
"Lepaskan aku, Pria Gila! Tidak ada gunanya kau mengurungku di sini!"
''Lepaskan aku!"
Suara Fania menggema di ruangan sempit nan pengap itu. Sejak beberapa menit yang lalu wanita itu terus berteriak hingga mengganggu ketenangan seorang pria.
Jason yang tengah memikirkan cara untuk memancing kedatangan musuh hanya bisa berdecak kesal. Dia segera bangkit dari temaptnya untuk mendatangi asal suara.
Fania tersentak ketika mendengar bantingan pintu yang dibuka kasar. Alih-alih merasa takut justru wanita hamil itu melayangkan tatapan nyalang pada pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
''Lepaskan aku!''
Jason menyilangkan tangan dengan angkuh di hadapan tawanannya. Dia bahkan enggan menanggapi sepatah katapun.
''Apa kau mendadak tuli, Hah! Kau dengar, tidak? Aku bilang lepas, ya, lepas!"
Fania berusaha menggoyangkan tubuh yang terikat berharap tali yang membelit bisa sedikit melonggar. Namun sayang, meski sudah melakukan percobaan untuk kesekian kalinya, tali tersebut tidak melonggar sedikitpun. Justru tubuhnya semakin terasa sakit hingga menimbulkan bekas kemerahan di beberapa bagian.
''Wajahmu sangat pucat, Nona. Tapi kenapa kau masih bersikeras untuk melepaskan tali-tali itu. Dasar keras kepala!"
Fania tak menghiraukan cibiran pria itu. Dia masih fokus dengan kegiatannya untuk melepaskan belenggu tubuhnya. Tenaga yang semakin melemah sangat tidak menguntungkan usahanya. Tak dapat dipungkiri, selama beberapa hari terkurung di tempat itu, perut Fania belum terisi apapun, hanya beberapa teguk air putih yang berhasil masuk ke kerongkongannya. Itu semua disebabkan Fania selalu menolak, bahkan menampik makanan yang disodorkan.
''Beri tahu aku satu cara agar suamimu datang kemari."
Fania menghentikan usahanya, lalu mendongak menatap lekat pria yang menjulang di depannya. Sedetik kemudian, bibir mungil itu mengeluarkan tawa kecil yang berhasil membuat Jason kebingungan.
''Apa ada yang lucu? Sampai kau tertawa begitu."
''Sejak kemarin aku sudah memberitahumu. Tapi kau tetap tak mempercayaiku."
''Tidak usah berbelit-belit, Nona Fania! Katakan secepatnya!" Jason mencengkeram kuat kedua pipi Fania menggunakan satu tangannya.
Fania sampai harus mendesis menahan sakit, bahkan matanya pun tampak memerah akibat cengkeraman itu.
__ADS_1
''Manfaatkan kelemahannya," jawab Fania dengan suara tertahan.
Jason yang merasa marah pun menghempaskan kuat wajah itu.
''Aku sudah melakukannya, tapi tetap nihil!" teriaknya berapi-api, "dan itu kau!" Pria itu menunjuk tepat wajah Fania.
''Karena kau salah sasaran, Tuan! Bukan aku tapi hartanya."
Hati Fania bagai mendapat remasan tak kasat mata setelah mengatakan itu. Kaca-kaca bening tertampak jelas di matanya yang memerah.
''Bohong!"
''Buktikan! Jika kau tidak percaya," ujar Fania lirih.
Jason terdiam sejenak. Setelah dipikir ulang tidak ada salahnya mencoba. Pria itu segera merogoh ponsel yang ada di saku jaket, kemudian mendial nomor sang musuh tanpa mengalihkan pandangan dari wanita di depannya.
''Hallo!"
Fania mengalihkan pandangan saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Suara yang beberapa hari belakangan tidak menyapa indra pendengarannya.
Jason menyeringai sinis menatap Fania. Dia sengaja menyalakan fitur pengeras suara untuk membuktikan kebenaran ucapan Fania.
''Kau, Bedebah Sialan! Katakan! Di mana istriku?"
Teriakan kemarahan Angelo terdengar jelas di telinga Fania. Tak dapat dipungkiri, ada setitik kebahagiaan dalam hatinya saat mendengar kalimat itu. Seulas senyum tipis berhasil tersungging di bibir pucatnya.
"Dia ada di depanku. Jika kau menginginkannya, datanglah ke tempatku! Sebelum aku menghabisinya."
''Jangan sentuh dia! Atau kau akan tau akibatnya."
''Semua itu tidak akan terjadi kalau kau menuruti keinginanku, Tuan Angelo."
''Katakan!"
__ADS_1
"Serahkan semua asetmu padaku! Aku tunggu 2x24 jam, lebih dari itu nyawa anak istrimu melayang."
"Mimpi!"
TUT!
Panggilan pun diputus sepihak oleh Angelo.
Senyum yang sempat terlukis di bibir Fania perlahan memudar seiring dengan berakhirnya panggilan tersebut. Jawaban tegas sang suami telah menjawab semuanya sekaligus memperkuat keyakinannya, 'jika dirinya benar-benar tidak berharga di mata sang suami'.
Setetes air mata meluncur bebas ke pipi mulusnya. Sayatan hati yang ia kira akan sembuh justru semakin menganga bahkan bernanah. Dalam hati bertekad, Fania akan melarikan diri sejauh mungkin sampai Angelo tak akan bisa menemukan dirinya di manapun tempatnya meski ujung dunia sekalipun.
Dia juga akan mem-blacklist nama Angelo Nikki Hayden dari daftar pria yang masuk dalam hidupnya. Hatinya telah terkunci rapat untuk pria itu. Dia bahkan membuang kunci hatinya agar pria itu tidak ada lagi kesempatan untuk masuk.
''Apa maksudnya?"
''Sangat jelas! Kelemahan Angelo ada pada hartanya bukan aku."
''Sial! Waktuku terbuang sia-sia," umpat Jason.
Dia menggeram kesal karena tidak mempercayai ucapan wanita itu.
''Habisi aku!"
Jason mengalihkan perhatian ketika mendengar permintaan tawanannya. Meski ucapannya sangat lemah tetapi terdengar jelas di telinga. Dia menatap lekat ke arah Fania untuk memastikan jika wanita itu tidak main-main. Tak ada raut ketakutan sedikitpun dari wanita itu. Pandangannya kosong lurus ke depan sangat mirip seseorang yang tidak memiliki semangat hidup.
Ada sedikit rasa iba menelusup ke hati Jason. Dia sangat paham dengan apa yang dirasakan Fania. Namun, amarah kembali menarik paksa kesadarannya. Tatapan iba berubah menjadi tatapan penuh kebencian disertai seringai sinis di bibirnya.
''Dengan senang hati."
Jason merogoh senjata api yang terselip pada celana bagian samping, lalu mengacungkan benda itu tepat di kepala tawanannya, sedangkan Fania tak bergeming sedikitpun. Pandangannya masih kosong menatap mereka arah depan. Wanita itu benar-benar mantap dengan keputusannya.
''Bersiaplah, Nona!"
__ADS_1
DORR!!