My Blacklist Man

My Blacklist Man
Persiapan


__ADS_3

''Emma ... Emma ... Sini kamu! Gawat darurat!"


Seorang wanita berpenampilan glamour tergesa-gesa menuruni anak tangga diiringi lengkingan emas yang menggema ke seluruh ruangan. Wajahnya tampak panik dengan tangan menggenggam ponsel.


''Aduh ... Di mana sih ini anak?"


''Hei, kalian lihat Emma, tidak?'' tanyanya pada pegawai lainnya.


''Tidak, Nona."


''Huh, kemana itu anak? Gak tahu keadaan genting apa?" Siska melanjutkan langkahnya dengan mulut berkomat-kamit layaknya mbah dukun yang tengah membaca mantra. Dia bergegas mencari ke tempat lain.


Dari arah berlawanan, seorang gadis berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang owner. Dia yang sedang makan siang bersama teman-temannya tiba-tiba dikejutkan dengan telepon dari teman yang lain jika si pemilik WO tengah kalang kabut mencari dirinya.


''Saya, Nona. Ada apa?" Emma terlihat mengatur nafasnya ketika berada di depan atasannya.


''Kamu ini dari mana saja? Dari tadi saya nyariin."


''Maaf, Nona saya masih makan siang.''


''Saya gak peduli! Segera siapkan tim! Tuan Angelo mempercepat pernikahannya."


Mata Emma membelalak sempurna.


''Apa?! Kok mendadak. Bukannya kemarin diundur?"


Berita pengunduran beberapa waktu lalu, membuat ia dan timnya sedikit bersantai karena pengunduran berjarak sekitar satu bulanan. Dan kini, ketika semuanya belum siap tiba-tiba ada percepatan waktu.


''Kenapa reaksimu seperti itu? Jangan bilang persiapan kalian belum matang."


Emma nyergir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dia sudah menyiapkan mental untuk mendapat siraman rohani dari wanita itu.


''Astaga, Emma ... Selama ini kalian ngapain? Saya gak mau tau, turuti keinginan klien. Saya gak mau sampai kejadian Fania terulang kembali. Saya gak mau rugi lagi, titik!"


''Lakukan sekarang atau nasibmu sama seperti Fania!" Wanita berpenampilan seksi nan glamour itu berlalu dengan memendam kekesalan, bahkan gerutuan pelan masih terdengar di telinga Emma, meski si empunya sudah menjauh.


Selepas kepergian sang atasan, Emma menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Mempunyai atasan titisan Ratu Ular seperti Nona Siska memang harus menebalkan kesabaran.


''Semangat, Em! Kita kerja rodi," ungkapnya menyemangati diri sendiri.


Dia segera menghubungi jajaran timnya untuk segera menuju tempat yang akan mereka eksekusi.

__ADS_1


...----------------...


Emma mondar-mandir kesana kemari dengan mulut tak pernah berhenti berceloteh untuk memberi instruksi pada para timnya. Dia sendiri juga sibuk dengan telepon yang selalu menempel di telinga. Sungguh, situasi terlihat amat kacau yang membuat siapapun yang melihat akan merasa pening seketika.


''Kak Ema, ini nama pasangan pengantinnya siapa?" Seorang wanita yang bertugas mendekorasi pelaminan berteriak dari atas tangga.


''Aduh ... Kamu itu. Tadi bukannya udah kukasih tahu pakai inisial aja 'E&F' sesuai permintaan klien. Lanjutkan dekor! Aku mau lihat bagian depan, gak usah teriak-teriak lagi. Pusing aku!"


Emma segera berlalu ke bagian dekorasi pintu masuk. Dia juga tampak sibuk memberi pengarahan dengan sesekali membantu.


"Bagaimana persiapannya, Nona Emma?" Suara bass seorang pria berhasil mengejutkan Emma yang masih sibuk dengan kegiatannya.


''Eh, Tuan Ramon ... Kalang kabut, Tuan, karena dadakan. Seandainya, pemberitahuan agak jauh-jauh hari mungkin akan lebih maksimal. Tapi kita akan berusaha keras untuk memuaskan klien."


Ramon mengulum senyum, jika boleh jujur. Dia salut dengan wanita ini. Bukan hal mudah mempersiapkan acara megah dalam waktu singkat. Namun, wanita ini terlihat sangat optimis.


''Maaf, itu diluar kehendak saya. Keputusan tuan sangat mendadak. Bukan hanya Anda, saya juga terkejut. Dia meminta acara sesuai yang sudah disepakati."


Emma hanya mengangguk tanpa memberi tanggapan sepatah katapun. Seandainya, dia mempunyai keberanian ingin rasanya dia mengusir pria ini. Pekerjaannya masih sangat banyak, tetapi pria ini terus saja mengajaknya bicara. Namun itu hanya pengandaian, dirinya tidak akan seberani itu.


''Maaf, Tuan. Saya tinggal dulu pekerjaan saya masih banyak.''


''Emm, Nona Emma."


''Apa boleh saya membantu? Kebetulan saya sedang senggang."


Emma tampak berfikir sejenak, kemudian berkata, "Tapi saya tidak punya cukup uang untuk menggaji Anda, kecuali gratis. Silahkan!"


''Oh, itu tidak usah dipikirkan. Saya hanya ingin membantu bukan bekerja dengan Anda."


''Terserah!"


''Guys, kita dapat satu tambahan tenaga. Kalian bisa manfaatkan pria kekar ini," teriak wanita itu memberitahu teman-temannya.


''Oke, Kak Em," jawab mereka serempak.


Ramon yang yang mendengar itupun hanya bisa menggeleng pelan sembari menahan senyum.


...----------------...


''Ibu, besok Fania mau menikah," ucap Fania sambil menyisir rambut ibunya.

__ADS_1


Asih yang semula menatap lurus ke depan, langsung mengalihkan pandangan dengan tatapan datar. Wanita paruh baya itu menatap lekat putrinya.


Fania menyunggingkan senyum manisnya, lalu berjongkok di depan ibunya.


''Apa ibu akan merestui? Ini bukan keputusan aku, murni keputusan mutlak darinya.''


''Dia baik, dia bisa jaga kamu."


Tanggapan yang keluar dari mulut Asih, cukup menjadi jawaban bagi Fania. Kini, restu sang ibu sudah didapat dia tidak perlu merasa ragu untuk melangkah. Baginya restu orang tua adalah segalanya.


''Terima kasih, Bu." Fania langsung menghambur memeluk wanita paruh baya itu.


Dia yakin, meskipun ibunya dalam keadaan seperti ini, Asih masih bisa memahami dan menangkap setiap ucapannya.


''Percayalah! Dia baik. Dia baik."


''Iya, Bu, iya ... Fania percaya. Setelah menikah nanti ibu harus semangat untuk kembali lagi seperti dulu ya. Fania akan selalu bersama ibu.''


Asih mengangguk penuh antusias saat mendengar kalimat 'akan selalu bersama ibu'. Air mata pun turut membanjiri pipi cekungnya. Tak dapat dipungkiri, depresi membuat berat badan Asih turun drastis. Tubuh wanita paruh baya terlihat sangat kurus, bahkan bisa diumpamakan hanya tulang berbalut kulit.


''Bapakmu."


Fania menatap lekat ibunya. Dia lumayan terkejut saat mendengar ibunya tiba-tiba menyebut ayahnya yang tidak diketahui keberadaannya.


''Ibu jangan berpikir yang berat-berat dulu! Sebaiknya, ibu istirahat sudah waktunya tidur siang." Wanita itu merebahkan tubuh ibunya ke tempat tidur tanpa lupa menyelimutinya.


Saat berniat keluar, langkahnya terpaksa berhenti saat sebuah tangan menahan lengannya.


''Bapakmu."


Fania menghembuskan nafas pelan, Asih akan terus mendesak jika tidak segera diberi jawaban.


''Fania akan meminta orang untuk mencarinya, tapi ibu harus tidur, ya...." Dengan penuh kesabaran wanita hamil itu berusaha membujuk ibunya, meski harus berdusta.


Asih mengangguk penuh antusias mirip anak kecil yang dijanjikan akan diajak ke sebuah taman bermain. Wanita paruh baya itu segera memejamkan matanya.


''Maafkan kebohongan Fania, Bu. Fania paham, ibu ingin yang menikahkan Fania adalah bapak. Tapi itu tidak mungkin terjadi," batinnya dengan menatap sendu wajah lelap sang ibu.


Tak ingin larut dalam kubangan rasa bersalah, Fania memilih keluar kamar. Namun, ketika sampai ke di depan pintu dia melihat calon suaminya sudah berdiri tegap dengan menyilangkan tangan di dada.


''Kamu ngapain di sini?"

__ADS_1


''Apa kau ingin aku mengutus orang untuk mencari ayahmu?"


''Tidak perlu! Waktu kita mepet daripada membuang waktu untuk hal yang sia-sia, lebih baik fokus untuk acara besok," jawab Fania ketus sembari berlalu begitu saja.


__ADS_2