
Pada akhirnya serangkaian acara pernikahan pun selesai tepat pukul 15.30 waktu setempat. Setelah para tamu pulang, Emma beserta timnya segera membereskan segala pernak-pernik pernikahan yang lumayan banyak. Gadis itu merasa puas karena semua berjalan sesuai konsep yang disusun, meskipun tenaganya lumayan terkuras habis untuk menangani acara dadakan semegah ini.
Kini, dia mendudukkan tubuhnya di teras gedung acara setelah mobil yang membawa perlengkapan pergi. Usaha memang tidak mengkhianati hasil, dan itu terjadi untuk Emma. Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, serta tangan memijat pelan betisnya yang terasa sangat pegal.
''Dua hari yang melelahkan, sepertinya aku harus minta cuti nih," gumamnya.
Sebuah tangan kekar menyodorkan sebotol minuman dingin tepat di depan wajahnya. Emma mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan itu. Wanita itu mendengus kesal, lagi-lagi pria yang sama yang muncul di hadapannya, seolah di dunia ini kehabisan stok pria tampan.
''Untukmu, kamu pasti lelah, ‘kan?" Ramon berucap diiringi senyum manisnya.
Emma memaksakan senyum seraya menerima pemberian pria itu. Bukan karena apa, dia hanya berniat menghargai tidak lebih.
Gadis itu segera membuka penutup botol, lalu meminum minuman tersebut hingga tersisa separuh. Tak dapat dipungkiri tenggorokannya lumayan kering saat itu.
''Kamu gak pulang?"
''Nginep, Tuan. Ya pulanglah! Gitu aja masih nanya," sahut Emma ketus.
Dia sengaja bersikap seperti itu berharap jika pria itu akan merasa ilfeel, lalu menjauh darinya.
Ramon melipat mulutnya sepertinya dia salah bicara.
"Kalau begitu kamu pulang sama aku aja, gak baik cewek cantik berkeliaran sendiri malam-malam."
"Maaf, saya bawa mobil sendiri."
Setelah mengatakan itu, Emma segera beranjak dengan menyambar tasnya.. Sungguh, dia merasa muak dengan pria itu. Padahal pria tidak berbuat buruk padanya, tetapi entah kenapa Emma merasa tidak nyaman.
''Kalau begitu izinkan aku untuk mengikutimu dari belakang, Nona," teriak Ramon yang masih berada di tempatnya.
''What ever! Gue gak peduli," batinnya.
__ADS_1
Emma bukannya berhenti justru semakin mempercepat langkahnya untuk bisa sampai ke mobil. Dia harus segera pergi sebelum pria itu benar-benar mengikutinya.
''Dasar modus! Bilang aja pengen tau rumah gue. Mimpi! Lihat aja gue kerjain loe biar kapok."
Gadis itu segera menyalakan mesin mobil, lalu bergegas meninggalkan gedung itu.
...----------------...
Angelo tidak pernah mengalihkan sedikitpun pandangan dari wanita yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya. Entah kenapa Fania semakin lama dipandang tampak semakin menawan, meski hanya mengenakan bathrobe tanpa polesan make-up di wajahnya. Karena tidak tahan lagi, pria itu perlahan mendekat, lalu merengkuh tubuh mungil itu dari belakang.
"Bagaimana perasaanmu?"
Fania yang merasa terkejut hanya bisa mengusap dada pelan, lalu memukul pelan tangan yang melingkar pada perutnya.
''Bisa gak sih, gak ngagetin orang. Untung gak punya riwayat penyakit jantung."
Kekesalan tergambar jelas di wajahnya. Bibir bebeknya sangat menggemaskan di mata Angelo. Sungguh, ingin rasanya dia kembali melahap benda kenyal itu.
''Pertanyaanku belum dijawab. Bagaimana perasaanmu?" Angelo mengulangi pertanyaannya.
Seketika pria itu menatap lekat istrinya.
''Tapi ada sedikit kelegaan di sini," lanjutnya lagi dengan menyentuh area dada. "Setidaknya mereka akan lahir dengan status resmi.''
Senyum Angelo merekah sempurna saat merasakan gerakan kecil yang ada di dalam sana.
''Mereka bergerak"
Fania mengangguk disertai senyum manisnya. ''Kamu merasakannya?"
''Apa sakit?" Bukannya menjawab justru pria itu memberi pertanyaan balik.
__ADS_1
''No! Aku seperti merasakan guncangan kecil di sini. Dan itu sangat menyenangkan," jawab Fania dengan antusias.
''Kapan jadwal periksa?"
''Satu minggu lagi, kenapa?"
''Aku tidak akan melewatkannya."
Kedua sudut bibir Fania tertarik lebar. Ada perasaan bahagia ketika melihat antusiasme sang suami.
''Apa aku boleh meminta hakku?"
Fania mematung seketika. Jika boleh jujur, dia belum siap untuk mengulang malam itu. Akan tetapi, untuk menolak juga tidak mungkin. Dia seorang istri sudah menjadi kewajibannya untuk melayani suaminya.
''Apa boleh?" Angelo kembali bersuara ketika tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya.
Meski merasa ragu, Fania tetap menganggukkan kepala.
''Tap-tapi ... ini masih terlalu sore."
''Tidak masalah. Kalau kau ingin merasakan suasana malam, kita bisa mengulanginya lagi.''
Angelo yang sudah diselimuti kabut gairah, tentu tidak akan menangkap kegugupan sang istri, justru langsung membalikkan tubuh mungil itu, lalu memberikan serangan dengan brutal. Fania yang merasa kewalahan berusaha mengimbangi permainan suaminya. Lama-kelamaan terdengar rintihan pelan dari mulutnya akibat permainan panas itu.
Tubuhnya seakan melayang tak berpijak pada bumi. Angelo benar-benar pemain ulung. Dalam waktu singkat pria itu mampu membawanya mengarungi nirwana. Ruangan yang semula dingin karena pendingin ruangan mulai terasa panas karena kegiatan mereka. Entah sejak kapan, tetapi bathrobe yang dia kenakan terlempar entah kemana.
''Bersiaplah, Sayang...."
...----------------...
Eng ing eng ... Kena skip kan, kan, kan....
__ADS_1
I am sorry, Readers. Si Entun sensi banget sama hal-hal begituan. Bab kemarin aja kena tegur padahal isinya lurus-lurus aja. Masih untung dilolosin gak kena tolak. Jadi ... Kalian bayangkan sendiri aja ya apa yang bakalan dilakuin sama pengantin baru.
Ayo, dong ... kasih aku kembang, kopi atau hati. Jangan lupa bintangnya juga. Sumpah ini novel belakangan ini anyep mirip kuburan angker.