsip mendiang ayahmu."
Angelo memalingkan wajah ke arah lain. Disaat suasana hatinya sedang memburuk, nasehat itu terdengar sangat menyebalkan di telinganya.
''Seandainya, dia tidak mengandung benihmu. Apa kau benar-benar rela kehilangannya?" tanya Gustav berniat menggoda.
''Tentu saja," sahutnya cepat.
''Yakin?" godanya lagi.
__ADS_1
''Iya,'' jawabnya tegas.
''Maka tugasmu hanya menjaga wanita itu sampai dia melahirkan. Setelahnya, lepaskan dia! Biarkan dia bahagia bersama pria pilihannya. Kau hanya ingin anaknya saja, bukan?"
Angelo mengepalkan tangan kuat, hingga urat-uratnya tercetak jelas. Giginya bergemelutuk, sangat jelas jika dia tengah menahan lava pijar dalam tubuhnya. Gustav tersenyum tipis melihat semua itu, bidikannya tepat sasaran.
Bukan setahun dua tahun dia mengenal pria ini. Sejak kecil pria itu selalu bersamanya, bahkan turut membantu mengasuhnya. Disebabkan kesibukan orang tua Angelo. Ayahnya pengusaha kaya, sedangkan ibunya seorang aktris terkenal. Kedua orang tua Angelo jarang berada di rumah. Tak jarang mereka meminta bantuannya untuk menjaga putra semata wayang mereka karena hanya dia yang bisa dipercaya. Jadi, dia sangat memahami sisi luar dalam pria arrogant itu.
"Ingat pesanku baik-baik! Amarah adalah sumber kehancuran. Sebisa mungkin kendalikan emosimu, terlebih pada wanita yang kau cintai."
''Perlakukan dia dengan lemah lembut. Lambat lain, dia akan luluh. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan. Dan tugasmu membuatnya menerima."
Gustav menepuk pelan bahu putra angkatnya sebelum keluar dari ruangan luas itu. Selepas kepergian sang ayah, Angelo tampak merenung. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Tangannya merogoh laci meja untuk meraih benda persegi berukuran kecil. Dia menatap kartu identitas gadis itu, kartu yang sengaja dipungut ketika ia membawa ransel besarnya. Kemudian dia tampak mencatat alamat gadis itu.
''Aku ada tugas untukmu, keruanganku sekarang!" Perintahnya melalui sambungan telepon.
Tak menunggu lama, orang suruhannya menghadap depan penuh kesopanan.
''Cari alamat ini! Cari tau apa saja yang sudah terjadi pada gadis bernama Fania Larisa di lingkungan ini. Aku ingin hasil secepatnya, lakukan serapi mungkin agar tidak ada yang curiga."
''Siap laksanakan, Bos!''
''Sekalian cari tau juga tempat kerjanya. Lakukan hal yang sama di tempat itu, termasuk semua tempat yang dia datangi, paham!''
''Paham, Bos. Saya permisi—''
Angelo menggerakkan tangannya tanda mengusir orang itu.
...----------------...
(Sudah banyak makan garam: memiliki banyak pengalaman hidup).
__ADS_1