My Blacklist Man

My Blacklist Man
Keresahan Angelo


__ADS_3

''Awshh, pelan, Fena. Lu niat gak sih ngobatin luka gue, kasar amat." Ferry mendesis pelan saat merasakan nyeri yang tak tertahankan pada luka lebam yang ada pada sudut bibirnya.


Fena dengan telaten mengompres luka itu menggunakan es batu, meski harus menabahkan hati mendengar omelan pemuda itu.


''Ini udah pelan, Ferry. Elunya aja yang cemen," cibir gadis itu.


''Aww, aduh, ssshh ... Elu niat gak sih, Fen. Berkali-kali gue bilang, ini sakit malah lu teken." Ferry menjerit kesakitan saat tanpa sengaja Fena menekan lukanya.


Karena merasa gemas mendengar kecerewetan kakaknya, Fena menekan kuat luka itu, sehingga membuat jeritan kakaknya terdengar sangat memilukan.


Ferry yang terlanjur kesal pun merebut alat kompres di tangan sang adik, lalu melakukannya sendiri.


''Dih, ngambek. Cowok kok ambekan pantes gak laku-laku."


''Astaga ribut lagi padahal kamar udah dipisah juga." Fania sudah berada di ambang pintu dengan tangan bersedekap.


''Kalian emang kebangetan," lanjutnya lagi.


''Salahin tuh si cowok cemen. Minta diobati tapi ngomel mulu." Fena bersungut-sungut menghentakkan kaki keluar kamar, sedangkan Ferry hanya mengacuhkan kemarahan adiknya.


''Eh, eh, mau kemana kamu?" tanya Fania ketika melihat adiknya memasuki kamar.


''Udah tau masuk kamar, ya tidurlah," sahut Fena.


''Makan dulu, udah waktunya makan siang. Kamu juga, Fer. Kak Ello sudah menunggu, ada adiknya juga. Ayo ... Gak enak buat mereka menunggu terlalu lama." Fania mengajak mereka yang langsung diangguki oleh keduanya.

__ADS_1


Ketika hampir mendekati meja makan, Fena dibuat terpaku ketika melihat sosok pria yang tampak asik memainkan ponselnya.


''Tuhan, seperti inikah malaikat? Fix, dia bukan manusia tapi malaikat yang sengaja turun ke bumi untuk menggetarkan hati gue," batinnya menatap kagum pria itu.


''Fena, ayo ... Malah bengong."


Teriakan Fania berhasil membuyarkan lamunan indah gadis itu. Dia segera menyusul, lalu memilih duduk tepat di samping pria incarannya.


''Hai," sapa Fena dengan mengulurkan tangannya.


Adrian yang mendengar suara seseorang pun mengalihkan pandangan sejenak, melirik sekilas uluran tangan itu, lalu kembali fokus pada layar ponselnya.


Fena menarik kembali tangannya saat tidak mendapat balasan. Jangankan untuk membalas, tersenyum pun terlihat enggan.


''Makanya gak usah ganjen," bisik Ferry.


Makan siang pun dimulai dengan keheningan di antara mereka, hanya dentingan suara sendok dan garpu yang beradu pada piring memenuhi ruangan itu.


...----------------...


''Apa yang mengganggu pikiranmu?" Angelo memeluk calon istrinya dari arah belakang saat wanita itu menikmati udara sejuk di tempat kesukaannya, taman bunga.


''Tidak ada."


Pria itu segera membalikkan tubuh Fania, lalu sedikit mengangkat dagunya agar tatapan mereka saling bertemu.

__ADS_1


''Aku tau kau menyembunyikan sesuatu. Katakan semua yang mengganjal di hatimu. Katakan semua yang membuatmu tidak nyaman."


Fania kembali pada posisi semula dengan pandangan lurus ke depan.


''Aku merasa tidak enak memboyong keluargaku kemari. Aku hanya orang asing. Aku baru beberapa hari berada di sini, bahkan belum genap satu bulan. Aku tidak ingin dianggap memanfaatkanmu."


Angelo tersenyum lembut mendengarnya. Dia paham yang dirasakan oleh wanita itu.


''Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang aku. Ayah Gustav bukan orang tua kandungku, tapi aku membiarkannya dan putranya tinggal disini. Dia juga orang asing, hanya saja dia sudah mengabdi pada keluargaku sejak aku kecil, bahkan dia yang mengasuhku."


''Lalu, orang tuamu?"


''Mereka sudah meninggal. Pada saat aku berusia 10 tahun. Mereka meninggal di hari yang sama." Angelo menatap sendu pada hamparan bunga warna-warni yang ada di depannya.


''Taman ini merupakan salah satu tempat kesukaan mamaku. Dulu, dia sangat menyukai bunga, hingga papaku membuatkan taman ini untuknya."


''Asal kau tau, Fania. Sudah lama aku merindukan sosok ibu dalam hidupku. Makanya aku berinisiatif merawat ibumu karena aku tau bagaimana sakitnya kehilangan seorang ibu. Dan aku tidak ingin kau merasakan apa yang kurasakan. Setelah melihat keluargamu, aku seperti menemukan hidupku yang baru. Aku seperti menemukan keluarga baru, keluarga impianku." Angelo segera menyeka setitik air mata yang mengenang di pelupuk matanya. Akan sangat memalukan jika calon istrinya mengetahui dirinya menangis.


''Apa karena itu kau terpuruk selama bertahun-tahun?" Pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut Fania.


Seketika Angelo menatap lekat wanita yang ada di sampingnya.


''Dari kau tau itu?"


''Ina menceritakan semuanya."

__ADS_1


Pria itu semakin terkejut mendengarnya. Hatinya dirundung keresahan takut jika Fania mengetahui tentang dendam masa lalunya. Dia takut jika Fania mengetahui semua keburukannya. Dia tidak ingin Fania tau akan hal itu, lalu pergi dari hidupnya. Dia tidak akan rela.


''Aku harus menemui Ina. Apa saja yang dia katakan tentangku pada Fania. Awas saja sampai dia membongkar semuanya?"


__ADS_2