My Blacklist Man

My Blacklist Man
Dilema Fania


__ADS_3

Fania bergerak gelisah di atas ranjang empuknya. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Namun, matanya enggan terpejam Dia memikirkan ucapan Bi Ina tadi siang dan keputusan yang tepat untuk pinangan pria yang baru diketahui namanya.


''Angelo Nikki Hayden,'' gumamnya tanpa sadar segaris senyum tipis terlukis di bibirnya.


Pikirannya mengembara pada pembicaraan siang tadi.


''Bu, pria itu tiba-tiba melamarku. Aku harus bagaimana?" Fania meminta saran ketika berjalan beriringan dengan wanita yang telah dianggap ibu.


Bi Ina tampak tersenyum lembut.


''Saya tidak bisa memberi solusi. Lebih baik tanyakan pada hati kecilmu. Perkataan hati tidak pernah salah, Fania. Karena dia tidak pernah berbohong."


Jawaban itu semakin menambah dilema yang dia rasakan. Fania terbungkam dengan mata tertuju pada hamparan bunga warna-warni di hadapannya. Tangannya terulur memetik setangkai mawar putih yang berada dalam jangkauan kemudian menghirup dalam bunga itu meresapi aromanya.


''Aku bingung, Bu. Pertemuan kita sebuah kesalahan. Dia menginginkan seseorang tapi bukan aku. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Lucu bukan? Aku tidak mengetahui nama pria yang telah meminangku. Bagaimana mungkin kita membangun sebuah bahtera tanpa ada ikatan cinta, terlebih hanya beberapa kali bertemu."


''Aku takut, dia menikahiku hanya karena anak ini," sambung gadis itu dengan mengusap perutnya.


''Fania, apa kau pernah mendengar sebuah ungkapan? Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu."


Gadis itu mengangguk pelan.


''Apa kau percaya jika ungkapan itu bisa menjadi kenyataan?"


Dia mengangguk lagi, meski sedikit ragu.


''Angelo Nikki Hayden, itulah namanya. Lantas, kenapa kau meragukan niat baik Tuan Ello?" Bi Ina menatap lekat wanita itu.


Fania terdiam mencoba mencerna baik-baik ucapan wanita baya itu.


''Mungkin kau masih menganggapnya buruk. Tapi percayalah! Tuan tidak seburuk itu. Dia pernah mengalami kepahitan lebih dari yang kau alami diusianya yang masih sangat belia. Puluhan tahun aku mengabdi pada keluarga ini. Aku mengetahui semua yang terjadi. Dan aku hanya bisa kasihan pada tuanku yang setiap harinya bergelut dengan keterpurukan. Dia harus menanggung beban itu selama puluhan tahun. Sehingga memilih melajang diusianya yang sudah kepala empat ini."

__ADS_1


''Tapi, setelah dia bertemu denganmu. Aku bisa melihat kembali pancaran kebahagiaan yang telah lama terenggut dari hidupnya. Aku sering melihatnya tersenyum sendiri. Kau sudah berhasil mengembalikan senyum tuanku, Fania," pungkas wanita baya itu.


''Semua keputusan ada ditanganmu, aku tidak berhak memaksa. Hanya satu pesanku, pikirkan nasib makhluk mungil yang sedang tumbuh di rahimmu, meski kau tidak mengharapkannya. Bagaimanapun juga kau seorang ibu. Bayangkan jika kau ada di posisinya, ibumu sendiri dengan tega membuangmu. Bagaimana perasaanmu?"


Perkataan Bi Ina seakan menampar keras dirinya. Pembelaan ibunya beberapa waktu lalu melintas begitu saja dalam ingatannya. Tanpa terasa setitik air menetes di pipinya.


''Maaf, kita kemari untuk membuatmu senang, bukan untuk bersedih. Jika tuan mengetahui ini, aku bisa kena masalah. Di sana ada banyak jenis bunga yang indah, kau harus melihatnya," ajak Bi Ini seraya menaggandeng tangannya untuk mengalihkan perhatian.


Gadis itu mengangguk, lalu mengikuti langkah wanita itu.


...----------------...


''Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa saja yang sudah kau alami sampai menderita hingga puluhan tahun lamanya?"


Fania menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur. Banyak pertanyaan yang berhasil membuatnya penasaran.


Dia juga sempat menanyakan hal itu pada Bi Ina. Namun, wanita itu mengatakan jika itu bukan ranahnya untuk menjelaskan, justru menyarankan agar bertanya langsung pada tuannya.


Tangannya pun terulur menyentuh perutnya. Di dalam sana ada seonggok makhluk yang berusaha keras ia lenyapkan, dan hanya dia yang menginginkan itu terjadi, sedangkan orang-orang di sekitarnya menginginkan bayi ini tetap hidup.


''Apa aku ibu yang kejam?" tanyanya pada diri sendiri.


Rasa bersalah tiba-tiba menelusup dalam hatinya. Dia teringat akan kasih sayang ibunya selama ini. Asih sosok yang lemah lembut dan tegas. Dia bagaikan sosok malaikat dalam hidup putra-putrinya. Wanita itu jarang sekali menyakiti anak-anaknya baik secara fisik maupun mental. Jika anak-anaknya salah, dia akan menegur dengan nada tegas. Dan tamparan keras yang ia terima kemarin adalah tamparan pertama dalam hidupnya dari sang ibu. Asih sangat kecewa dengan pikirannya yang dangkal.


''Maafkan aku ... Aku ibu yang buruk. Karena keegoisanku, kau hampir celaka. Aku janji, mulai sekarang ... Aku akan menjagamu. Maafkan ibu." Dia bermonolog dengan janin yang ada di perutnya. Matanya pun tampak berkaca-kaca.


''Ini sudah malam sebaiknya kita tidur. Aku harus memberi jawaban untuk ayahmu esok hari."


Fania kembali merebahkan tubuhnya. Dia mematikan lampu kamar bersiap berkelana ke alam mimpi.


...----------------...

__ADS_1


Di sebuah ruangan temaram, Angelo tampak memasang wajah serius menyimak rentetan laporan dari salah satu anak buahnya. Tangannya mengepal geram saat mengetahui wanita yang diam-diam bertahta dalam hatinya diperlakukan secara tidak adil.


Seandainya, dia dipertemukan lebih awal dengan Fania. Dia akan membungkam rapat-rapat mulut mereka. Fania bukan wanita seperti mereka tuduhkan. Dia yang mengambil kesuciannya.


''Jadi, ada provokator di balik pengusiran itu?" tanya Angelo dengan sorot menajam ke depan.


''Benar, Tuan. Dia bernama Yunita tetangga dekat Nona Fania yang sejak lama tidak menyukai keluarga Nona Fania.''


''Hmmm, memanfaatkan keadaan rupanya. Lalu, bagaimana keadaan keluarganya?"


''Mereka dikucilkan, Tuan. Metal ibunya terguncang memikirkan nasib nona, bahkan kedua adik kembarnya terpaksa bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya pengobatan ibu mereka."


''Apa mereka sudah tidak punya ayah?" tanya Angelo seolah menginterogasi terdakwa dalam pengadilan.


''Ada, Tuan. Dia seorang pengangguran. Tapi, dia jarang pulang lebih banyak menghabiskan waktu di luar untuk judi dan mabuk-mabukan. Ayahnya juga turut serta dalam pengusiran nona waktu itu."


Pria itu manggut-manggut mendengar semua penjelasan itu. Dia berencana untuk membalas mereka semua.


''Apa ada lagi?"


''Ya, Tuan."


Pria berbaju hitam itu juga melaporkan mengenai tuduhan kekasih Fania dan temuannya yang ada di tempat kerja gadis itu secara terperinci.


''Aku puas dengan hasil kerjamu. Aku sudah mengirim gajimu. Sekarang, kau boleh pergi."


''Baik, Tuan. Pemisi....''


Pria itu tersenyum senang melihat deretan angka yang masuk ke akun mobile banking-nya, bahkan berulang kali mengucapkan terima kasih. Dia tidak menyangka akan mendapat bonus sebesar itu hanya untuk pekerjaan sepele.


Selepas kepergian orang suruhannya, Angelo menyandarkan tubuhnya pada kursi putarnya. Dia tidak menyangka jika gadis pujaannya melalui serangkaian peristiwa menyakitkan seorang diri.

__ADS_1


''Pantas dia sangat berambisi membunuh janinnya. Aku kira alasannya hanya karena tidak bisa menerima kenyataan."


__ADS_2